Shi Jinqin, Kunci Kemenangan Laksamana Cheng Ho Tumpas Bajak Laut Palembang

Laksamana Cheng Ho (Zheng He atau Sam Poo) berhasil menumpas bajak laut China Palembang di bawah pimpinan Chen Zuyi (Tan Tjo Gi). Namun tidak banyak yang tahu ada sosok yang sangat berperan dalam keberhasilan misi itu.

Irwanto
Oleh Irwanto - Reporter
Shi Jinqin, Kunci Kemenangan Laksamana Cheng Ho Tumpas Bajak Laut Palembang
Patung Laksamana Cheng Ho. ©2022 Merdeka.com

Laksamana Cheng Ho (Zheng He atau Sam Poo) berhasil menumpas bajak laut China Palembang di bawah pimpinan Chen Zuyi (Tan Tjo Gi). Namun tidak banyak yang tahu ada sosok yang sangat berperan dalam keberhasilan misi itu.

Dia adalah Shi Jinqin atau Shi Jinqing. Shi Jinqin merupakan salah seorang perantau asal China Selatan dan orang kepercayaan Liang Dao Ming, orang yang diangkat oleh para perantau China di Palembang sebagai pemimpin mereka.

Sejarawan dari Universitas Sriwijaya Palembang Dedi Irwanto menerangkan, banyaknya komunitas China di Palembang (saat itu masih bernama Ku Kang atau Kiu Kang), tidak lepas dari migrasi mereka ke selatan sebagai bentuk ketidakmauan mengakui pemerintahan Dinasti Manchu (Dinasti Yuan) di bawah Kaisar Khubilai Khan yang berhasil menguasai China sepanjang 1279-1294.

"Gelombang China di Palembang semakin banyak tatkala muncul kerusuhan dari peralihan kekuasaan dari Dinasti Manchu ke Dinasti Ming di pertengahan abad ke-13," ungkap Dedi kepada merdeka.com belum lama ini.

Komunitas China Palembang ini dipimpin oleh Liang Dao Ming yang berasal dari Guangzhou (Kanton/Nan Hai), Provinsi Guangdong. Liang Dao Ming diberi mandat oleh Raja Hayam Wuruk karena membantu penyerangan Majapahit atas Sriwijaya di tahun 1377.

Liang Dao Ming memimpin Palembang dengan dukungan ribuan keluarga keturunan China di sana. Selanjutnya masa pemerintahan Liang Dao Ming direbut oleh tokoh China lainnya Chen Zuyi.

Zuyi berasal dari Chazhou (Theo Chiu) yang juga Provinsi Guangdong. Ia melarikan diri dari China bersama keluarga ke Palembang karena melanggar hukum.

Berbeda dengan Liang Dao Ming, Chen Zuyi bertindak lebih agresif. Tahun 1405, Kota Jambi diduduki dan disatukan dengan Palembang.

Chen Zuyi membawa komunitas China Palembang sebagai perompak di sepanjang pantai timur hingga Selat Malaka. Kapal-kapal perdagangan yang lalu lalang disikat habis olehnya.

Tidak saja merampas barang dagangnya, Zuyi juga membunuh para pedagang di lautan. Chen Zuyi muncul sebagai gembong perompak yang sangat ditakuti di laut selatan.

Momen tindak sewenang-wenang Zuyi juga didukung oleh keadaan. Di mana pada saat bersamaan Majapahit dilanda prahara.

Prahara apa yang dikenal dengan sebutan Perang Paregreg sejak tahun 1401 sampai 1406. Sebuah perebutan tahta antara Raja Barat Wikramawardhana dan Raja Timur Wirabumi, menantu dan puteri selir Hayam Wuruk sehingga tentara Majapahit tidak bisa mengatasi aksi Zuyi.

Shi Jinqin dan Cheng Ho di Palembang

Aksi perompakan China Palembang di bawah kendali Chen Zuyi menyulitkan perdagangan China-Nusantara. Di China terjadi pergantian kekuasaan dengan naiknya kaisar ketiga Dinasti Ming, Zhu Di sejak 1403.

Kaisar Zhu Di seorang pemimpin ulung yang menghargai dan memberi kesempatan rakyat China untuk memeluk agama apa saja. Ia juga memberi kesempatan kepada orang cakap dari manapun untuk menduduki jabatan tinggi di pemerintahannya, termasuk pemeluk Islam di China.

Kesempatan terbuka ini tidak disia-siakan oleh seorang kasim Ma He. Ia menjadi kasim kesayangan Kaisar Zhu Di dan ditempatkan sebagai penasihat terdekat kaisar diberi nama baru Cheng Ho (Zeng He atau Sam Poo).

Cheng Ho seorang Muslim yang taat lalu diangkat sebagai laksamana untuk mengarungi laut selatan. Tidak saja sebagai diplomat dagang China, ia juga dibebani untuk mengatasi para perompak, termasuk Cheng Zuyi di Palembang.

Sepanjang rentang waktu 27 tahun (1405-1433), Cheng Ho melakukan tujuh kali pelayaran ke laut selatan hingga India. Ia didukung para armada pedagang dan perang China Muslim yang tangguh seperti Wang Jing Hong, Ma Huan, Guo Chongli, Sha'ban, Pu Heri, dan lainnya.

"Cheng Ho membawa misi diplomasi menyeberangi samudera untuk menghidupkan jalur perdagang Nusantara-China. Sepanjang 1405-1406, ia mengunjungi Jawa, Pasai, dan Lambri. Tahun 1407, Cheng Ho mengunjungi Palembang dalam perjalanan pulang ke China," ujarnya.

Kedatangan damai Cheng Ho disiasati dengan licik oleh Chen Zuyi. Pura-pura menyerah, Zuyi bermaksud merampok semua harta di armada Ceng Ho. Kelicikan Zuyi, dilaporkan oleh perantau China Palembang, Shi Jinqin sehingga Cheng Ho bersiap.

Malam penuh mendung dengan angin bertiup ribut, Zuyi mendekati armada Cheng Ho di Pulau Maspari lepas pantai Pulau Bangka. Zuyi masuk perangkap dan digempur habis sehingga dapat ditawan, dia dibawa ke Negeri China dan dihukum mati.

"Shi Jinqin adalah orang di balik penangkapan Chen Zuyi, dia membantu Laksamana Cheng Ho menumpas perompak itu," terangnya.

Sepeninggal Chen Zuyi, Laksamana Cheng Ho mengangkat dan menobatkan Shi Jinqin sebagai pejabat di Palembang (Ku Kang). Shi Jinqin juga menjadi Muslim dan mengajak semua komunitas China Palembang di bawah pimpinannya untuk memeluk agama Islam.

"Pada masanya, China Muslim Palembang tampil sebagai pedagang. Geliat ekonomi tumbuh kembali dan terlibat dalam perdagangan internasional," kata dia.

Shi Jinqin juga mampu memastikan pemeliharaan perdagangan damai di Palembang. Tahun 1421, Jinqin wafat dan digantikan oleh Shi Jisun (Shi Daniang/Shi The Soen). Namun pada waktu Cheng Ho berkunjung ke Palembang tahun 1424 untuk menyerahkan penobatan Shi Jisun, ternyata kekuasaan sudah dipercayakan Jisun ke adiknya Shi Erjie.

"Shi Jinqing diangkat sebagai pemimpin komunitas Cina di Palembang selama 15 tahun," tutur Dedi.

Menurut dia, kultur Kota Palembang identik dengan Melayu, Jawa, China dan Arab. Selain orang Palembang Iliran dan Arab yang dikenal sangat Islami di Kota Palembang, pada masa lampau terdapat komunitas China Muslim yang pernah tersebar di Palembang.

Dedi Irwanto menyebut, eksistensi China Muslim ini tidak lepas dari kehadiran Shi Jinqin. Dalam banyak hal, Shi Jinqin merubah wajah China perompak ke China Muslim. Selain menghadirkan China Muslim Palembang, seperti halnya Laksamana Cheng Ho sebagai utusan Dinasti Ming, Jinqin juga memberi tempat pada kebebasan beragama di Palembang. Namun dengan tegas ia mulai menuntun adanya kehidupan bercorak Islam bagi masyarakat China Palembang.

