Sartono, Sang Pemersatu Bung Karno dan Bung Hatta
Merdeka.com - Sering kali kita mendengar nama Sartono dalam perjuangan pergerakan nasional. Khususnya disandingkan dengan Partai Nasional Indonesia.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa Sartono adalah orang yang berada di tengah Dwitunggal. Dia berada di samping Bung Karno dalam mengejar cita-cita kemerdekaan. Tetapi memiliki pandangan yang sama dengan Bung Hatta soal demokrasi.
Dia pernah berpolemik tajam dengan Hatta. Tetapi membangkang kepada Bung Karno pada akhir karirnya. Meskipun begitu, Sartono berhasil menggalang persatuan antara Dwitunggal ketika harus menghadapi pendudukan Jepang.
Strategi Bung Karno
Dalam buku MR. Sartono: Pejuang Demokrasi & Bapak Parlemen Indonesia, diceritakan saat Sartono menyambut Bung Karno yang baru saja tiba dari Bengkulu. Pada tanggal 9 Juli 1942 di pagi hari, sebuah kapal kayu merapat di Pelabuhan Pasar Ikan, Jakarta. Ketika itu Bung Karno didampingi oleh istrinya, Inggit Garnasih.
Sartono yang datang bersama Hatta bergabung dengan Anwar Cokroaminoto untuk menyambut Bung Karno dan keluarganya. Setelah itu, mereka berbincang-bincang. Hatta kemudian bertanya kepada Bung Karno mengenai sikap yang akan diambil dalam menghadapi pemerintahan militer Jepang.
Bung Karno tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, sebaliknya justru membahas Nasionalisme rakyat yang semakin menguat sejak kedatangan Jepang. Hatta menambahkan bahwa semangat rakyat tetap tinggi.
Meski begitu, Sartono memperingatkan mereka bahwa semangat tinggi itu terbagi ke dalam dua kubu. Satu pihak percaya bahwa Jepang akan membantu tercapainya kemerdekaan Indonesia, sedangkan pihak lainnya curiga terhadap Jepang sebagai penjajah baru yang dalam beberapa hal lebih buruk dari Belanda.
Menanggapi pernyataan Bung Hatta dan Sartono, Bung Karno mengatakan bahwa Jepang pasti akan kalah. Ketika hal itu terjadi, kesempatan untuk merebut kemerdekaan. Sukarno juga meminta Hatta dan Sartono mendampinginya menjalankan taktik kerja sama dengan Jepang.
Mendengar hal tersebut, Sartono memiliki keyakinan kepada Bung Karno.
Malam harinya terjadi pertemuan antara Sukarno, Hatta dan Sjahrir. Pertemuan itu tidak dihadiri Sartono. Bukan tanpa alasan. Mengingat Hatta dan Sjahrir adalah sekutu abadi sejak di Belanda. Maka, ketidakhadiran Sartono bertujuan agar tidak terkesan seperti 2 melawan 2.
Dalam pertemuan itu, terjadi perdebatan antara Sjahrir dan Bung Karno. Sjahrir tidak menyetujui taktik kerja sama dengan pemerintah Jepang. Sjahrir juga merencanakan gerakan bawah tanah melawan Jepang bersama Amir Sjarifuddin.
Akan tetapi, Bung Karno tetap pada pendiriannya akan menggalang kerja sama dengan Jepang bersama Hatta dan Sartono. Dengan menggandeng Hatta dan Sartono, Bung Karno ingin memberikan jaminan bahwa dia tidak akan terjerumus terlalu jauh dalam fasisme militer Jepang.
Menyatukan Dwi Tunggal
Tidak banyak yang mengetahui bahwa Sartono-lah yang mempertemukan Sukarno dan Hatta setelah kepulangannya dari Negeri Belanda. Sebelumnya, mereka hanya bertemu melalui media massa dan berpolemik. Namun, pertemuan keduanya tidak berlangsung lama lantaran pemerintah Belanda mengasingkan mereka ke tempat yang berbeda.
Sartono memiliki keinginan untuk menyatukan kedua tokoh yang sering berpolemik itu. Demi mengakurkan sikap politik kedua tokoh tersebut, Sartono mengajak Hatta dari kediamannya di Oranje Boulvard pada 9 Juli 1942 untuk menemui Sukarno di Pasar Ikan.
Hatta bersedia dan dimulailah era koalisi Sukarno-Hatta untuk meraih kemerdekaan. Sartono mengenal Hatta sejak sama-sama menjadi mahasiswa Belanda dalam keanggotaan Perhimpunan Indonesia. Bahkan, Hatta dan Sartono memegang peranan penting dalam penyusunan Manifesto Politik 1925.
Keduanya sempat memiliki masalah ketika pembubaran Partai Nasional Indonesia yang dilakukan oleh Sartono. Perbedaan itu menyurut seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya kesamaan pandangan antara keduanya.
Sementara itu, Sartono menjalin hubungan dengan Bung Karno sewaktu bersama-sama mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Dia mengagumi kemampuan Bung Karno menggerakkan massa. Sebuah kemampuan yang tidak dimilikinya. Bahkan sekelas Hatta.
Kedekatannya dengan Dwi Tunggal, mengantarkan Sartono untuk menduduki posisi-posisi penting ketika Indonesia sudah merdeka, sepeti misalnya menjabat sebagai Ketua DPRS ketika masa Republik Indonesia Serikat.
Bahkan, Bung Karno tidak ragu menunjuk Sartono sebagai formatur kabinet, setelah Kabinet Natsir mengembalikan mandatnya. Meskipun pada akhirnya Sartono gagal membentuk kabinet itu.
Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya