Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Anak Sering Menangis Tanpa Sebab, Berikut Penanganannya

Anak Sering Menangis Tanpa Sebab, Berikut Penanganannya Ilustrasi anak menangis. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/ Happy Together

Merdeka.com - Anak adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai orang tua. Saat usia anak 4-6 tahun adalah masa di mana anak masih menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga ia merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari lingkungan yang ada. Maka dari itu orang tua haruslah berhati-hati dalam memberikan contoh kepada anak dari situlah anak akan menirukannya.

Sebab, orang tua adalah tempat pertama dalam kehidupan anak sebagai tempat ia belajar menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak terlibat dalam hubungan interaksi. Segala sesuatu yang dibuat keluarganya dapat mempengaruhi anak begitu pun sebaliknya.

Salah satu masalah yang kerap dihadapi para orang tua saat membimbing anak-anaknya adalah menghadapi perilaku tantrum yakni ledakan amarah yang terjadi pada usia 18 bulan sampai 6 tahun. Saat tantrum biasanya anak akan berbaring di lantai, kaki menendang-nendang, tangisan kecil protes dan menangis dengan nada tinggi.

Lebih jauh berikut ini cara mengatasi anak sering menangis tanpa sebab telah dirangkum merdeka.com melalui liputan6.com dan media.neliti.com.

Tahap Perkembangan Anak

anak

Ilustrasi pertumbuhan anak ©Shutterstock

Tahap perkembangan anak berdasarkan usia adalah sebagai berikut:

1. Periode prenatal yaitu masa perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu (mulai dari pembuahan hingga kelahiran) ± 270 – 280/ 9 bulan.2. Masa bayi, yang terbagi atas :

  • Masa neonatal (0 – 2 minggu )
  • Masa bayi (2 minggu – 2 tahun )
  • 3. Masa kanak – kanak

  • Masa prasekolah 2 - 6 tahun
  • Masa sekolah dasar 6 – 12 tahun
  • Perkembangan Emosi pada Anak

    Emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna efektif. Yang dimaksud dengan warna efektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu contohnya: gembira, bahagia, takut dan lain-lain.

    Ada beberapa contoh pengaruh emosi terhadap perilaku individu di antaranya adalah:

  • Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai.
  • Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi).
  • Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara.
  • Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
  • Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecil yang akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
  • Cara Menangani Anak yang Sering Menangis

     ilustrasi anak menangis

    Ilustrasi anak menangis ©Shutterstock.com/ pavla

    1. Ibu harus tetap tenang. Jika ibu merasa emosi sebaiknya menjauh terlebih dahulu. Pastikan saat bicara dengan anak sudah dalam keadaan tenang agar kata-kata yang keluar tidak membuat anak mengalami trauma di kemudian hari.
    2. Berkaitan dengan kata-kata yang diucapkan oleh ibu kepada anak pastikan tidak menghakimi perilaku anak seperti " cuma bayi yang masih menangis" atau "berhenti menangis".
    3. Bantu anak untuk belajar mengendalikan emosinya dengan baik.
    4. Menerapkan jadwal teratur pada anak baik waktu istirahat, waktu makan maupun bermain agar emosi anak terjaga dengan baik.
    5. Penerimaan diri yang kuat jika posisi kita menjadi orang tua tetap harus memberi contoh sebaik mungkin kepada anak dan menjelaskan situasi apa pun secara pelan-pelan.

    (mdk/nof)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP