Mirisnya nasib para jomblo akut yang mendamba istri di China

Sabtu, 14 Januari 2017 05:54 Reporter : Tantri Setyorini
Ilustrasi pria lajang China mencari jodoh. © YouTube

Merdeka.com - Kekurangan wanita sudah menjadi masalah kependudukan tersendiri di China. Tak hanya menghasilkan dampak kultural, krisis penduduk wanita di negeri Tiongkok telah menjadi masalah ekonomi yang membuat pemerintah China harus putar otak untuk mengatasinya.
Walaupun begitu, krisis penduduk wanita ini paling dirasakan oleh para pria.

Jumlah pria yang harus menyandang status bujang lapuk di sana semakin meningkat dari tahun ke tahun, terutama di daerah-daerah miskin. Sebaliknya, keluarga yang memiliki anak perempuan cenderung menerapkan standar tinggi untuk mencari menantu. Bisa ditebak, besarnya materi lantas jadi ukuran penting dalam menilai kelayakan seorang pria.

Ngenes, di masa depan 2 pria harus berebut 1 wanita!

Krisis penduduk wanita di China berakar dari kebijakan satu anak yang diterapkan pemerintah. Pada awalnya, warga menganggap anak lelaki lebih berguna karena bisa menjadi penerus keluarga. Sementara anak perempuan dianggap beban dan rawan menjadi 'wanita buangan' jika tak kunjung menikah sampai usia 30 tahun. Karena itulah, kasus aborsi dan penelantaran hingga berujung kematian terhadap bayi perempuan kerap terjadi. Pada tahun 1979, China mulai mengalami kekurangan penduduk wanita.

Ilustrasi warga China. Alamy

Menurut sebuah data statistik yang menghebohkan di tahun 2012, jumlah pria di China diproyeksikan bakal mengungguli jumlah penduduk wanita sebanyak 30 hingga 40 juta pada tahun 2020 nanti. Ini berarti sekitar 10 juta pria China akan melajang seumur hidup. Berdasarkan data tahun 2014, terdapat 118 bayi laki-laki untuk setiap 100 bayi perempuan. Dengan kata lain, perbandingan penduduk pria dan wanita di China semakin lama semakin mendekati 2:1. Sementara itu, jumlah penduduk wanita di China dalam beberapa dekade terakhir berkurang setidaknya 35-40 juta. Tentunya hal ini membuat para pria harus bersaing ketat untuk menemukan jodoh.

'Harga' istri makin mahal, pria golongan ekonomi lemah gigit jari

Budaya China mengenal tradisi pemberian mahar yang disebut 'harga mempelai'. Sebagai bentuk permintaan izin untuk memboyong calon istri, seorang pria harus memberikan barang dengan nilai tertentu kepada keluarga calon mempelai. Jika di tahun 1980-an satu set televisi atau kulkas sudah dianggap pantas, kini harga mempelai yang harus dibayarkan seorang pria jauh lebih mahal. Sejumlah besar uang tunai lebih disukai daripada barang mewah. Di kota besar seperti Shanghai, harga mempelai bisa mencapai 1 juta yuan atau sekitar 1,9 miliar rupiah.

Untuk mendapatkan seorang istri, tak jarang para pria harus berutang hingga puluhan ribu atau malah ratusan ribu yuan. Hal seperti inilah yang harus dialami oleh Zhang Hu, seorang jejaka dari pedesaan China. Zhang harus meminjam 150.000 yuan atau sekitar 287 juta rupiah untuk meminang calon istrinya.

Para bujang lapuk di pedesaan China. DailyMail

Masalah serupa dihadapi para pria lajang di desa-desa miskin seperti Laoya dan Banzhushan. Mereka terpaksa menerima nasib jadi perjaka tua dan dicap sebagai manusia tanpa guna. "Mereka disebut 'ranting telanjang', para pria yang kelewat miskin, tidak berpendidikan, tak punya istri atau anak, jadi seperti pohon yang tak berdaun. Ada banyak pedesaan di China yang dipenuhi pria-pria seperti ini," cerita Manya Koetse, editor What's on Weibo kepada BBC.

Selanjutnya: Ahli ekonomi sarankan untuk berbagi istri
[tsr] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini