Tahukah kamu apa yang digunakan wanita zaman dulu sebagai pembalut?

Tahukah kamu apa yang digunakan wanita zaman dulu sebagai pembalut? Mulai dari daun papirus, kulit pohon aras (cedar), spons laut, lugut pakis, rumput, sampai kertas. Ada juga yang menggunakan wol dan kulit kerbau.

Tantri Setyorini
Oleh Tantri Setyorini - Reporter
Tahukah kamu apa yang digunakan wanita zaman dulu sebagai pembalut?
Spons (sea sponge) alami. ©The Sea Sponge Company

Pembalut atau tampon sudah menjadi bagian dari tradisi wanita selama ribuan tahun. Produk kesehatan dan kebersihan wanita ini telah mengalami perkembangan dari masa ke masa sampai ke bentuk bantalan dan silinder yang kita kenal sekarang. Tetapi bentuk pembalut di zaman dulu jauh lebih sederhana dan mungkin meragukan dari sisi higienitas. Pasalnya teknologi saat itu memang belum semaju sekarang. Jadi para wanita harus bersabar dengan pembalut yang tak nyaman dan bisa jadi membahayakan kesehatan.

Dari daun papirus, kulit pohon, sampai spons laut

Menurut jurnal medis tertua di dunia, Papirus Ebers, lembaran yang terbuat dari serat tumbuhan papirus digunakan oleh wanita Mesir kuno untuk mencegah darah menstruasi menodai pakaian. Praktik ini dilakukan pada abad 15 SM. Papirus merupakan tumbuhan yang mudah ditemui di Mesir dan biasa digunakan sebagai bahan pembuatan kertas. Untuk membuat lembaran pembalut, daun papirus kering disiram dengan air sampai lengket. Getah lengket tersebut berfungsi sebagai lem untuk merekatkan beberapa lembar daun sekaligus.

Wanita dari suku pribumi Amerika menggunakan kulit pohon sebagai pembalut. Umumnya yang dipakai adalah bagian dalam kulit pohon aras (cedar) yang relatif lunak. Kulit pohon ini cukup tipis, ringan, dan memiliki daya serap lumayan. Sementara wanita dari kawasan Mediterania seperti Yunani lebih memilih bahan alami dari laut seperti spons (porifera).

Hapu'u. ©Wikimedia Commons Hapu'u. ©Gotcraft.com

Di Hawaii, sejenis tumbuhan paku yang disebut hapu'u biasa digunakan untuk tujuan ini. Hapu'u memiliki bagian ujung yang tertutup sejenis bulu. Inilah yang dipakai sebagai kain pembalut.

Di antara sekian banyak bahan yang digunakan sebagai pembalut oleh para wanita zaman dulu, barangkali rumput terdengar paling tak nyaman. Bahan ini umum digunakan di Afrika dan Australia.

Perempuan Romawi memilih wol, semetara wanita Arikara menggunakan kulit kerbau

Di zaman Romawi dan Yunani kuno, wol juga cukup sering dipakai untuk menyerap darah menstruasi. Bahan ini relatif lembut dan memiliki daya serap yang baik. Penggunaan wol disebutkan oleh ahli kesehatan kuno Hippokrates dalam catatan medisnya.

Para wanita dari suku Arikara, Amerika memanfaatkan kulit kerbau sebagai pembalut tradisional. Proses pengolahannya cukup panjang. Kulit harus direndam, diregangkan, dikerok, kemudian dikeringkan dengan proses pengasapan. Walaupun begitu, pembalut mungkin cuma produk sampingan dari kain kulit kerbau yang biasa digunakan untuk membuat pakaian pada masa itu.

Kertas washi buat para wanita Jepang

Pembalut kuno dari Jepang berbentuk gulungan, terbuat dari kertas washi tebal yang diolah dari serat pohon gampi atau semak mitsumata (Edgeworthia chrysantha). Washi memiliki kualitas yang jauh lebih baik daripada kertas di zaman modern. Namun daya serapnya masih kalah daripada pembalut yang kita kenal saat ini. Perempuan Jepang harus mengganti pembalut mereka sekitar 8 sampai 12 kali dalam sehari.

Kain lap, solusi murah meriah dari abad 10

Sejak abad 10, penggunaan kain lap atau handuk tipis mulai populer. Pembalut seperti ini umum digunakan oleh wanita di berbagai belahan dunia hingga abad 19 ketika pembalut modern pertama diciptakan.

Di Indonesia, penggunaan kain lap sebagai pembalut juga masih umum sampai zaman kemerdekaan. Pembalut seperti ini disukai karena bisa dipakai lagi setelah dicuci. Walaupun begitu, daya serapnya memang belum sebagus pembalut yang kita kenal saat ini.

Sumber: Listverse

Rekomendasi