Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Perjuangan Kopral Soehanda: Tergerak Pidato Bung Karno, Jadi Tentara Dihina Belanda

Perjuangan Kopral Soehanda: Tergerak Pidato Bung Karno, Jadi Tentara Dihina Belanda Kopral (Purn) Soehanda. Hendi Jo©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejak muda sudah merasakan pahit-getirnya perjuangan revolusi: mulai harus meninggalkan kampung halaman tercinta dan kehilangan sang ayah karena ditembak tentara Belanda.

Penulis: Hendi Jo

Lelaki itu terdiam sejenak ketika mulai mengingat masa lalu. Matanya menerawang seolah ingin menembus waktu. Agak lama dia termenung. Tetiba sengan tangan agak gemetar, diraihnya secangkir air putih di hadapannya. Setelah meminumnya sedikit, mulailah dia berkisah.

Soehanda terjun ke dalam api revolusi sejak 1945. Dia bertekad membela Republik Indonesia karena merasa terpukau dengan pidato-pidato Sukarno yang kerap didengar lewat radio ketika masa penajahan Jepang. Saat Sukarno-Hatta menyerukan agar setiap pemuda bergabung dengan badan perjuangan, tanpa banyak berpikir Soehanda mendaftarkan diri untuk terlibat dalam perjuangan.

"Saya ingat, usai bertiupnya kabar proklamasi dari Jakarta, saya dan beberapa kawan langsung bergabung dalam badan perjuangan," kenang lelaki kelahiran Ciamis pada 1925 itu.

Dihina Tentara Belanda

Sebagai seorang santri, Suhanda lantas menggabungkan diri dalam Laskar Hizbullah. Sebuah milisi yang didirikan oleh para tokoh alim ulama di era Jepang berkuasa. Namun beberapa waktu kemudian, atas saran dari seorang sahabatnya, dia pindah ke Batalion 27 Bandung Utara pimpinan Mayor Sentot Iskandardinata.

"Saya ditempatkan di bagian BKT (Badan Kesehatan Tentara), masuk dalam Kompi II pimpinan Kapten Amir Machmud," kenang Soehanda.

Kendati bertugas di bagian medis, bukan berarti dia tidak pernah terlibat pertempuran. Dikarenakan minimnya tenaga tempur, Suhanda tak jarang ditugaskan oleh komandannya untuk ikut dalam penghadangan dan penyerangan militer Belanda di Sumedang dan sekitarnya.

"Saya ingat waktu itu saya pegang senjata sten," ungkapnya.

Awal 1948, Divisi Siliwangi harus hijrah ke Jawa Tengah. Pemberangkatan dilakukan melalui udara, laut dan darat. Soehanda termasuk di dalam Kompi Amir Machmud yang harus bergerak ke titik kumpul di Sumedang dengan berjalan kaki. Menurut Letnan Kolonel Eddie Soekardi, Batalyon 27 termasuk pasukan Siliwangi yang kondisinya sangat menyedihkan.

"Mereka kurus-kurus, kurang makan selama di hutan dan berpakaian nyaris compang-camping," ujar salah seorang sesepuh Divisi Siliwangi itu.

Kondisi tersebut tentu saja tidak luput dari ejekan para prajurit Belanda yang menjadi pengawal proses berlangsungnya hijrah tersebut. Mereka yang berasal dari unit-unit Baret Hijau (Korps Pasukan Khusus) dan Batalyon Andjing NICA tak henti-nya melontarkan hinaan untuk menurunkan derajat anggota Batalyon 27.

"Tapi kami tak peduli. Kami berbaris menuju Jawa Tengah dengan kepala tegak," kenang Suhanda.

Dalam otobiografinya Prajurit Pejuang, Amir Machmud membenarkan cerita yang dikisahkan Soehanda. Menurut eks pejabat di era Orde Baru itu, seolah berlaku sebagai pemenang, para prajurit Belanda kerap 'memprovokasi' pasukannya.

Sebagai contoh, saat sudah berada di kapal laut yang tengah berlabuh di Pelabuhan Cirebon, tiba-tiba saja seorang prajurit Belanda berseragam macan loreng menghampiri kumpulan anak-anak Batalyon 27 dan melontarkan hinaan yang tajam sambil menodongkan laras senajatanya.

Merasa tak kuat lagi mendapat cacian dan hinaan, seorang kopral bernama Tamrin lantas mencekik kerah baju serdadu tersebut dan langsung memukulnya hingga jatuh ke laut. Begitu sang serdadu jatuh, bersoraklah para anggota Batalyon 27 yang lain hingga membuat panas suasana dan nyaris menimbulkan bentrok massal.

"Untunglah insiden itu cepat diselesaikan hingga tidak berkelanjutan," ungkap Amir Machmud.

Terpaksa Perang Saudara

Sesampai di Jawa Tengah, Suhanda dan kesatuannya ditempatkan di Salatiga. Baru beberapa bulan mereka menempati markas barunya, pada 18 September 1948, pembangkangan kaum kiri terjadi di Madiun. Maka bergeraklah Yon 27 ke Walikunkun dan Ngawi lalu langsung ke Sarangan untuk menumpas orang-orang PKI.

"Perang saudara tidak mengenakan. Kami dipaksa harus membunuh sesama orang Indonesia, rasanya ada yang tidak pas di hati," kenang Soehanda.

Pertengahan Desember 1948, militer Belanda membatalkan secara sepihak kesepakatan Perjanjian Renville dengan meyerang ibukota Yogyakarta. Atas perintah Panglima Besar Letnan Jenderal Soedirman, anak-anak Siliwangi pun harus kembali ke Jawa Barat. Maka berlakulah long march, perjalanan panjang puluhan ribu pasukan Siliwangi dan keluarga kembali ke tanah Pasundan di bawah ancaman serangan Belanda dan gerilyawan Darul Islam (DI).

Soehanda adalah salah satu peserta long march itu. Masih segar dalam ingatannya bagaimana sebagian anak-anak Yon 27 diangkut dari Stasiun Ambarawa lalu diturunkan begitu saja di kaki Gunung Merapi.

"Dari hutan Gunung Merapi kami harus memulai long march dengan berjalan kaki."

Seterusnya, mereka harus naik turun gunung dan sungai sambil menghadapi hujan peluru pasukan Belanda. Tak sedikit kawan-kawannya yang gugur dihantam tembakan pesawat Belanda selama perjalanan. Selain serangan militer Belanda, ancaman lain yang menghantui mereka adalah kelaparan.

"Kami tak pernah menemukan nasi, hanya jagung kering, umbi-umbian dan daun-daunan yang menjadi makanan kami sehari-hari saat itu."

Sudah Cukup Urus Negara

Sesudah 40 hari lebih berjalan menyusuri hutan, gunung dan sungai, Soehanda akhirnya sampai di Ciamis. Begitu sampai di tanah kelahirannya itu, tanpa banyak cakap ia langsung pergi ke rumahnya untuk melepas rindu kepada ayah dan ibunya. Namun alangkah pilu hatinya, saat sampai di rumah dia hanya mendapati cerita pilu dari ibunya.

"Sambil menangis, ibu bilang bahwa beberapa hari sebelumnya ayah meninggal ditembak Belanda saat akan pergi ke kebun," kenang Soehanda sambil meneteskan air mata.

Kendati diminta oleh ibunya untuk tetap tinggal di Ciamis, namun sebagai prajurit Soehanda tetap harus mengikuti kemana pasukannya bergerak. Dengan berat hati, dia lantas meninggalkan ibunya dan kembali bertugas di wilayah Sumedang untuk melanjutkan perlawanan menghadapi tentara Belanda.

Setahun kemudian, perang pun usai. Seiring terjadinya kesepakatan perdamaian antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda, Soehanda menghadap komandannya dan menyatakan ingin berhenti dari dinas militer.

"Saya memutuskan keluar karena terngiang terus kata-kata ibu saya: cukup sudah kamu mengurus negara, sekarang giliran emak kamu urus."

Permohonan itu lantas dikabulkan dan Soehanda pulang ke Ciamis untuk menjadi petani. Hingga masa-masa tuanya hari ini. Lantas kenapa dia tidak meneruskan karir kemiliterannya layaknya kawan-kawan dia?

"Tidak bisa. Saya sebetulnya orang yang tidak biasa dengan kekerasan, tapi karena tuntutan zaman ya bagaimana lagi, saya harus berjuang layaknya pemuda-pemuda pada masa itu," ujar Soehanda.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP