Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

30 Maret 1853: Lahirnya Pelukis Vincent van Gogh, Begini Kisah Hidupnya

30 Maret 1853: Lahirnya Pelukis Vincent van Gogh, Begini Kisah Hidupnya Lahirnya Vincent van Gogh dan Kisah Hidupnya. abc.net.au

Merdeka.com - Dari deretan pelukis dunia yang terkenal, nama Vincent van Gogh tentu tak bisa dilupakan begitu saja. Anda mungkin sudah tak asing dengan sebuah lukisan berjudul “The Starry Night”. Jika Anda merasa asing dengan nama tersebut, mungkin Anda akan lebih mengenalinya ketika melihat lukisannya.

Lukisan terkenal “The Starry Night” ini hanyalah satu dari ratusan hingga ribuan karya dari pelukis jenius asal Belanda tersebut. Vincent van Gogh adalah pelukis pasca-Impresionis yang karyanya terkenal karena keindahan, emosi, dan warnanya.

Sayangnya, kepopuleran karya yang dia buat tidak berbanding lurus dengan kondisi hidupnya. Sang pelukis berjuang dengan penyakit mentalnya dan tetap dalam kondisinya yang miskin. Bahkan dirinya hampir tidak dikenal sepanjang hidupnya.

Keluarga

Melansir dari biography.com, Vincent van Gogh lahir pada 30 Maret 1853 di Groot-Zundert, Belanda. Ayah van Gogh, Theodorus van Gogh, adalah seorang menteri negara yang keras, dan ibunya, Anna Cornelia Carbentus, adalah seorang seniman pemurung, yang kecintaannya pada alam, menggambar, dan cat air dipindahkan ke putranya.

Van Gogh lahir tepat satu tahun setelah putra pertama orang tuanya, yang juga bernama Vincent, mati begitu dirinya lahir. Di usia yang masih muda, van Gogh adalah orang yang melankolis.

Menjadi anak tertua dari enam bersaudara, van Gogh memiliki dua adik laki-laki (Theo, yang bekerja sebagai pedagang seni, dan Cor) dan tiga adik perempuan (Anna, Elizabeth dan Willemien).

Gangguan Jiwa

Pada usia 15 tahun, keluarga van Gogh sedang berjuang secara finansial, dan dia terpaksa meninggalkan sekolah dan pergi bekerja. Dia mendapat pekerjaan di dealer seni Paman Cornelis, Goupil & Cie., sebuah firma dealer seni di Den Haag. Pada masa itu, van Gogh sudah fasih berbahasa Prancis, Jerman, dan Inggris, serta bahasa Belanda asalnya.

Pada Juni 1873, van Gogh dipindahkan ke Galeri Groupil di London. Di sana, ia jatuh cinta dengan budaya Inggris. Dia juga jatuh cinta dengan putri induk semangnya, Eugenie Loyer. Namun ketika lamaran pernikahannya ditolak, van Gogh mengalami gangguan jiwa.

Dia membuang semua bukunya kecuali Alkitab, dan mengabdikan hidupnya untuk Tuhan. Dia jadi mudah marah dengan orang-orang di tempat kerja, memberi tahu pelanggan untuk tidak membeli "seni yang tidak berharga", dan akhirnya dipecat.

Dirinya kemudian mencoba untuk menjadi seorang pendeta, namun dirinya tetap gagal dan harus mencari pekerjaan lainnya.

Penghiburan dalam Seni

night karya vincent van gogh

© Wikimedia Commons

Pada musim gugur tahun 1880, van Gogh memutuskan untuk pindah ke Brussel dan menjadi seorang seniman. Meskipun dia tidak memiliki pelatihan seni formal, saudaranya Theo menawarkan untuk mendukung van Gogh secara finansial.

Dia mulai belajar sendiri, membaca buku-buku seperti Travaux des champs karangan Jean-François Millet dan Cours de dessin karya Charles Bargue.

Hobi seninya membantu van Gogh tetap seimbang secara emosional. Pada 1885, dia mulai mengerjakan apa yang dianggap sebagai mahakarya pertamanya, "Potato Eaters". Theo, yang saat itu tinggal di Paris, percaya lukisan itu tidak akan diterima dengan baik di ibu kota Prancis, di mana impresionisme adalah tren yang berkembang di sana.

Meski demikian, van Gogh memutuskan untuk pindah ke Paris. Di Paris, van Gogh pertama kali melihat seni impresionis, dan dia terinspirasi oleh warna dan cahaya. Dia mulai belajar dengan Henri de Toulouse-Lautrec, Camille Pissarro dan lainnya.

Telinga van Gogh

Pada Desember 1888, van Gogh mulai merasa mual dan aneh. Ternyata selain menderita penyakit fisik, kesehatan psikologisnya pun menurun. Sekitar waktu-waktu tersebut, dia diketahui telah menghirup terpentin dan memakan cat.

Saudaranya Theo khawatir, dan dia menawarkan uang kepada Paul Gauguin untuk menjaga Vincent di Arles. Dalam sebulan, van Gogh dan Gauguin terus berdebat, dan suatu malam, Gauguin keluar. Van Gogh mengikutinya, dan ketika Gauguin berbalik, dia melihat van Gogh memegang pisau cukur di tangannya.

Beberapa jam kemudian, van Gogh pergi ke rumah bordil setempat dan membayar seorang pelacur bernama Rachel. Dengan darah mengalir dari tangannya, dia menawarkan telinganya, memintanya untuk menyimpan “benda” ini dengan hati-hati.

Polisi menemukan van Gogh di kamarnya keesokan paginya, dan membawanya ke rumah sakit Hôtel-Dieu. Theo tiba pada Hari Natal untuk menemui van Gogh, yang lemah karena kehilangan darah dan mengalami kejang hebat.

Para dokter meyakinkan Theo bahwa saudaranya akan hidup dan dirawat dengan baik, dan pada 7 Januari 1889, van Gogh dibebaskan dari rumah sakit. Namun, dia tetap sendirian dan tertekan.

Kematian van Gogh

Pada 27 Juli 1890, Vincent van Gogh pergi melukis di pagi hari dengan membawa pistol yang telah terisi dan menembak dirinya sendiri di dada, tetapi peluru itu tidak membunuhnya. Dia ditemukan berdarah di kamarnya.

pistol usang van gogh

©©REUTERS/Charles Platiau

Van Gogh putus asa tentang masa depannya karena saudaranya, Theo, mengunjunginya dan berbicara kepadanya tentang perlunya untuk lebih berhemat. Van Gogh menganggap bahwa Theo sudah tidak lagi tertarik untuk menjual karya seninya.

Van Gogh dibawa ke rumah sakit terdekat dan dokternya memanggil Theo, yang tiba dan menemukan saudaranya duduk di tempat tidur sambil merokok pipa. Mereka menghabiskan beberapa hari berikutnya untuk berbicara bersama, dan kemudian van Gogh meminta Theo untuk membawanya pulang.

Pada 29 Juli 1890, Vincent van Gogh yang masih berusia 37 tahun, meninggal di pelukan saudaranya Theo.

(mdk/ank)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP