Pertempuran Surabaya (5)

Tentara Inggris di Ambang Kehancuran

Minggu, 7 November 2021 05:06 Reporter : Merdeka
Tentara Inggris di Ambang Kehancuran 10 November. ©Istimewa

Merdeka.com - Keputusasaan melanda Brigadier Mallaby dan anak buahnya di Surabaya selama pertempuran akhir Oktober 1945. Bahkan mereka sudah memutuskan akan menyerah.

Penulis: Hendi Jo

JAKARTA masih dibekap gelap dini hari itu. Dari sebuah rumah besar di Pegangsaan Timur, tiba-tiba suara telepon berbunyi nyaring. Tukimin, pengawal Presiden Sukarno bergegas mengangkat telepon. Beberapa detik kemudian, dia melangkah ke kamar Bung Karno. Diketuknya pintu kamar atasannya itu dengan hati-hati.

"Yaaa. Ada apa?" jawab Sukarno sambil menahan kantuk.

"Ajudan dari Komandan Tentara Inggris, Pak. Katanya sangat penting. Saya sampaikan padanya bapak lagi tidur, tapi dia mendesak supaya bapak dibangunkan," ujar Tukimin.

Sukarno segera keluar kamar. Dia kemudian mengangkat telepon, berbincang dalam nada serius. Setengah jam, dia kembali ke kamarnya. Sambil menghela napas, sang presiden menoleh kepada istrinya Fatmawati.

"Aku akan pergi ke Surabaya dengan pesawat terbang tentara Inggris besok," ungkapnya seperti ternukil dalam otobiografinya, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams).

Dari jam ke jam, pertempuran antara pejuang Indonesia dengan tentara Inggris di Surabaya semakin berkobar. Alih-alih menguasai kota tersebut, posisi para prajurit dari Brigade ke-49 pimpinan Briagadier A.W.S. Mallaby malah semakin terjepit. Menurut sejarawan Frank Palmos, pasukan Inggris yang tersisa di tengah kota hanya segelintir dan tersudutkan. Satu persatu, mereka disergap dan dibantai.

"Mereka kehabisan logistik dan amunisi..." ungkap sejarawan Frank Palmos dalam Surabaya 1945, Sakral Tanahku.

Mallaby sendiri ada dalam situasi dilematis. Kendati sangat sadar akan sulit mendapatkan tambahan pasukan, dia tetap mengirim pesan untuk minta bantuan. Permintaannya tentu saja ditolak mengingat pertempuran yang seru terjadi juga di beberapa kota di Jawa. Sementara konsentrasi pasukan Inggris yang terdekat berada di Singapura. Itu menjadikan secara teknis bantuan tidak bisa didatangkan ke Surabaya dengan cepat. Penerjunan pasukan payung pun sangat mustahil karena pertempuran sudah meluas ke seluruh penjuru Surabaya.

Panglima Pasukan Sekutu untuk Asia Tenggara Letnan Jenderal Sir Philip Christison yang dimintai bantuan juga ada dalam kondisi bingung. Pada akhirnya dia harus melupakan 'janjinya' kepada Belanda untuk tidak berhubungan sama sekali dengan Sukarno. Maka ketika mengetahui posisi anak buahnya sudah terjepit pada 28 Oktober 1945, Christison menyerukan lewat radio untuk melakukan gencatan senjata. Suatu kenyataan yang dilukiskan Falmos sebagai bentuk 'keputusasa-an seorang jenderal Inggris'.

"Detakan waktu bergulir habis...Saya harus melanggar perintah untuk tidak berhubungan apa-apa dengan Presiden Sukarno," ungkapnya seperti dinukil Falmos dari otobiografi Christison berjudul Life an Times.

Beberapa menit usai ditelepon Mallaby, Christison langsung minta ajudannya menghubungkan langsung dengan Sukarno di Pegangsaan Timur. Kepada presiden Republik Indonesia itu, dia meminta untuk bertanggungjawab secara pribadi atas semua kebiadaban yang telah terjadi. Christison pun meminta Sukarno untuk datang menenangkan para pengikutnya di Surabaya.

"Lambaikan saja bendera putih sebelum Anda mendarat di Surabaya. Saya tidak ingin pesawat Anda ditembaki dari bawah," ujarnya.

Menurut Des Alwi, penyelesaian militer memang sudah buntu bagi Inggris. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukan yang tersisa hanyalah penyelesaian politik. Suatu laporan dari intelijen militer Inggris yang berhasil disadap pihak Indonesia menyiratkan keputusasaan mereka akan situasi di Surabaya:

"Jika tidak segera datang penyelesaian politik, dalam beberapa jam mendatang kami terpaksa harus menyerah," demikian laporan tersebut dikutip Des Alwi dalam bukunya, Pertempuran Surabaya November 1945.


[noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini