Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hikayat Cianjur: Berawal dari Kadaleman Cikundul, Pernah Diincar Kesultanan Banten

Hikayat Cianjur: Berawal dari Kadaleman Cikundul, Pernah Diincar Kesultanan Banten Pendopo Kabupaten Cianjur pada 1874. KITLV©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Berdiri dari sebuah kawasan mandiri, Cikundul yang kemudian menjadi Cianjur lantas jatuh dalam kekuasaan Mataram dan VOC. Sempat juga diincar Kesultanan Banten.

Penulis: Hendi Jo

Petilasan di Bukit Cijagang (masuk dalam wilayah Kecamatan Cikalong Kulon, Cianjur) itu nyaris setiap hari dikunjungi orang-orang. Tak hanya dari Cianjur, para peziarah pun ada yang datang dari Tasikmalaya, Bandung, Jakarta bahkan dari luar pulau Jawa.

Berduyun-duyun mereka datang hanya ingin meminta syafa’at dari Kanjeng Dalem Cikundul alias Aria Wiratanu I, kakek moyang dalem-dalem Cianjur yang dipercaya pernah bersemayam di bukit tersebut .

Banyak cerita-cerita legendaris sekitar Kanjeng Dalem Cikundul. Salah satunya yang paling favorit, Sang Dalem pernah menikahi seorang putri dari bangsa Jin. Konon, dari pernikahan itu lahir 2 putra dan 1 putri: Raden Eyang Aria Suryakencana, Raden Andaka Wirusajagat dan Raden Indang Sukaesih.

"Sampai sekarang mereka masih ada, Raden Suryakancana menjadi penguasa kerajaan jin di Gunung Gede, Raden Andaka menjadi penguasa kerajaan jin di Gunung Kumbang dan Raden Indang jadi ratu jin di Gunung Ceremai," kata A.M. Juhdi Al-Sadjili, sesepuh Cianjur kelahiran tahun 1924.

Desa Cikundul

Namun tak semua orang Cianjur percaya cerita itu. Salah satunya adalah Dadan (79).Yang paling mungkin, katanya, Aria Wiratanu I tertarik kepada seorang perempuan selain kedua istrinya yang sudah ada.

"Ya untuk meninggikan wibawanya saat itu, disebutlah dia telah menikah dengan puteri jin," ujar seniman yang aktif di Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC) tersebut.

Dalam bukunya berjudul Sejarah Cianjur, Gunawan Yusuf menyebut Aria Wiratanu I (terlahir sebagai Raden Jayasasana) merupakan keturunan raja-raja Talaga (salah satu negara bagian Kerajaan Pajajaran). Dia putera sulung dari Aria Wangsa Goparana, salah seorang putra Raja Talaga yang telah menganut Islam.

Laiknya anak-anak muda era itu, Raden Jayasasana tak luput dari hobi berpetualang. Tahun 1677, dalam sebuah petualangannya, dia menemukan sebuah kawasan subur di delta Sungai Citarum (sekarang masuk wilayah Cibalagung) yang saat itu termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Jampang Manggung.

Atas izin dari Patih Hibar Palimping, Raden Jayasasana lantas memutuskan untuk menetap dan mendirikan sebuah desa yang dia beri nama Cikundul. Dari sinilah gelar Dalem Cikundul mulai dia sandang.

Selanjutnya Jampang Manggung yang tidak memiliki lagi raja penerus, dilebur ke Kadaleman Cikundul, menyusul pernikahan yang terjadi antara Raden Jayasasana dengan putri Patih Hibar bernama Dewi Amitri. Di bawah pemerintahan menak yang kemudian bergelar Aria Wiratanu I itu, Cikundul mengalami perkembangan yang sangat baik. Mulailah orang-orang berdatangan dari berbagai sudut untuk menetap di sana.

Infiltrasi Banten

Sementara itu, di tengah persaingan politik antara Mataram, Banten, Cirebon dan VOC, Kadaleman Cikundul memilih sikap netral. Namun demikian, kekuatan-kekuatan besar di tanah Jawa tersebut bukannya tidak pernah mencoba menganeksasi wilayah subur itu. Sekitar Februari 1680, delapan ratus prajurit Banten pernah melancarkan infiltrasi ke wilayah ibu kota Cikundul namun berhasil dihalau.

"Dalam pertempuran itu, Banten kehilangan 47 prajuritnya. Namun kemenangan itu harus ditebus oleh banyak nyawa rakyat Cikundul termasuk satu lurah dan seorang panglima bernama Santaprana," ungkap Gunawan Yusuf.

Tahun 1691, Aria Wiratanu I mangkat. Dia lantas digantikan oleh salah seorang putranya yang bernama Aria Wiramanggala (bergelar Aria Wiratanu II). Di masa kepemimpinan Aria Wiratanu II, pusat pemerintahan berpindah ke Pamoyanan, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungai Cianjur. Sejak itu, nama Kadaleman Cikundul diubah menjadi Kadipaten Cianjur.

Menurut Nyi Mas Saripah Didoh dalam Babad Cianjur, keputusan Wiratanu II memindahkan pusat pemerintahan ke Pamoyanan (Cianjur) sungguhlah tepat. Selain memiliki tanah yang subur, kawasan tersebut secara geografis menjadi perlintasan kegiatan ekonomi yang ramai saat itu.

"Tidak aneh jika banyak orang-orang Jawa, Tanah Seberang, Tiongkok, Hindia dan Belanda datang ke Cianjur untuk berniaga," ungkap Nyi Mas Saripah.

Ketika Cianjur tengah berkembang itulah, ekspansi Kesultanan Mataram ke wilayah barat Jawa sedang gencar-gencarnya. Demi menghadapi situasi tersebut, Wiratanu II mengambil langkah 'taktis': menyatakan diri sebagai bagian dari Kesultanan Mataram. Karena 'pengakuan baik-baik' itu, Sunan Amangkurat II lantas menghadiahkan seekor kuda perang kepada delegasi Cianjur yang datang ke Kartasura (ibu kota Mataram) untuk diberikan kepada Wiratanu II.

Sayangnya, beberapa waktu kemudian Mataram takluk kepada VOC. Karena kekalahan itu pula pada 5 Oktober 1705, Mataram harus menyerahkan seluruh daerahnya di Jawa Barat kepada VOC, termasuk Cianjur. Otomatis dengan berlakunya perjanjian tersebut, mulai hari itu, Aria Wratanu II tercatat dalam sejarah sebagai regen VOC pertama dari Cianjur.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP