Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Asal Muasal Garong di Indonesia

Asal Muasal Garong di Indonesia Tentara Belanda menangkap orang-orang Indonesia yang dianggap garong. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Kemunculan kaum kriminal jenis baru merebak di Jawa antara 1945-1949. Sisa-sisa zaman Jepang.

Penulis: Hendi Jo

Pasca Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, kelompok-kelompok bersenjata muncul di mana-mana. Baik besar maupun kecil. Jika grup-grup besar membentuk milisi yang berafiliasi dengan partai-partai politik, maka kelompok-kelompok kecil berdiri sendiri dengan menempati wilayah tertentu. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka malah menjadi gerombolan-gerombolan kriminal yang kegiatannya merampok rakyat.

Di jalur Tagogapu-Padalarang, muncul kelompok jenis tersebut. Mereka biasa beraksi di atas jam 16.00 dengan mencegat kendaraan-kendaraan yang lewat atau para pedagang yang akan berangkat ke Bandung.

Menurut Arnasan (94), sejatinya orang-orang yang bergabung dalam kelompok liar itu adalah eks para romusha (pekerja paksa di era bala tentara Jepang berkuasa) yang baru kembali dari Sumatera, Kalimantan bahkan Burma (Myanmar) dan Thailand.

"Entah bagaimana mereka kemudian menjadi orang-orang jahat yang kerjaannya merampok orang-orang yang lewat di wilayah Padalarang dan sekitarnya," ungkap lelaki yang masa mudanya dihabiskan untuk berdagang keliling itu.

Asal Kata Garong

Karena status mereka bekas romusha, orang-orang sekitar tempat itu kemudian mengidentifikasi mereka sebagai garong. Singkatan dari gabungan romusha ngamuk. Istilah inilah yang selama revolusi berkecamuk cukup mengganggu masyarakat dan menjadi momok menakutkan. Mereka bukan saja dicari oleh pihak keamanan Republik namun juga diincar oleh tentara Belanda.

"Para garong ini tidak peduli korbannya orang Republik atau pihak Belanda, selama berharta dan berduit maka mereka akan menyikatnya tanpa ampun," ujar Arnasan.

Soal gejala munculnya garong ini dikonfirmasi oleh penulis kawakan Pramoedya Ananta Toer. Dalam sebuah karyanya yang berjudul Jalan Raya Pos Jalan Daendels, dia menuturkan pengalaman pribadinya semasa menjadi seorang prajurit TKR (Tentara Keamanan Rakjat) berpangkat sersan mayor di Resimen Cikampek.

Pram berkisah suatu hari di akhir tahun 1945, dirinya diutus oleh komandannya Letnan Kolonel Moeffreni Moe’min untuk menyampaikan sepucuk surat kepada seorang komandan di wilayah Padalarang bernama Doejeh. Bisa jadi yang dimaksud oleh Pram sebagai Doejeh adalah Mayor Doejeh Soeharsa, salah satu komandan batalyon yang masuk dalam Resimen Cililin.

"Tapi sebagai rendahan, aku tak dapat bertemu dengannya. Anak buahnya yang menyampaikan surat yang kubawa. Aku harus menunggu di luar, ditemani prajurit-prajurit yang lain," ungkap Pram.

Kala bercengkerama dengan para prajurit Resimen Cililin inilah, Pram mendengar cerita salah seorang dari mereka mengenai banyaknya garong merajalela di wilayah Padalarang dan sekitarnya (termasuk Cililin). Menurut sang prajurit, para garong itu terdiri dari kelompok-kelompok bersenjata yang tidak bergabung dengan tentara dan laskar atau pihak Belanda.

"Mereka melakukan perampokan di mana saja bila dianggap tak ada penjagaan yang kuat," tulis Pram.

Para garong ini biasanya merampok dengan menggunakan senjata api pendek. Senapan atau karabin pun digergaji larasnya menjadi pendek dan mudah disembunyikan di balik sarung.

"Ketika aku tanya apa artinya garong, mereka menjawabnya: singkatan dari gabungan romusha ngamuk," ungkap tentara yang kemudian banting setir menjadi sastrawan itu.

Anak Muda Garong

Istilah garong yang memiliki makna yang sama juga ada di wilayah Banyumas. Hal ini diungkap oleh M. Alie Humaedi, seorang peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dalam sebuah tulisan hasil risetnya berjudul "Gaboengan Romusha Ngamoek: Pertarungan Kekerasan di Kaki Pegunungan Dieng Banjarnegara (1942-1957)".

Menurut Humaedi, antara tahun 1942-1957, di wilayah-wilayah seperti Kalibening, Karangkobar, Batur, Paweden, Wanayasa, Pekalongan atas dan Wonosobo, muncul kelompok-kelompok penjahat yang dijuluki khalayak sebagai garong.

Kendati kepanjangan sama dengan garong yang berada di Jawa Barat, namun para eks romusha yang terlibat bukanlah berasal dari seberang, melainkan romusha lokal.

"Mereka terdiri dari anak-anak muda yang pernah dipekerjakan oleh bala tentara Jepang di wilayah keresidenan masing-masing," ujar Humaedi.

Maling Suci

Bagi masyarakat yang berada di wilayah Keresidenan Banyumas, garong adalah nama kelompok yang seutuhnya penjahat. Mereka melakukan perampokan kepada siapapun, tanpa pandang bulu, dan bertujuan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sebagai paradoks dari mereka ada yang disebut maling suci.

"Berbeda dengan garong, maling suci menjalankan perampokan hanya kepada orang-orang kaya yang dinilai pro Belanda. Mereka pun kerap membagikan hasil rampokan mereka kepada orang-orang tak berpunya,” ujar Humaedi.

Orang-orang maling suci itu, bukan saja pro rakyat kecil namun juga ikut memerangi para garong. Mereka seolah menjadi 'kekuatan putih', sedangkan garong adalah 'kekuatan hitam'.

Uniknya, para malin suci dan garong sama-sama dimusuhi oleh pihak Belanda dan aparat resmi Indonesia. Namun khusus untuk maling suci, mereka diam-diam dilindungi oleh masyarakat. Persis seperti komplotan Robin Hood yang dilindungi masyarakat sekitar hutan Sherwood (Inggris) ratusan tahun yang lalu.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP