Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Demi Panglima Divisi Siliwangi, Kepala Mayor Abdurachman Ditembak Tentara Baret Hijau

Demi Panglima Divisi Siliwangi, Kepala Mayor Abdurachman Ditembak Tentara Baret Hijau Makam Mayor Abdurachman di Desa Cibubuan, Sumedang. Hendi Jo©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Komandan Batalyon II Tarumanegara dan sejumlah anak buahnya tewas dieksekusi pasukan khusus Belanda karena melindungi atasannya.

Penulis: Hendi Jo

Begitu berhasil menghentikan perlawanan para prajurit Batalyon II Tarumanegara, pasukan Baret Hijau Belanda menggiring para tawanan ke arah balai desa Cibubuan. Dalam nada keras, para prajurit Baret Hijau juga memerintahkan semua warga berkumpul di halaman balai desa, termasuk di antaranya adalah seorang lelaki muda bernama Adang.

"Semua orang disuruh untuk berjongkok di pinggir jalan, persis menghadap depan Balai Desa," ujarnya.

Saat matahari baru saja muncul, dari arah utara, Adang dan ratusan orang Leucang lainnya menyaksikan para prajurit Kompi Eric menggiring Mayor Abdurachman beserta dua ajudannya: Sersan Sobur dan Kopral Karna. Dalam kondisi hanya mengenakan pakaian dalam, tangan mereka terbelenggu ke belakang.

"Pak Mayor berjalan dengan todongan pistol di pelipisnya," kenang Adang.

Ditembak Kepalanya

Tepat di depan Adang, Abdurachman diperintahkan berhenti. Sementara Sobur dan Karna disuruh berdiri di pintu masuk Balai Desa. Mereka ada dalam posisi membelakangi Mayor Abdurachman.

Abdurachman diberondong berbagai pertanyaan. Seorang Baret Hijau bumiputra secara kasar menanyakan keberadaan Letkol Sadikin. Alih-alih buka suara, Abdurachman diam seribu bahasa. Pertanyaan diulang sekali lagi. Namun sang mayor tetap bungkam.

Letnan Ulrici naik pitam. Tanpa banyak bicara, dia membidik kepala Kopral Karna dari arah belakang dengan pistolnya. Dor! Karna terpental ke depan dan tak berkutik lagi.

"Mayor, silakan Anda sebut di mana posisi Overste Sadikin?!" teriak Ulrici.

Sang Mayor tetap saja bungkam.

Letnan Ulrici lantas menarik Sersan Sobur ke depan Mayor Abdurachman lalu menembak kepalanya. Darah muncrat dan membasahi halaman balai desa. Seolah kurang puas, seorang anggota Baret Hijau memberondong kedua jasad itu dengan Owen-nya. Para perempuan menjerit. Kaum lelaki hanya bisa terdiam. Sebagian memalingkan muka atau menundukan kepalanya.

Mayat Mereka Dilempar ke Selokan

Dengan kasar, Ulrici dan seorang pengawalnya yang bersenjata Brengun membawa Abdurachman ke arah selatan. Sekitar 100 meter, mereka berhenti di depan rumah milik Madkosim. Menurut kesaksian Sahlan, salah seorang warga yang lolos dari pembersihan dan sembunyi di rumahnya, dari sesela bilik bambu dia menyaksikan Ulrici menyuruh Abdurachman duduk di tangga pintu masuk.

"Mayor! Apakah Anda akan memilih diam terus?!" teriaknya."Tembak saja saya!" jawab Abdurachman. Pelan namun terdengar tegas.

Ulrici patuh. Dia lantas menempelkan moncong pistol ke dahi Abdurachman. Dor! Peluru menembus batok kepala sekaligus menghabisi nyawa Abdurachman seketika. Pengawal Ulrici lalu memeriksa jasad Abdurachman. Setelah dipastikan tak bernyawa lagi, dia lantas menembakkan Brengun-nya ke angkasa, seolah tanda kemenangan.

Setelah mengikat kaki dan tangan jasad Abdurachman, Ulrici memanggil Sabja. Dia memerintahkan pemuda itu membawa jasad Abdurachman kembali ke balai desa. Sesampai di sana, jasad Abdurachman diletakkan dalam posisi duduk di bawah panji Yon II Tarumanegara yang koyak, sementara darah terus mengucur dari kepalanya, membasahi kaos dalam putih-nya.

"Jasad Pak Mayor lalu difoto-foto oleh salah seorang dari Baret Hijau," kenang Adang.

Sekitar pukul 10.00, pasukan Baret Hijau menggiring tawanan, termasuk Kapten Edi dan dua pengawalnya, Sersan Roni dan Prajurit Saleh, ke arah Buah Dua. Saat melintas di Kampung Buganggeureung, tiga prajurit Yon II Tarumanegara itu dieksekusi dan mayat mereka dilempar ke selokan.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP