Turki Minta AS Serahkan Pangkalan Militer di Suriah, Jika Tidak akan Dihancurkan

Selasa, 8 Januari 2019 17:26 Reporter : Hari Ariyanti
Turki Minta AS Serahkan Pangkalan Militer di Suriah, Jika Tidak akan Dihancurkan 16 Militer Turki berkostum kuno. ©AFP PHOTO

Merdeka.com - Pemerintah Turki akan meminta Amerika Serikat menyerahkan pangkalan militernya di Suriah. Jika tidak, Turki mengancam akan menghancurkan pangkalan militer tersebut.

Permintaan Turki ini dinilai akan semakin membuat rumit diskusi mengenai penarikan pasukan AS dari Suriah.

"Serahkan mereka atau hancurkan," demikian tulis surat kabar Hurriyet dalam headlinenya sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa (8/1).

Pernyataan ini merujuk pada 22 pangkalan militer AS di Suriah. Hurriyet mengutip sumber yang tak disebutkan yang menyatakan bahwa Turki tak terima jika Washington menyerahkan pangkalan tersebut ke milisi YPG.

Pejabat senior keamanan Turki pekan lalu menyampaikan kepada Reuters bahwa Washington harus mengizinkan Turki menggunakan pangkalannya di Suriah.

Penasihat Badan Keamanan Nasional AS, John Bolton bertemu dengan rekanannya dari Turki, Ibrahim Kalin pada Selasa, beberapa hari setelah Bolton mengajukan syarat tambahan penarikan pasukan militer AS, dengan mengatakan Turki harus setuju melindungi sekutu Kurdi Amerika Serikat, milisi YPG, yang selama ini dianggap Ankara sebagai kelompok teroris.

Presiden AS, Donald Trump, Desember lalu menyampaikan menarik 2.000 tentara AS di Suriah. Trump menyebut mereka telah berhasil dalam misi mereka untuk mengalahkan ISIS. Langkahnya yang tiba-tiba itu memicu kekhawatiran para pejabat di Washington dan sekutu-sekutunya di luar negeri dan mendorong Menteri Pertahanan Jim Mattis mengundurkan diri.

Selama ini YPG telah menjadi sekutu utama AS dalam melawan kelompok ISIS. Inilah yang menyebabkan ketegangan antara AS dan Turki. Turki memandang YPG sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang, yang telah melancarkan pemberontakan selama tiga dasawarsa di Turki, terutama di tenggara Kurdi.

Dengan ketegangan yang semakin meningkat antara AS dan Turki, belum dapat dipastikan apakah John Bolton akan bertemu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Dalam pertemuan Bolton dengan Kalin, ikut serta juga Pimpinan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford dan utusan khusus Amerika Serikat James Jeffrey. Kalin adalah juru bicara Erdogan dan Wakil Kepala Badan Keamanan dan Kebijakan Luar Negeri Turki.

Pada Senin kemarin, Erdogan mengingatkan, penarikan pasukan AS dari Suriah harus direncanakan dengan hati-hati dan dengan mitra yang tepat. Erdogan juga mengatakan hanya Turki yang memiliki "kekuatan dan komitmen untuk melaksanakan tugas tersebut."

Dalam sebuah kolom artikel di New York Times, Erdogan menyampaikan Turki berkomitmen mengalahkan ISIS dan kelompok teroris lainnya di Suriah. Gedung Putih juga menyatakan bahwa Trump belum mengubah kebijakannya terkait penarikan pasukan milter di Suriah. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini