VIDEO Mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez Pernah Peringatkan AS dengan CIA-nya Pelaku Kudeta dan Pembunuhan di Amerika Latin
Dalam wawancara pada 2009, Mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez pernah menyebut AS dengan CIA-nya adalah pelaku kudeta dan pembunuhan di Amerika Latin
Mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez kembali menjadi sorotan setelah rekaman penuh emosinya dalam wawancara 2009 viral di media sosial yang diunggah Akun X @MiddleEastEye, Senin (5/1).
Dalam rekaman itu, Chavez mengatakan Amerika Serikat mengancam Venezuela karena menginginkan minyak.
Chavez juga membantah tuduhan bahwa ia “paranoid” dengan kebijakan AS terhadap negaranya, dan malah menyatakan kekhawatirannya dilandasi oleh “realitas geopolitik dan kepentingan minyak.”
Chavez menegaskan bahwa Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia yang menurutnya menjadi faktor utama dalam hubungan tegang antara Caracas dan Washington.
Minyak Lebih dari 100 Tahun
“Di sini, di Venezuela, kita memiliki minyak untuk lebih dari 100 tahun. Sementara di Amerika Serikat, di sana minyaknya hampir habis,” kata Chavez dalam rekaman itu.
Presiden Venezuela dari 1999 hingga 2013 ini juga menyampaikan daftar panjang intervensi yang menurutnya didukung oleh AS dan Badan Intelijen Luar Negeri (CIA) di berbagai negara Amerika Latin.
Ia menyebut nama Presiden Guatemala Jacobo Arbenz, Presiden Brasil Joao Goulart, Presiden Chile Salvador Allende, Presiden Dominika Juan Bosch, dan Jenderal Panama Omar Torrijos sebagai contoh pemimpin yang “diserang” oleh kebijakan luar negeri AS karena dianggap berdiri di luar kepentingan Washington.
Ketika ditanya apakah dia takut dengan ancaman AS, Chavez menjawab, "Tidak. Saya hanya realistis.”
AS Membuat Daftar Teroris
Dalam wawancara itu juga Chavez mengatakan setelah peristiwa 11 September 2001 atau 9/11, AS mulai membuat daftar teroris dan namanya masuk dalam daftar itu.
"AS menjatuhkan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki. Itulah terorisme," kata Chavez.
Peringatan Chavez dalam video 2009 itu kini relevan setelah AS melancarkan pengeboman skala besar ke Venezuela akhir pekan lalu dan menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya.
Hubungan antara Venezuela dan AS telah lama tegang, terutama sejak pemerintahan Chávez dan berlanjut di bawah Presiden Nicolás Maduro. Ketegangan itu sering berpusat pada:
· Sanksi ekonomi dan diplomatik AS terhadap pejabat Venezuela.
· Tuduhan campur tangan dalam urusan dalam negeri Venezuela.
· Sengketa atas kontrol sumber daya energi.
Berbagai pemerintah dan kelompok internasional juga mengkritik sanksi AS terhadap Venezuela sebagai tindakan yang berdampak luas pada warga sipil dan ekonomi nasional.
Reporter Magang: Ahmad Subayu