Kisah haru Mohamed Bzeek yang rawat 40 anak sekarat di AS

Selasa, 21 November 2017 22:22 Reporter : Tantri Setyorini
Kisah haru Mohamed Bzeek yang rawat 40 anak sekarat di AS Mohamed Bzeek. ©2017 YouTube/GoFundMe

Merdeka.com - "Saya tahu mereka sakit. Saya tahu mereka akan meninggal. Saya melakukan hal terbaik yang saya bisa sebagai seorang manusia dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan," tutur Mohamed Bzeek, 62 ketika ditanya mengenai anak-anak cacat dan sekarat di bawah asuhannya.

Dilansir Oddity Central, Bzeek adalah seorang pria muslim Libya yang bermigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1978. Di sana dia bertemu dengan wanita bernama Dawn yang kemudian dinikahinya. Pasangan itu sepakat untuk mendedikasikan hidup mereka demi merawat anak-anak berkebutuhan khusus yang tengah menunggu ajal.

Mohamed Bzeek ©2017 PBS

Bzeek dan Dawn memilih anak-anak yang terabaikan oleh sistem pengasuhan Amerika Serikat, para balita yang menghabiskan hidup sekejap mereka di rumah sakit pemerintah tanpa sempat merasakan kasih sayang keluarga. Pada tahun 1997, pasangan ini mendapatkan seorang anak lelaki, Adam yang menderita sindrom dwarfisme dan kerapuhan tulang. Dan keduanya menerima dengan ikhlas kondisi anak mereka.

"Tuhan menciptakannya seperti itu, tetapi dia adalah seorang pejuang, seperti anak-anak yang datang untuk tinggal bersama kami," tuturnya kepada PEOPLE.

Mohamed Bzeek ©2017 Los Angeles Time/Genaro Molina

Di tahun 2000, Dawn jatuh sakit karena penggumpalan darah di paru-paru dan harus menyerah pada penyakitnya 15 tahun kemudian. Bzeek masih meneruskan cita-citanya bersama Dawn. Dia adalah satu-satunya orang yang bersedia merawat anak-anak seperti ini di daerahnya.

Melissa Testerman, koordinator penempatan anak-anak berpenyakit di Department of Children and Family Services mengatakan kepada LA Times, "Dia adalah satu-satunya orang yang mau menerima anak yang mungkin tidak akan selamat."

Mohamed Bzeek ©2017 Los Angeles Time/Genaro Molina

Mohamed Bzeek ©2017 Los Angeles Time/Genaro Molina

Sampai saat ini Bzeek sudah merawat 40 anak sakit di ambang kematian. 10 Di antaranya telah dia kuburkan. Perawatan dan pengawasan selama 24 jam dilakukannya sendiri. Ada di antara mereka yang terlalu lemah dan lumpuh. Ada pula yang buta dan tak bisa mendengar sekaligus.

Ketika ditanya kenapa dia bersedia melakukan hal seperti itu, dia hanya menjawab,"Meskipun anak-anak ini tidak bisa berkomunikasi atau melihat atau mendengar, mereka memiliki jiwa. Mereka butuh seseorang untuk mencintai mereka." [tsr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini