Panjang jalan itu mencapai 350 meter. Dahulunya bernama Jalan Jagalan. Bertempat di Kampung Purwodiningratan, Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah. Di tahun 2008, nama jalan diputuskan untuk diganti menjadi Jalan Drs Yap Tjawn Bing.
Nama Yap Tjawn Bing kini termashur, terlebih bagi warga keturunan Tionghoa di Solo. Yap lahir di Kampung Slompretan, sekitar Pasar Klewer 31 Oktober 1910. Dalam roda sejarah Indonesia, Yap ikut berperan penting dalam persiapan kemerdekaan bersama sejumlah perwakilan Tionghoa lainnya.
Pemerhati budaya China asal Karanganyar, Chandra Halim mengatakan, Yap muda menempuh pendidikan dengan model Eropa. Terutama saat SD, SMP hingga SMA hingga saat menempuh pendidikan tinggi di Belanda.
"Dia kuliah di Hukum, di Amsterdam Belanda. Kemudian dia pulang, aktif di politik bersama teman-temannya, termasuk Oe Tjoe Tat, orang Solo juga. Rumahnya di Warung Pelem. Dua orang ini memang benar-benar memperjuangkan Indonesia," kata pria yang juga Dosen Prodi Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu.
Selepas dari Belanda, Yap kemudian mengadu nasib di Bandung, Jawa Barat. Di tanah Pasundan itu, Yap merintis usaha dengan membuka toko medis atau obat-obatan.
Perjalanan politik Yap yang juga bersahabat dengan Ir Soekarno, membawanya bergabung dan ditunjuk menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mewakili keturunan Tionghoa.
"BPUPKI terbentuk kan zaman Jepang dua. Termasuk Soekarno menjadi anggotanya, Yap itu salah satu yang bergabung. Tapi sebenarnya ada tiga atau empat orang Tionghoa yang bergabung dalam BPUPKI," bebernya.
Chandra mengatakan, keputusan Yap bergabung dalam BPUPKI dan PPKI didasari oleh semangat perjuangan yang tinggi.
"Orang-orang seperti Oe Tjoe Tat, Yap Tjwan Bing, Siauw Giok Tjhan dan lainnya itu prinsipnya untuk membangun negara. Itu yang mereka inginkan sebetulnya," ujar Chandra.
Meskipun berdarah keturunan, namun mereka menyadari hidup di tanah ini. Mereka ingin memberikan apapun untuk tanah yang mereka pijak. Apalagi saat itu belum ada negara Indonesia.
Selain semangat perjuangan yang tinggi, masuknya Yap ke dalam BPUPKI dan PPKI tersebut tidak terlepas dari peran Soekarno.
"Oe Tjoe Tat, Soekarno, Siauw Giok Tjhan dan Yap Tjwan Bing itu kan teman. Saling mengenal kan mereka dan bekerja sama. Saya sih menduga 'gelem ra kowe masuk dalam ini (mau enggak kamu bergabung)' gitu," ucapnya.
Advertisement
Memiliki Jiwa Nasionalis Tinggi
Yap memiliki Yang membedakan Yap Tjwan Bing, dengan keturunan Tionghoa lainnya, dikatakan Chandra, adalah jiwa nasionalisnya.
"Jiwa nasionalismenya, dia lebih ke Indonesia banget. Daripada sebagian orang-orang Tionghoa saat itu. Jiwa nasionalisnya sangat tinggi. Dan dia bisanya pergerakan politiknya lewat situ," sambungnya.
Sehingga, lanjut dia, sangat tidak mungkin jika Yap harus berjuang dengan mengangkat senjata seperti masyarakat lainnya. Apalagi latar belakang dia adalah politikus, meski lulusan hukum.
Menurut Chandra, banyak hal yang bisa dijadikan contoh maupun panutan dalam jiwa Yap Tjwan Bing. Meski sudah beranjak tua, saat itu, semangat Yap Tjwan Bing tidak pernah kendur.
"Orangnya disiplin. Kemudian dia tidak lelah untuk belajar. Jadi meskipun usianya tua, dia tetap semangat untuk belajar. Itu yang saya tahu. Kemudian semangat nasionalismenya itu justru melebihi orang-orang setempat," bebernya.
Advertisement
Pertemuan Keluarga Yap dengan Jokowi
Pada awalnya nama Yap memang tidak begitu dikenal di Solo. Maklum saja Yap dari muda lebih banyak menghabiskan waktunya di luar kota dan luar negeri. Setelah diketahui ada seorang keturunan Tionghoa yang punya andil besar saat kemerdekaan, barulah penelusuran dilakukan.
"Akhirnya kami mencari info. Ternyata Bapak Yap adalah seorang Marhaenis. Dia tinggal di Solo, kemudian pindah di Bandung dan akhirnya berobat ke luar negeri hingga meninggal di sana," kata Tokoh Tionghoa Solo, Sumartono Hadinoto.
Sumartono menceritakan, pada saat tinggal di Bandung, Soekarno pun sering menginap di rumah Yap. Kabar tersebut, lanjut dia, diceritakan oleh putri Yap yang datang ke Solo beberapa tahun lalu.
"Saya tahu karena anaknya, putrinya datang ke Solo setelah kami bisa menghubunginya," kata dia.
Salah satu temannya di Amerika juga menceritakan pernah ditolong oleh Yap. Di mana saat pertama ke Negeri Paman Sam, temannya tersebut dipersilakan menginap dirumahnya.
"Akhirnya putrinya Pak Yap itu dikenalin ke saya, datang ke Solo bersama suaminya. Waktu itu saya temuin Pak Rudy (Wakil Wali Kota FX Hadi Rudyatmo) dan Pak Jokowi (Wali Kota Solo Joko Widodo)," ucapnya.
Sumartono mengemukakan, Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS/organisasi masyarakat Tionghoa di Solo) akhirnya memberikan penghargaan kepada Yap, melalui keluarganya yang datang ke Solo. Pihaknya juga mengusulkan agar nama Yap Tjwan Bing dijadikan nama salah satu jalan.
Sumartono yang juga Wakil Ketua PMS mengatakan, pada setiap peringatan tahun baru Imlek pihaknya selalu memberikan penghargaan kepada warga Tionghoa di Solo yang memiliki kontribusi nyata dalam berbagai bidang. Di antaranya bidang pendidikan, olahraga, medis dan bidang sosial.
Penghargaan tersebut diberikan kepada warga yang masih hidup dan berbuat. Namun khusus untuk Yap Tjwan Bing, pihaknya mengusulkan kepada Wali Kota Solo saat itu (Jokowi) agar dijadikan nama jalan.
"Akhirnya beliau bisa kita masukkan di salah satu jalan tapi bukan protokol," katanya.
Oleh Jokowi, pihaknya diminta berkoordinasi dengan beberapa dinas terkait. Setelah diterima, pihaknya diminta untuk melakukan sosialisasi di sekitar jalan yang akan digantikan. Yakni Jalan Jagalan, di Kampung Purwodiningratan.
Pemilihan jalan di lokasi tersebut, dikatakan Sumartono, bukan tanpa pertimbangan. Di antaranya di jalan tersebut terdapat rumah dr Lo, dokter yang memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Selain itu lokasi tersebut juga terdapat bangunan tempat ibadah umat Khonghucu, Lithang Gerbang Kebajikan.
Bangunan itu menyatu dengan kompleks sekolah Yayasan Tri Pusaka yang juga dikenal memiliki kesenian tradisional liong dan barongsai Tri Pusaka.
"Akhirnya kami pilih di situ dan disetujui. Pada perayaan Imlek 22 Februari tahun 2008, Pak Jokowi dan Pak Rudy hadir pada pembukaan nama Jalan Jagalan menjadi Jalan Yap Tjwan Bing," jelas dia.
Pemberian penghargaan tersebut, menurut dia, disambut suka cita oleh keluarga Yap, terutama putrinya. Ia sangat bangga karena nama ayahnya diabadikan menjadi nama jalan.
Sumartono menilai tokoh-tokoh sepuh Tionghoa Solo, seperti Yap Tjwan Bing, Haryono Kosasih 'Menara', Sanyoto 'Orion' dan lainnya memiliki jiwa nasionalis sejak dulu. Mereka sangat berkomitmen terhadap perjuangan bangsa, termasuk yang ada di Papua.
"Waktu sebelum pandemi, saya hampir setiap minggu ngobrol dengan mereka. Di sinilah kalau kita melihat bahwa, sebetulnya kami hanya pingin mengangkat Bapak Yap ini untuk memotivasi teman-teman Tionghoa di Indonesia," tuturnya.
Advertisement
Penghargaan Pemkot Solo
Mantan Wakil Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo (Rudy) menambahkan, Yap Tjwan Bing memang layak menerima penghargaan. Masyarakat dan Wali Kota Solo saat itu, Jokowi, juga menyetujui nama Yap dijadikan nama jalan menggantikan Jalan Jagalan yang memiliki panjang sekitar 350 meter.
"Itu dasarnya usulan masyarakat dan Pak Wali juga mengiyakan jalan itu diganti Jalan Yap Tjwan Bing. Di mana beliau ikut andil dalam mempersiapkan kemerdekaan Republik Indonesia," bebernya.
Rudy yang juga mantan Wali Kota Solo menilai, meskipun keturunan Tionghoa, namun kecintaan Yap terhadap Tanah Air melebihi segalanya, terutama saat berbicara sebagai panitia persiapan kemerdekaan RI.
"Keteladanan yang harus dicontoh, di mana bumi ku pijak, langit ku ku junjung. Itu yang patut dicontoh dari beliau," pungkas Rudy.