Buku roman Fifty Shades of Grey yang dikarang E.L. James memang berhasil memancing rasa penasaran pembaca di seluruh dunia. Sisi kontroversial buku tersebut membuatnya jadi salah satu buku terlaris sepanjang masa. Namun rupanya banyak pembaca yang kecewa dengan isinya, sampai-sampai mereka tak sudi menyimpan buku tersebut dalam koleksi.Dilansir Bored Panda, sebuah toko buku amal di Swansea kebanjiran donasi Fifty Shades of Grey dari warga setempat. Saking banyaknya cetakan Fifty Shades yang mereka punya, pengelola toko buku sampai bisa membuat tembok dengan tinggi kira-kira dua meter. Mereka harus menolak buku-buku seri Fifty Shades yang hendak disumbangkan warga.
Sumbangan Fifty Shades of Grey di Goldstone Books © Goldstone Books
Sumbangan Fifty Shades of Grey di Goldstone Books © Goldstone Books
"Orang-orang membawakan salinan baru [Fifty Shades of Grey] kepada kami setiap saat," kata Phil Broadhurst, pemilik Goldstone Books, toko buku amal yang dinaungi Oxfam. "Kami menghargai semua sumbangan itu, tetapi sudah cukup."
Advertisement
Sumbangan Fifty Shades of Grey di Goldstone Books © walesnews.com
Fifty Shades of Grey sempat menjadi fenomena beberapa tahun lalu. Awalnya, buku ini menjadi sorotan para pecinta literatur karena berasal meminjam karakter dari Twilight karya Stephenie Meyer. Kemudian E.L. James, sang pengarang menulis ulang Fifty Shades of Grey dan mempublikasikannya secara independen.
Sumbangan Fifty Shades of Grey di Goldstone Books © Will Oliver
Buku ini kembali menjadi bahan pembicaraan di dunia literasi. Kali ini karena teknik kepenulisan dan plot bikinan James yang dicap 'dangkal' oleh para kritikus. Namun kisah Christian Grey dan Ana Steele segera populer di pasaran, terutama karena tema BDSM yang diusung di dalamnya.