Ajarkan Kebaikan, Cigawiran Jadi Tembang Sunda untuk Sebarkan Agama Islam Khas Pesantren di Garut

Cigawiran digunakan oleh ulama di Kabupaten Garut untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu agama kepada para santrinya.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Ajarkan Kebaikan, Cigawiran Jadi Tembang Sunda untuk Sebarkan Agama Islam Khas Pesantren di Garut
Ajarkan Kebaikan, Cigawiran Jadi Tembang Sunda untuk Sebarkan Agama Islam Khas Pesantren di Garut (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Jejak kebudayaan Islam yang kuat di Garut salah satunya bisa dilihat dari kesenian cigawiran. Tradisi ini berkembang di lingkungan pesantren wilayah Selaawi, dan masih dipertahankan hingga saat ini.

Cigawiran terbilang unik, lantaran disebut tembang Sunda, namun dengan tema seputar agama Islam.

Di masa silam, cigawiran digunakan oleh ulama di Kabupaten Garut untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu agama kepada para santrinya. Yuk simak informasi selengkapnya.

Mengutip dari disparbud Garut, cigawiran merupakan tetembangan atau nyanyian yang dibawakan oleh seorang tokoh pesantren di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Istilah cigawiran berasal dari nama desa yakni Cigawir, Kecamataan Selaawi , tempat kesenian ini pertama kali dikenalkan.

Konon cigawiran ini sudah ada sejak tahun 1823, dan dilantunkan oleh pendiri pondok pesantren bernama Raden Haji Jalari.

Gemar mengarang tetembangan
Dok. Istimewa

Disebutkan jika Raden Haji Jalari ini gemar menciptakan tetembangan, namun dengan tema-tema keislaman.

Liriknya ia dapat dari guru-guru yang sudah ia temui selama menjelajah pesantren.

Rade Haji Jalari sendiri memang banyak menjelajahi pondok pesantren sampai ke Jawa Timur pada awal abad ke-19.

Hal ini dilakukan untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Selain seputar ajaran kebaikan, cigawiran yang dibawakan oleh Raden Haji Jalari juga  menceritakan tentang keindahan alam.

Cigawiran kebanyakan memakai tema agama Islam, sesuai kebiasaan Raden Haji Jalari saat itu.

Pesan-pesan tersebut berupa ajakan untuk melaksanakan salat lima waktu, saling berbuat baik dan berbagi terhadap sesama serta tidak memaksakan kehendak.

Adapun silsilah cigawiran pertama dikenalkan oleh Raden Haji Jalari sampai tahun 1902, kemudian dilanjut oleh Raden Haji Abdullah Usman sampai 1945, lalu Raden Mohammad Isya sampai 1980 dan kini dilestarikan oleh Raden Iyet Dimyati.

Bisa digunakan untuk melamar seseorang
Dok. Istimewa

Sampai sekarang, cigawiran masih digunakan oleh ulama-ulama di wilayah Cigawir, Selaawi sampai Limbangan, termasuk digunakan oleh penerus terakhir saat ini Raden Iyet Dimyati.

Versi Dimyati, cigawiran berfungsi untuk menyampaikan petuah-petuah Islami, ceramah keagamaan serta pengiring lamaran seseorang sebagai lantunan doa.

Yang membedakan cigawiran dengan tembang Sunda lainnya adalah tidak digunakannya lantunan alat musik apapun.

Rekomendasi