"Shi Jinqin masih memberi kebebasan berdirinya klenteng, namun melarang orang China Palembang menyantap sajian makanan mengandung babi," ujarnya.

Munculnya Aria Damar di Palembang

Sepeninggal Shi Jinqin, komunitas China Palembang dipimpin oleh anaknya bernama Shi Jisun. Karena penduduk China Palembang telah menjadi Muslim, Shi Jisun memilih tidak bertahta sebagai penguasa politik, dan lebih memilih jalan sufisme untuk mensyiarkan Islam ke tanah Jawa di Majapahit dengan nama baru Niai Gede Pinateh. Ia menjadi tokoh Islam terkenal di Jawa dan merupakan guru dari salah satu Wali Songo, Sunan Giri.

Shi Jisun (Niai Gede Pinateh) yang dikenal juga dengan nama Jawa sebagai Endang Sasmintapura begitu tiba di Majapahit selanjutnya bertemu dengan Raja Brawijaya III. Raja Brawijaya III jatuh hati dan menikahinya. Namun sekali lagi ia menolak sifat edonis Keraton Majapahit.

Pada saat mengandung lalu mengungsi ke pedepokan di pinggir hutan Demak, ia mengajarkan Islam di masyarakat Demak yang masih dikuasai Majapahit.

Melahirkan anaknya dan diberi nama fam ibunya, Shi Jinbun atau Swan Liong (Si Naga Berlian) dengan nama Jawa, Aria Damar. Artinya, Aria Damar adalah cucu dari Shi Jinqin, penguasa China Muslim awal di Palembang.

Begitu dewasa, Aria Damar mengabdi pada Majapahit. Ia berjasa dalam menaklukkan Bali untuk Majapahit tahun 1443. Pada tahun yang sama atas jasanya ini ia dinobatkan untuk menggantikan bibinya, Shi Erjie sebagai adipati Majapahit di Palembang.

Pada masa 1440, Aria Damar kedatangan tamu agung, yakni ulama Ibrahim Al-Samarkand, bersama muridnya Syarif Hussein Hidayatullah dan anaknya yang di bawah dari Champa, Sayyid Ali Ramatullah (dengan nama China dari fam ibunya, Bong Swi Hoo).

"Aria Damar memperdalam agama Islam dan berganti nama menjadi Aria Dillah (Aria Abdillah)," kata dia.

Selanjutnya, Ibrahim Al-Samarkand dan anaknya Sayyid Ali Ramatullah melanjutkan perjalanan ke Jawa. Muridnya Syarif Hussein Hidayatullah ditinggal dan diangkat sebagai guru Aria Dillah.

Syarif Hussein Hidayatullah menjadi penyebar Islam hingga ke uluan Palembang. Kelak makam beliau ada di daerah Pedamaran menjadi Puyang Sekampung. Sedangkan Ibrahim Al-Samarkand menjadi tokoh Islam penting di Jawa dengan nama Ibrahim Asmoro.

"Anaknya Sayyid Ali Ramatullah (Bong Swi Hoo) atau nama Jawanya, Raden Rahmat menjadi salah seorang Wali Songo, Sunan Ampel," terangnya.

Ke mana Jejaknya China Muslim Palembang?

Saat ini jejak China Muslim Palembang hanya tinggal sebagian kecil di daerah Kelurahan 3-4 Ulu. Tempat tinggalnya dikenal dengan nama Kampung Saudagar Kocing (Yu Chien).

Kampung ini juga tidak lagi dapat diidentifikasikan sebagai kampung China Muslim, karena sudah berasimilasi dengan penduduk pribumi. Asimilasi dalam jangka waktu yang panjang ini juga menghilangkan pengaruh besar China Muslim di Palembang masa Shi Jinqin hingga Aria Damar.

Selain itu, gilasan China perantau di Palembang berikutnya, terutama pada masa kolonial juga menyurutkan jejak China Muslim di Palembang. China Muslim Palembang lebih memisahkan diri dan berasimilasi dengan pribumi daripada bergabung dengan China perantauan, termasuk ketika berlakunya sistem wijkenstelsel (pemisahan kampung berdasar etnis).

"China perantau menempatkan diri secara mengelompok dan tidak bercampur dengan pribumi di sekitar 7 hingga 10 Ulu Palembang," ungkap Dedi.

Kepala China perantau dipimpin oleh seorang Kapiten yang diangkat Belanda. Kapiten pertama China Palembang adalah Tjoa Ham Him yang dilantik tahun 1855.

Ketidakbercampurbauran dengan penduduk lokal, menyebabkan China perantau masih banyak memeluk agama Konghucu dengan berbagai tradisi kental dari negeri asalnya di China.

"Oleh sebab itulah, perayaan Imlek (Sincia) dengan ucapan Gong XI Fa Cai berkumandang dan besar-besaran dipusatkan di Pulau Kemaro Palembang, termasuk tahun ini. Pada saat yang sama sayangnya jejak China Muslim Palembang semakin lama semakin meredup dan sulit ditemukan," terangnya.

Penggiat sejarah, Robby Sunata mengatakan, perdagangan China-Nusantara terhalang oleh maraknya perompakan. Alhasil pelabuhan Palembang mulai ditinggalkan dan dijauhi oleh pedagang dan akhirnya mendapat sebutan pelabuhan lama (dalam terjemah yang lain Ciu-Cang diartikan sebagai pelabuhan besar).

Menurut dia, awal mula datangnya perompak terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya. Pada masa itu, setiap armada laut yang kuat mampu memaksa setiap kapal dagang yang lewat wilayah mereka untuk berlabuh dan berdagang di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya. Jika menolak, kapal dagang itu akan dikejar sampai dapat lalu dijarah dan ditenggelamkan.

"Ketika Sriwijaya bubar, armada laut ini kehilangan induknya. Tapi mereka masih melakukan hal yang sama, penghadangan, pemaksaan, dan penjarahan kepada setiap kapal yang lewat tetapi kali ini atas nama pribadi sebab Sriwijaya sudah bubar. Karena itu mereka disebut sengaja bajak laut, pasukan tidak bertuan," ujarnya.

Dikatakan, jaringan pedagang China Muslim telah muncul dengan kuat di berbagai pelabuhan di Asia Tenggara, termasuk Sumatera dan Jawa. Raja Majapahit mempercayai mereka untuk mengelola pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kekuasaan kerajaan, atau dipercaya untuk menjadi perwakilan dagang Majapahit di pelabuhan-pelabuhan kerajaan lain.

"Uniknya, bukan majapahit yang membersihkan para perompak di Palembang, melainkan kekaisaran China yang melakukannya di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho dan dibantu Shi Jinqin," ujarnya.

Menurut dia, jasa Shi Jinqin dalam menumpas bajak laut membuat perdagangan kembali marak karena pelabuhan Palembang telah aman dari perompak. Keislaman Shi Jinqin juga mengundang para pedagang muslim dari Timur Tengah datang ke Palembang.

"Shi Jinqin juga membuka perdagangan Palembang dengan Jepang," kata Robby.

Sejarawan dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Abdul Azim Amin menuturkan, Laksamana Cheng Ho dan Shi Jinqin memeluk agama Islam dan secara langsung berpengaruh terhadap penyebaran Islam di Palembang. Pada kedatangan Cheng Ho yang kedua ke Palembang pada 1414, dia membawa 63 kapal dengan 28.560 penumpang.

Misi kali ini dia memburu dan membawa Sekandar, seorang tawanan dari Sumatera. Sekandar kemudian dihukum mati di Negeri China.

Setiap kapal, membawa serta sejumlah ulama. Ulama tersebut berperan tiga hal, yakni memberi semangat bagi anak buah kapal ketika terjadi badai di lautan, mengurus jenazah anak buah kapal secara Islam, dan mengetahui ilmu falak.

"Mesti setiap kapal China ada ulama yang dibawa, ada yang langsung menetap di tempat yang disinggahi, ada juga kembali ke negerinya," kata dia.

Mengacu kronologi Barnes, di abad ke-13 setidaknya 83.980 orang China singgah ke Palembang. Sebagian besar mereka itu tentunya kaum muslim, sebab Negeri China tengah dikuasai Dinasti Ming yang merupakan simbol kekuasaan Muslim di China.

"Berawal dari kedatangan Cheng Ho itulah terbentuk komunitas China Muslim di Palembang," ungkapnya.

Menurut dia, Komunitas China Muslim awal di Palembang dapat ditelusuri melalui bukti ekofak, yaitu peran historis sungai Saudagar Kocing, 3-4 Ulu, Palembang. Komunitas China Muslim di Palembang terdapat di Kampung saudagar Kocing, Kampung 3-4 Ulu.

"Ini sebagai penanda seorang saudagar yang berasal dari Kampung Kucing (Kochin). Saudagar Kucing yang dimaksud itu bernama asli Chu Yu-chien. Dia adalah cucu Chu Yu-chien, seorang pangeran dari Negeri China. Dan saya adalah keturunan kesepuluh dari kakek saya, Chu Yu-chien atau Zhu Yujian," terangnya.

Dikatakan, Chu Yu-chien adalah pewaris terakhir tahta Dinasti Ming. Sebagai seorang pangeran Ming, Chu merupakan keturunan langsung dari kaisar Dinasti Ming yang pertama, Hung-Wu (1368-1398) yang memerintah sejak kejatuhan Ibu Kota Peking.

Ming suku bangsa asli di Negeri China terakhir yang memerintah kedinastian selama hampir tiga abad antara kejatuhan dinasti Yuan-Mongol (1271-1368) dan kenaikan Qing Manchu. Dinasti Ming menyatukan kembali apa yang kini disebut Negeri China setelah hampir 400 tahun diduduki bangsa asing: Mongol dari stepa Asia dan Manchu dari pedalaman Manchuria.

Menurut dia, ada perbedaan orang China yang datang pada abad 13-14 dan abad 17 atau pada masa kolonial. Pada kedatangan pertama, pendatang China beramiliasi dengan pribumi sehingga banyak yang menikah dengan warga pribumi dan memeluk Islam.

"Ketika itu mereka mudah beradaptasi, makanya disebut China Melayu atau China Muslim," ujarnya.

Berbeda dengan kaum China Muslim atau pendatang terdahulu yang banyak membaur dengan penduduk setempat, maka para imigran China yang datang di masa kolonial Belanda, di mana Negeri China dikuasai Dinasti Qing yang memusuhi kaum Muslim, dimasukkan sebagai kelas kedua bersama para pendatang lainnya. Penduduk asli yang mayoritas Islam diletakkan sebagai kelas ketiga.

Sementara itu, kaum muslim China yang masih asli disuruh yang biasa disebut 'Huakiao', pulang ke Negeri China oleh penjajah Belanda. Akibat politik 'memecah belah' itu menyebabkan etnis China yang non-Muslim, tidak mau memilih agama Islam sebagai keyakinan, meskipun Islam pernah menyatukan seluruh daratan Negeri China di masa Dinasti Ming.

"Jika tidak memeluk Katholik, Protestan, Buddha, mereka memeluk agama para leluhurnya, yakni Konghocu," terangnya.

Hal ini disebabkan mereka takut dikucilkan atau dikembalikan ke Negeri China oleh kolonial Belanda, dan dalam perkembangan selanjutnya mereka setuju dengan penempatan sebagai kelas kedua yang tentu saja berbeda dengan penduduk asli.

"Tapi masih banyak kaum China yang secara diam-diam masih memegang Islam sebagai agama atau kepercayaannya," kata dia.

Menurut dia, perkembangan Islam selalu diidentikkan dengan kelompok-kelompok tertentu, khususnya Arab dan orang-orang yang dikatakan asli Palembang. Padahal dalam realitas sejarah, orang-orang China ini juga mempunyai peran penting dalam proses islamisasi dan pengembangan Islam di Palembang. Hal ini bisa didukung oleh fakta sosial bahwa jumlah penduduk keturunan China di Palembang cukup besar secara alami.

"Saya kira tradisi tiga hari, tujuh hari, 40 hari, dan seterusnya ketika ada kematian Muslim adalah peninggalan Cheng Ho di Palembang atau Nusantara. Karena di Negeri China juga sebelumnya ada tradisi itu," pungkasnya.

Rekomendasi