Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dari perayaan yang meriah hingga momen hangat di penghujung bulan, Ramadan bukan hanya sekadar waktu untuk beribadah, tetapi juga penuh dengan kenangan yang tak terlupakan.
Beragam tradisi unik yang telah ada sejak zaman dahulu menjadi bagian integral dari keindahan bulan suci ini. Tradisi seperti pawai obor dan perang sarung menjadi simbol kebersamaan dan keceriaan yang sulit dilupakan. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak tradisi ini mulai memudar akibat perubahan zaman.
Sekarang, di era digital dan dengan perubahan gaya hidup, suasana meriah Ramadan perlahan-lahan berkurang. Tradisi yang dulunya penuh semangat dan hiburan kini semakin jarang dijumpai, terutama di kawasan perkotaan. Apa saja tradisi Ramadan yang kian hilang? Yuk, simak penjelasannya berikut ini, dirangkum Merdeka.com, Rabu (22/1).
Advertisement
1. Pawai Obor dan Tabuhan Bedug Keliling Kampung
Masyarakat di Kota Pontianak memiliki tradisi unik menjelang bulan suci Ramadan, yaitu mengadakan pawai obor yang dimeriahkan dengan tabuhan bedug dan kentongan.
Dalam hal ini, baik anak-anak maupun orang dewasa turut serta dengan semangat yang tinggi. Selain itu, pada malam takbiran sebelum Idul Fitri, suasana semakin hidup dengan suara takbir dan cahaya obor yang menerangi malam.
Namun, saat ini, pawai obor hanya dapat ditemukan di beberapa daerah, terutama di pedesaan. Di kota-kota besar, tradisi ini mulai tergantikan oleh kegiatan di masjid yang menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan takbiran.
Hilangnya tradisi ini membuat banyak orang merindukan momen kebersamaan yang dapat menghangatkan hati.
Advertisement
2. Mengisi Buku Agenda Ramadan
Menurut kalsel.kemenag.go.id, kebiasaan mengisi buku agenda Ramadan sangat populer di kalangan pelajar. Buku ini berfungsi untuk mencatat kegiatan ibadah harian seperti salat, puasa, dan tadarus. Seringkali, para siswa berlomba-lomba untuk menyelesaikan agenda mereka demi mendapatkan penghargaan dari guru.
Tradisi ini memiliki tujuan yang baik, yaitu untuk memotivasi anak-anak agar lebih rajin dalam beribadah selama bulan Ramadan. Namun, seiring dengan berkurangnya sekolah yang memberikan buku agenda ini, kenangan akan pengisian buku Ramadan kini hanya menjadi cerita bagi generasi saat ini.
Diharapkan agar para siswa tetap disiplin dan mempelajari setiap aktivitas ibadah yang tercatat di dalam buku tersebut. Buku ini juga berfungsi sebagai panduan bagi siswa untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan syariat Islam.
Advertisement
3. Berburu Tanda Tangan Imam Tarawih
Sejalan dengan kebiasaan mengisi buku agenda Ramadan, anak-anak sering kali mencari tanda tangan imam setelah melaksanakan salat berjamaah. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana interaksi sosial, tetapi juga menjadi momen yang menyenangkan bagi anak-anak di masjid.
Sayangnya, saat ini tradisi tersebut semakin jarang dijumpai. Dengan adanya digitalisasi dan perubahan dalam cara beribadah, aktivitas seperti ini perlahan mulai ditinggalkan. Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, tradisi ini menyimpan kenangan manis tentang masa kecil yang tak terlupakan.
Advertisement
4. Perang Sarung
Permainan perang sarung merupakan salah satu aktivitas yang sangat digemari oleh anak-anak di masa lalu. Dengan menggunakan sarung yang digulung, mereka seringkali bermain bersama saat ngabuburit atau setelah melaksanakan salat. Aktivitas ini mampu menciptakan suasana ceria dan kebersamaan di antara mereka tanpa adanya niatan untuk melukai satu sama lain.
Namun, sayangnya, permainan ini kini semakin jarang dijumpai, terutama di kawasan perkotaan. Salah satu penyebab utama hilangnya tradisi ini adalah pergeseran minat anak-anak yang lebih memilih bermain di dunia digital.
Advertisement
5. Berkeliling Membangunkan Sahur
Tradisi membangunkan sahur di masyarakat sering dilakukan dengan menggunakan kentongan, drum bekas, atau alat-alat lain yang sederhana. Anak-anak dan remaja biasanya berkeliling kampung sambil berteriak, "Sahur... sahur!" Aktivitas ini tidak hanya menyatukan warga, tetapi juga menumbuhkan semangat untuk bangun lebih awal.
Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini mulai tergantikan oleh pengumuman dari masjid yang menggunakan pengeras suara. Meskipun cara ini lebih praktis, hilangnya momen kebersamaan saat sahur membuat suasana Ramadan terasa berbeda dan kurang hangat.
Advertisement
6. Jalan-Jalan Setelah Salat Subuh
Setelah melaksanakan salat subuh berjamaah, jalan-jalan menjadi salah satu tradisi yang menyenangkan di bulan Ramadan. Anak-anak seringkali berkeliling kampung dengan teman-teman seusia mereka, merasakan segarnya udara pagi sebelum matahari muncul.
Tradisi ini tidak hanya memperkuat ikatan persahabatan, tetapi juga menjadi cara yang menyenangkan untuk mengusir rasa kantuk. Sayangnya, dengan semakin padatnya rutinitas dan perubahan kebiasaan di kalangan anak-anak, tradisi ini semakin jarang ditemui saat ini.
Advertisement
7. Bermain Meriam Bambu
Meriam bambu merupakan salah satu permainan tradisional yang sangat terkenal selama bulan Ramadan. Anak-anak dan remaja biasanya memanfaatkan bambu besar yang diisi dengan bahan bakar sederhana untuk menghasilkan suara letusan yang keras dan menghibur.
Permainan ini seringkali dilakukan saat ngabuburit, sehingga menciptakan suasana khas Ramadan yang penuh keceriaan. Namun, seiring dengan alasan keamanan dan proses modernisasi, tradisi bermain meriam bambu kini semakin jarang dijumpai.
Mengutip ANTARA, untuk tahun 2025 ini, pemerintah telah menetapkan tanggal libur di bulan Ramadan. Merujuk Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri yang mengatur perihal pembelajaran saat bulan Ramadhan 2025 pada Selasa, libur bulan puasa akan berlangsung pada pekan pertama di tanggal 27 dan 28 Februari serta tanggal 3, 4, dan 5 Maret 2025.
Dengan adanya libur ini, tradisi ramadan yang lama tidak ada bisa kembali dibangkitkan sebagai ajang nostalgia.
Advertisement
Mengapa tradisi Ramadan zaman dulu mulai hilang?
Tradisi Ramadan zaman dulu mulai hilang karena perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan digitalisasi yang mengubah cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.
Advertisement
Apakah tradisi Ramadan zaman dulu masih bisa dilestarikan?
Ya, tradisi Ramadan dapat dilestarikan dengan dukungan komunitas, keluarga, dan pemerintah dalam mengadakan kegiatan yang menghidupkan kembali budaya lokal.
Advertisement
Apa manfaat melestarikan tradisi Ramadan?
Melestarikan tradisi Ramadan membantu menjaga nilai kebersamaan, mempererat hubungan sosial, dan memberikan pengalaman budaya kepada generasi muda.
Advertisement
Apakah tradisi Ramadan zaman dulu hanya dilakukan di pedesaan?
Tidak, tradisi Ramadan zaman dulu juga dilakukan di perkotaan. Namun, tradisi ini lebih banyak bertahan di pedesaan karena budaya kolektif yang masih kuat.
Advertisement
Bagaimana cara mengajarkan tradisi Ramadan kepada generasi muda?
Generasi muda dapat diajarkan tradisi Ramadan melalui kegiatan keluarga, program sekolah, atau acara komunitas yang melibatkan mereka secara langsung.