Lepas dari profesinya sebagai anggota TNI, Didi Kartasasmita mengabdikan dirinya di Departemen Kesehatan Negara Pasundan. Menolak disebut sebagai tukang seberang.
Penulis: Hendi Jo
Kadung kecewa terhadap para politisi republik yang terlalu dalam mengotak-atik urusan tentara, pada 9 Februari 1948 Jenderal Mayor Didi Kartasasmita mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Sukarno, dengan tembusan kepada Menteri Pertahanan, Panglima Besar TNI dan Kepala Staf Angkatan Perang.
"Saya sendiri yang mengantarkannya langsung ke kantor presiden di Yogyakarta," ungkap Didi dalam otobiografinya, Pengabdian bagi Kemerdekaan (disusun oleh Tatang Soemarsono).
Permohonan itu tak pernah diterima oleh Presiden Sukarno. Bahkan dalam surat jawabannya pada 15 Maret 1948, Presiden Sukarno secara resmi menolak permintaan itu dengan alasan Didi masih dibutuhkan untuk pertahanan negara.
Advertisement
Lima Surat Tak Ditanggapi
Untuk lebih meyakinkan Didi, Presiden Sukarno malah pernah mengutus Kolonel T.B. Simatupang untuk mengurungkan niatnya dengan alasan dia akan dijadikan salah satu delegasi khusus ke Amerika Serikat. Alih-alih merasa tersanjung dengan ajakan itu, Didi malah sudah terlanjur mutung.
"Ketika dulu saya membentuk tentara, saya lakukan demi pengabdian. Karena itu kalau pun hari ini saya akan mundur, tak ada seorang pun yang bisa menghalangi saya," jawabnya kepada Simatupang.
Hingga lima kali melayangkan surat pengunduran diri, permohonan Didi untuk keluar dari TNI tak pernah digubris oleh pemerintah RI. Merasa tidak ditanggapi serius, dalam surat permohonan pengunduran dirinya yang keenam pada 24 Juni 1948, Didi melontarkan 'ancaman'. Jika sampai 1 Juli 1948 dia tidak mendapatkan jawaban jelas, maka selepas waktu itu dia menyatakan diri bukan sebagai anggota TNI lagi.
Advertisement
Demi Bertahan Hidup
Ternyata baru pada 31 Juli 1948, Didi menerima surat balasan dari pemerintah: permohonan pengunduran dirinya dari TNI dikabulkan. Dia diberhentikan dengan hormat atas permintaan sendiri dalam pangkat kolonel, bukan sebagai jenderal mayor.
"Entah apa yang menjadi dasar pertimbangan pemerintah menurunkan pangkat saya. Tapi saya tidak peduli soal itu" kata Didi.
Usai mundur dari TNI, Didi memutuskan pulang ke Bandung. Namun saat singgah di Purwokerto, militer Belanda menangkapnya dan langsung mengirimkan Didi ke Jakarta. Setelah beberapa bulan ditahan, dia dilepaskan atas jaminan langsung dari Letnan Jenderal S.H. Spoor. Menurut sejarawan J.A. de Moor, Panglima KNIL itu sangat bergembira begitu tahu Didi telah keluar dari TNI.
"Dalam suratnya kepada Kepala Staf Umum Tentara Kerajaan Belanda Jenderal H.J. Kruls, Spoor memuji dirinya sendiri yang telah berhasil mengusir salah satu 'bajingan' itu dari meja perundingan yaitu Mayor Jenderal Raden Didi Kartasasmita…" ungkap de Moor dalam bukunya,Jenderal Spoor, Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia.
Usai dibebaskan, Didi pulang ke Bandung. Sesampai di tanah kelahirannya itu, beberapa kali dia dibujuk untuk bergabung dengan militer Belanda dan Batalyon Pertahanan Negara Pasundan. Namun ajakan itu ditampiknya secara halus. Seterusnya dia hidup sebagai seorang sipil dan bekerja di lingkungan Kementerian Kesehatan Negara Pasundan.
"Itu saya lakukan untuk sekadar bertahan hidup," ujar Didi.
Advertisement
'Saya Mencintai RI'
TNI tentu saja berang dengan keputusan Didi. Secara terbuka, Nasution sendiri pernah menyebut Didi sebagai “tukang menyebrang” dan orang yang pro federalisme.
"Penyeberangan-penyeberangan terakhir seperti dilakukan Didi Kartasasmita cs. tidak mempunyai pengaruh yang berarti terhadap pemerintahan RI,” ungkap Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 9.
Untuk yang kedua kali, Didi menampik bahwa dia telah melakukan pengkhianatan terhadap RI. Jika mau, katanya, selepas dari tahanan Belanda dia bisa saja bergabung kembali dengan KNIL atau menerima tawaran menjadi Komandan Batalyon Pertahanan Negara Pasundan.
"Tapi itu tak pernah dilakukan karena saya masih mencintai Republik Indonesia," ujarnya.

