6 Fakta Waduk Jatiluhur, Dam Raksasa Peninggalan PM Terakhir Indonesia
Merdeka.com - Waduk Jatiluhur merupakan satu dari sekian waduk yang berpengaruh di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat dan sebagian besar DKI Jakarta.
Dalam istilah yang dikeluarkan oleh pu.go.id, fungsi waduk sendiri adalah sebuah bangunan penampungan yang dipersiapkan untuk mengatur sumber air dan bisa digunakan pada waktu tertentu.
Hal tersebut sesuai dengan fungsi awal dari pendirian Waduk Jatiluhur yang diinisiasikan oleh Pemerintah Indonesia untuk memenuhi tingginya kebutuhan pasokan air yang kian meningkat. Hal ini seiring bertumbuhnya angka kebutuhan pangan, listrik dan industri pasca perang dunia ke II seperti yang dilansir dari purwakartakab.go.id.
Gagasan Awal Bendungan Jatiluhur di Abad ke 19

Proses pembangunan Waduk Jatiluhur - jatiluhuronline.com ©2020 Merdeka.com
Dalam sejarahnya, pembangunan Waduk Jatiluhur sebenarnya sudah tergagas sejak abad ke 19. Tepatnya sekitar tahun 1888 oleh para ahli pengairan dari Hindia Belanda dengan melakukan survey awal topografi, hidrologi dan pengukuran debit Sungai Citarum.
Selanjutnya di tahun 1930-an gagasan tersebut disempurnakan oleh seorang ahli pengairan Belanda bernama Prof. Dr. Ir. W.J. van Blommestein, hingga dipresentasikan pada pertemuan tahunan Persatuan Insinyur Kerajaan Belanda (Koninklijk Instituut van Ingenieurs atau KIVI) di Jakarta dengan judul “Een Federaal Welvaartsplan voor het Westelijk Gedeelte van Java” pada 18 Desember 1948.
Hadiah Kepada Perdana Menteri Terakhir Indonesia

Ir Djuanda Kartawidjaja/wikipedia.org
Waduk Jatiluhur sendiri merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia yang mulai dibangun pada 1957. Pembangunannya dilakukan oleh perusahaan konstruksi asal Perancis bernama Compagnie française d'entreprise, dengan potensi air yang tertampung sebesar 12,9 miliar m3 / tahun.
Yang menarik dari proses pembangunan waduk tersebut adalah merupakan sebuah kenang-kenangan Pemerintah Indonesia atas jasa yang dilakukan oleh Perdana Menteri terakhir Ir. H. R. Djoeanda Kartawidjaja, atau yang biasa kita kenal sebagai Ir Djuanda.
Saat itu Ir Djuanda dan Ir Sedijatmo gigih memperjuangkan pembangunan waduk terbesar di Indonesia itu di Forum Internasional. Selama proses pembangunan waduk tersebut belum diberi nama Jatiluhur, melainkan menggunakan penamaan “Jatiluhur Multipurpose Project”, dengan beragam fungsi yang akan dihasilkan.
Ketika memasuki tahap finishing, Jatiluhur Multipurpose Project berganti nama menjadi Bendungan serta Pembangkit Listrik Juanda.
Mengorbankan 14 Desa Berpenduduk 5.002 Orang

Kawasan Sungai Citarum ©REUTERS/Darren Whiteside
Saat proses pembangunan, Kontraktor asal Perancis, Coyne et Bellier berupaya membendung Sungai Citarum dengan luas daerah aliran sungai hampir mencapai 4.500 kilometer persegi.
Proses penggenangan air tersebut harus mengorbankan 14 desa yang tersebar di kawasan Jatiluhur dan sekitarnya. Serta memindahkan masyarakatnya ke sebagian wilayah Kabupaten Karawang.
Sumber Pengairan dan Energi di Jawa Barat dan Jakarta
Waduk Jatiluhur sendiri memiliki daya tampung sebesar 3 miliar meter kubik (M3), atau hampir tiga kali lipat dari Waduk Jatigede yang telah beroprasi sejak 2015 lalu. Dengan kapasitas yang begitu melimpah, Jatiluhur bisa membantu mengairi sebanyak 242.000 ha sawah dengan dua kali masa tanam per tahun.
Jawa Barat dan sebagian wilayah Jakarta merupakan jalur utama dari pengairan Waduk Jatiluhur. Sasaran utama yaitu sebagai air baku minum, budi daya perikanan dan pengendali banjir di bawah kendali Perum Jasa Trita II.
Selain itu waduk tersebut juga memiliki 6 unit turbin yang difungsikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang mampu dengan kapasitas produksi187 MW atau rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun.
Memiliki Mitos Ki Jawer yang Kuat
Seperti yang terlansir dari nativeindonesia.com, selain sebagai mahakarya yang luar biasa, waduk yang terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta tersebut juga memiliki mitos yang berkembang sejak lama, yaitu mitos ki Jawer.
Menurut kepercayaan warga setempat, Ki Jawer merupakan seorang bayi yang dihanyutkan di sungai serta diasuh oleh bangsa Jin hingga berusia lanjut dan mendiami kawasan tersebut.
Menurut mitos, Ki Jawer sewaktu waktu bisa muncul dengan menenggelamkan siapa pun yang tidak menaati pantangan yang berkembang di sana. Sehingga warga setempat lebih memilih jalur darat dari pada jalur sungai.
Dijadikan Sebagai Tempat Wisata

Waduk Jatiluhur ©2020 Merdeka.com/bram salam
Saat ini Waduk Jatiluhur telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai destinasi wisata yang banyak dikunjungi saat akhir pekan tiba. Beberapa fasilitas pun tersedia untuk memanjakan pengunjung.
Di sana terdapat hotel dan bungalow, bar dan restaurant, lapangan tenis, bilyard, perkemahan, kolam renang dengan water slide, ruang pertemuan, sarana rekreasi dan olahraga air, playground dan fasilitas lainnya.
Terdapat juga beragam wahana permainan air seperti mendayung, selancar angin, kapal pesiar, ski air, hingga boating. Untuk harga tiketnya sendiri wisata Waduk Jatiluhur mematok biaya sebesar Rp 5000 rupiah untuk Weekdays dan Rp 20.000 untuk weekend.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya