Saat musim panas datang dan suhu makin naik, pakaian makin tipis, dan interaksi fisik makin intens—entah di konser, MRT, kantor, atau pameran seni. Dalam suasana ramai itu, kita jadi lebih sering mencium dan dicium oleh aroma tubuh sesama manusia.
Di tengah keharuman parfum floral dan aroma laut yang menggantikan wangi-wangian musim dingin, pertanyaan ini mengemuka: Haruskah memakai deodoran menjadi bagian dari kontrak sosial? Topik ini terdengar sepele, tapi ternyata punya akar sejarah, budaya, hingga psikologis yang cukup dalam. Yuk, kita bahas dengan lebih pelan (dan wangi).
Advertisement
Deodoran: Antara Pilihan Pribadi dan Norma Sosial
Pasar deodoran saat ini sangat luas. Mulai dari roll-on, aerosol, krim tubuh, tisu, hingga bedak. Tersedia dalam varian untuk pria, wanita, remaja, bahkan non-binary. Nilai industrinya? Sekitar 27 miliar dolar per tahun! Tapi, meskipun terlihat semua orang ingin menghindari bau badan, nyatanya persoalan ini tidak sesederhana itu.
Menurut Dr. Alicia Zalka, dermatologis dan pendiri Surface Deep, memakai deodoran dan ‘berbau segar’ pada awalnya bukan semata-mata karena kebersihan, melainkan karena privilege.
Di masa lalu, sebelum ada pipa air dan mandi harian, hanya orang-orang kaya yang bisa menyembunyikan bau badan dengan parfum mahal atau bedak wangi. Artinya, bau badan — atau ketiadaan bau — telah lama menjadi simbol status sosial.
Advertisement
Apakah Bau Badan Itu Subjektif?
Secara teknis, ya. Bau adalah hasil dari bakteri yang berinteraksi dengan keringat di kulit kita. Tapi menariknya, ada ironi di balik hal ini: bau badan atau “musk” juga digunakan dalam parfum mahal seperti Tom Ford White Suede atau Maison Margiela Lazy Sunday Morning.
Dulu, musk diperoleh dari kelenjar rusa jantan, kini dibuat secara sintetis demi alasan etika. Dan anehnya, banyak yang menganggap aroma musk ini sensual dan memikat. Tapi kapan musk dianggap seksi dan kapan dianggap menjijikkan? Jawabannya: konteks sosial.
Advertisement
Bau Tubuh sebagai Bahasa Tubuh Nonverbal
Julia Childs, seorang terapis klinis, menyatakan bahwa menjaga kebersihan tubuh, termasuk memakai deodoran, adalah bagian dari norma sosial dasar di masyarakat modern. “Itu sinyal bahwa seseorang berfungsi secara normal,” ujarnya. Dengan kata lain, kita tidak hanya berpakaian rapi atau berbicara sopan untuk menghargai orang lain—kita juga diharapkan untuk tidak bau.
Bahkan, menurut studi dari National Institutes of Health (2021), orang dengan kepercayaan diri tinggi cenderung memiliki bau tubuh alami yang lebih menyenangkan. Bau badan juga disebut sebagai "sinyal komunikasi sosial nonverbal"—ia menunjukkan seperti apa kita merawat diri dan bagaimana kita ingin dilihat di ruang publik.
Advertisement
Antara Bau Keringat dan Konsensualitas
Meskipun tidak ada laporan ilmiah yang menunjukkan seseorang bisa sampai muntah karena mencium bau badan orang lain, reaksi tubuh kita terhadap bau tetaplah sangat pribadi dan bisa memicu rasa jijik, tidak nyaman, atau bahkan trauma. Ini jadi rumit karena kita tidak bisa mengontrol sensitivitas penciuman orang lain.
Itulah mengapa Julia Childs menyebut bau badan yang menyengat sebagai bentuk “pelanggaran batas sosial”, terutama saat kita berada dalam jarak dekat dengan orang lain. “Bayangkan ada semacam gelembung aroma di sekitar tubuh kita. Baik wangi parfum maupun aroma alami—idealnya hanya bisa dicium ketika seseorang sangat dekat dengan kita,” katanya. Ketika gelembung itu bocor dan aromanya menyebar tanpa diundang, kita bisa dianggap melewati batas.
Advertisement
Konsensus Tak Tertulis: Kontrak Sosial Tentang Aroma
Dalam konsep kontrak sosial, masyarakat menyepakati norma-norma tak tertulis demi kenyamanan bersama. Kita menahan kentut di ruang publik, menurunkan volume suara saat di perpustakaan, dan mengantre dengan tertib. Apakah memakai deodoran bisa digolongkan ke dalam kontrak sosial ini?
Jawabannya, tampaknya, iya—terutama dalam masyarakat urban yang padat dan banyak bersentuhan fisik. Memakai deodoran atau menjaga agar tubuh tidak mengeluarkan aroma menyengat merupakan bentuk penghormatan terhadap ruang personal orang lain.
Namun perlu dicatat, ini tidak sama dengan memaksakan standar kecantikan atau menolak tubuh alami. Justru ini tentang kesadaran sosial dan konsensualitas aroma. Seperti kita tak ingin orang memaksakan bau parfum mereka ke hidung kita, kita pun tidak berhak memaksa orang lain menerima bau ketiak kita yang menyengat.
Advertisement
Jangan Lupa Konteks Budaya
Penting juga untuk memahami bahwa setiap budaya punya persepsi berbeda tentang bau tubuh. Beberapa budaya menganggap bau alami sebagai bagian dari identitas dan daya tarik. Di sisi lain, budaya barat cenderung mengasosiasikan bau badan dengan kemalasan atau ketidakbersihan. Maka, sebelum menjatuhkan penilaian atau menghakimi seseorang karena bau tubuhnya, kita juga harus mempertimbangkan konteks sosial dan kultural mereka.
Advertisement
Antara Kebebasan Pribadi dan Tanggung Jawab Sosial
Kita punya hak untuk memilih memakai deodoran atau tidak. Tapi hak itu datang dengan tanggung jawab: apakah kehadiran kita (dan aroma tubuh kita) mengganggu kenyamanan orang lain?
Menjaga bau tubuh bukan sekadar soal kosmetik, tapi bisa menjadi bentuk empati. Sama seperti kita menjaga sikap, kata-kata, dan ekspresi agar tidak menyinggung orang lain, menjaga aroma tubuh juga adalah bentuk penghormatan terhadap ruang sosial bersama.
Jadi, apakah memakai deodoran sebaiknya masuk dalam kontrak sosial? Mungkin tidak secara eksplisit. Tapi jika tujuannya adalah menciptakan lingkungan sosial yang saling nyaman, sehat, dan penuh respek — mungkin sudah saatnya kita menganggapnya begitu.