Taman Bacaan Pelangi mulai menarik perhatian dunia internasional

Sabtu, 6 September 2014 17:27 Reporter : Tim Merdeka
Taman Bacaan Pelangi. ©2014 tamanbacaanpelangi.com

Merdeka.com - Hampir lima tahun berjalan, Taman Bacaan Pelangi telah memiliki 28 perpustakaan anak yang tersebar di 14 pulau di daerah Indonesia timur. Tidak heran jika semakin banyak orang yang terpanggil untuk ikut berbuat sesuatu bersama taman bacaan ini, bahkan mereka yang bukan berasal dari Indonesia.

Sudah sejak setahun lalu organisasi nirlaba bentukan Nila Tanzil ini bekerjasama dengan World Horizon dalam penyediaan tenaga relawan yang berasal dari luar Indonesia. Organisasi nirlaba yang berkantor di Jerman tersebut memang kerap mendukung program-program masyarakat lokal dari seluruh dunia yang bergerak pada isu-isu pendidikan, seperti halnya Taman Bacaan Pelangi yang sudah berdiri sejak Desember 2009 ini.

Seperti pada tahun sebelumnya, tahun 2014 Taman Bacaan Pelangi kedatangan 3 relawan asing yang akan membantu program kerja Taman Bacaan Pelangi selama 1 tahun, salah satunya adalah Paul. Pria berkebangsaan Jerman yang baru saja menyelesaikan sekolahnya ini mengaku ingin melakukan sesuatu dahulu sebelum melanjutkan pendidikan formalnya ke tingkat universitas. "Ketika di Jerman diberitahu kalau di Indonesia ada organisasi Taman Bacaan Pelangi yang kerjanya membantu pendidikan anak-anak di daerah pelosok dengan mendirikan taman baca, ujarnya dalam bahasa inggris dengan sedikit campuran bahasa Indonesia. Ya, sudah selama 1 bulan terakhir ini Paul mulai mempelajari bahasa Indonesia.

Terbukti gagasan Taman Bacaan Pelangi yang bertujuan untuk memudahkan akses anak-anak daerah pelosok terhadap buku bacaan yang baik dan juga meningkatkan minat baca mereka, sangat disukai oleh Paul. Inilah alasan utama yang membawa Paul jauh-jauh datang dari dataran Eropa untuk tinggal selama satu tahun di daerah-daerah pelosok timur Indonesia yang beberapa di antaranya masih terkendala kurangnya pasokan listrik. Meskipun begitu, Paul tidak memungkiri keindahan alam Indonesia juga berperan penting dalam membulatkan tekadnya untuk memilih Taman Bacaan Pelangi sebagai tempat yang ia tuju. "Indonesia punya banyak sekali pantai, jauh berbeda dengan Jerman, di sana hanya ada laut utara dan selatan. Jadi menurut saya, tidak ada akses listrik atau internet tidak akan menjadi masalah. Selain saya di sini punya tugas yang harus diselesaikan, di sini juga alamnya bagus sekali, jadi tidak masalah," ujarnya. Selama satu tahun, Paul akan menempati 3 taman baca dengan durasi masing-masing 4 bulan.

Para relawan asing ini nantinya akan ikut membantu para relawan di masing-masing daerah mengajarkan anak-anak Taman Bacaan Pelangi untuk membaca dan menulis, serta mengajarkan bahasa Inggris. "Nanti, Paul ini juga akan ngajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah. Setelah jam sekolah selesai, baru nanti dilanjut dengan kegiatan di taman baca," jelas Nila Tanzil. Kegiatan di Taman Bacaan Pelangi memang selalu dilakukan setelah jam sekolah. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh para relawan cukup beragam di masing-masing taman baca, namun tetap berada dalam satu konsep yang sama, yaitu menyenangkan. Menggambar, mendongeng, sampai berbagai aktivitas luar ruangan adalah beberapa kegiatan yang dilakukan di taman bacaan yang memiliki kurang lebih 1000 koleksi buku anak di masing-masing tempatnya ini.

Taman Bacaan Pelangi memiliki sistim rolling buku di tiap taman bacaan. Dalam kurun waktu tertentu, koleksi buku-buku akan diperbarui dengan mengopernya dari satu taman baca ke taman bacaan lainnya, namun sistim ini diakui Nila hanya bisa berlaku di taman bacaan yang terletak di Pulau Flores, mengingat kesulitan akses transportasi serta mahalnya biaya angkut di berbagai daerah di pelosok Indonesia timur. "Jadi untuk di daerah-daerah pelosok banget yang susah untuk diberlakukan sistim rolling, otomatis jumlah buku-bukunya lebih banyak," ujarnya.

Banyaknya buku-buku yang ada di taman bacaan ini berasal dari sumbangan para relawan. Berawal dari koleksi pribadi Nila sendiri, lalu Ia mengajak orang-orang sekitarnya untuk ikut mendonasikan buku-buku bekas, sampai bekerjasama dengan beberapa toko buku untuk menyediakan tempat pengumpulan donasi buku bekas yang sewaktu-waktu akan diambil lalu disalurkan ke taman-taman bacaan di daerah pelosok.

Nila mengakui perkembangan Taman Bacaan Pelangi yang seperti sekarang ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Jauh di luar ekspektasi. Tidak pernah menyangka kalau dalam 5 tahun kita udah bisa punya hampir 30 perpustakaan," jawab Nila. Perpustakaan ke 28 Taman Bacaan Pelangi yang terletak di Kota Mulia, Puncak Jaya, adalah juga perpustakaan Taman Bacaan Pelangi pertama di Papua. Nila juga menambahkan kalau belakangan ini mulai banyak mahasiswa Indonesia yang mau bergabung menjadi relawan, baik itu mahasiswa Indonesia yang berada di sini, ataupun mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri.

Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan anak melalui buku bacaan yang baik juga semakin terasa dengan pola pendirian taman baca yang mulai berubah beberapa waktu belakangan. Nila menjelaskan ketika awal-awal ide ini tercetus, dirinya dan beberapa kolega sibuk mencari tempat yang bisa dijadikan taman bacaan di suatu daerah. Mulai dari cara door-to-door, hingga ada bantuan dari pihak Dinas Pendidikan, sampai akhirnya tawaran pembukaan taman bacaan itu datang sendiri kepada Nila. "Tapi kita juga gak bisa menyanggupi semua tawarannya, karena harus kita analisis dulu tempatnya. Siapa yang akan mengelola, jarak dari tempat tinggal penduduk ke taman bacaan itu berapa jauh, dan teknis lainnya," pungkas Nila.

Taman Bacaan Pelangi juga memiliki program tahunan rutin untuk para pengelola dan relawan di masing-masing taman baca. Setidaknya sekali dalam setahun, para relawan akan dikumpulkan di Labuan Bajo, Flores, untuk mengikuti seminar dan workshop mengenai pengajaran dan pendidikan anak atas kerjasama dengan Dinas Pendidikan. Pembekalan ini tentunya sangat diperlukan mengingat relawan dan pengelola di lapangan tidak semuanya berasal dari tenaga pengajar, tetapi ada juga yang berprofesi sebagai petani dan nelayan.

Pengelolaan di masing-masing taman baca juga berbeda-beda, bergantung pada siapa yang mengelola. Ada taman bacaan yang bisa buka setiap hari, namun ada juga yang tidak. Misalnya taman baca yang dititipkan pengelolaannya pada seorang nelayan yang tentunya harus melaut. Untuk hal semacam ini Nila menekankan agar setidaknya taman bacaan bisa melayani anak-anak sekali dalam seminggu.

Selama lima tahun berkiprah, Taman Bacaan Pelangi kerap menjadi tujuan kegiatan sosial beragam perusahaan baik dari dalam maupun luar negeri sebagai bentuk CSR. Seiring perjalannya, semakin banyak orang-orang yang peduli dan mengapresiasi misi yang diemban oleh Nila Tanzil bersama Taman Bacaan Pelangi. Berkat dedikasinya terhadap pendidikan anak-anak, Nila Tanzil bersama dengan Taman Bacaan Pelangi telah mengantongi 2 penghargaan tinggi dari pemerintah pada tahun 2013, yaitu penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka kategori masyarakat dan media dari Perpustakaan Nasional, serta penghargaan Kartini Next Generation dalam bidang pembangunan masyarakat dari Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Untuk kelanjutannya, Nila Tanzil memiliki harapan bahwa Taman Bacaan Pelangi bisa terus berkembang dan terus menjalar di setiap daerah pelosok Indonesia. "Intinya sih melalui taman bacaan ini aku berharap tidak ada lagi anak Indonesia yang tidak punya akses pada buku bacaan yang baik dan berkualitas," ucapnya tegas. Tentunya ini juga menjadi harapan kita semua mengingat mereka yang terus rajin membaca di Taman Bacaan Pelangi itu ialah juga bagian dari generasi penerus bangsa Indonesia di masa mendatang. [hwa]

Topik berita Terkait:
  1. Merdeka Berbagi
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini