Kelaparan dan Tersesat di Perkampungan, Tentara Gurkha Ditawan & Diberi Nasi Bungkus
Merdeka.com - Mengalami kelaparan di tempat tugas, seorang serdadu Inggris dari unit Gurkha Rifles kesasar ke wilayah penduduk Republik. Ditawan setelah melakukan perlawanan.
Penulis: Hendi Jo
Cerita tentang serdadu Gurkha yang kelaparan karena pasokan logistik dari Jakarta terhambat merupakan sesuatu yang sudah lumrah terjadi pada awal 1946 di wilayah Ciranjang, Cianjur.
Menurut Raden Makmur, lelaki kelahiran Ciranjang pada 1928, akibat terjadinya situasi itu banyak serdadu Gurkha yang diam-diam nekat keluar dari posnya hanya untuk sekadar mencari pengganjal perut mereka.
"Mereka biasanya mencari ayam, telur ayam atau kambing, yang mereka dapatkan lewat cara mencuri atau merampok dari penduduk," ungkap Raden Makmur.
Jago Silat Kewalahan
Aksi nekat para serdadu kelaparan itu tak jarang menimbulkan insiden serius. Hal tersebut pernah terjadi di Kampung Kandang Sapi, Pasir Sengkong (masih di wilayah Ciranjang) dan sempat diabadikan oleh seorang peneliti sejarah bernama Wijaya dalam tulisannya berjudul 'Lasykar Hizbullah: Antara Jihad dan Nasionalisme Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945—1949'.
Tersebutlah seorang pejuang Indonesia dari laskar Hizboellah bernama Masturi. Pada suatu siang sekitar jam 10.00, dia mendapatkan laporan dari penduduk bahwa ada seorang serdadu Gurkha yang terpisah dari pasukannya terlihat sedang berjalan kebingungan di wilayah Kandang Sapi. Tanpa banyak bicara, usai mengambil seekor ayam, dia mengajak seorang kawannya untuk mencari Si Gurkha tersebut.
Ternyata benar, di suatu lahan sawah kering, mereka melihat seorang serdadu Gurkha lengkap dengan khukri (senjata tradisional Gurkha) dan senjata karaben-nya. Masturi lantas mendekatinya. Dengan bahasa isyarat, dia menawarkan ayam itu. Begitu Si Gurkha mengambil ayam, secepat kilat Masturi menjegal kakinya sambil merebut senjata Si Gurkha. Maka terjadilah perkelahian seru di sawah kering itu.
Kendati Masturi dikenal jago pencak silat, nyatanya dia tetap kewalahan menghadapi prajurit Gurkha yang juga pandai bermain ilmu bela diri sejenis kuntaw itu. Di jurus kesekian bahkan Si Gurkha berhasil menginjak kaki Masturi dengan sepatu militer-nya hingga jempol kaki kiri gerilyawan Hizbullah itu pecah dan berdarah.
Demi melihat posisi Masturi terdesak, kawannya dan seorang penduduk yang tadinya hanya menonton lalu terjun mengeroyok Si Gurkha. Sepandai-pandainya bermain kuntaw, akhirnya serdadu itu tak berdaya pula melawan tiga orang sekaligus. Sang Gurkha pun berhasil diringkus.
Tentara Gurkha Diberi Makan Nasi Bungkus
Setelah mengikat Si Gurkha, Masturi lalu membawanya ke markas Hizbullah Batalyon III di Pasir Nangka. Tak lupa mereka pun merampas karaben dan khukri milik lelaki Nepal itu.Ketika diinterogasi Si Gurkha ternyata bernama Dal Badur. Dia mengaku seorang muslim. Sebagai bukti bahwa dirinya seorang muslim, dia lantas menunjukan rambut di atas kepalanya yang dibiarkan memanjang .
Setelah diobati kakinya, Masturi sendiri ikut menginterogasi Dal Badur. Alih-alih marah karena kakinya dilukai, usai interogasi Masturi malah memeluk prajurit Gurkha itu lalu mengajaknya makan nasi bungkus dari dapur umum.
Tiga hari ditahan di Pasir Nangka, Dal Badur kemudian diserahkan kepada TKR. Namun demikian, karaben dan khukri-nya tidak ikut diserahkan dan menjadi milik Hizbullah Batalyon III. Beberapa bulan kemudian, Dal Badur bersama 4 prajurit Gurkha lainnya dipertukarkan dengan para pejuang Indonesia yang ditahan pihak Inggris.
Namun tidak semua tawanan itu bersedia dikembalikan ke pasukan induk. Salah seorang tentara Gurkha bernama Basin malah memilih untuk bergabung dengan para pejuang Indonesia di Ciranjang.
"Dia kemudian menjadi ajudan wedana Ciranjang selama revolusi berlangsung," kenang Makmur.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya