Trump: Saya Lebih Keras Terhadap Rusia Daripada Presiden AS Sebelumnya

Senin, 14 Januari 2019 18:37 Reporter : Hari Ariyanti
Trump: Saya Lebih Keras Terhadap Rusia Daripada Presiden AS Sebelumnya Presiden Donald Trump. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat membantah bekerja untuk Rusia dan menyembunyikan pembicaraannya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin dari pejabat AS. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengklaim dirinya jauh lebih keras terhadap Rusia dibandingkan presiden sebelumnya, Barack Obama.

Dia juga menyebut tuduhan kolusi dengan negara eks Uni Soviet tersebut sebagai hoaks. Dilansir dari situs The Independent, Senin (14/1), sejumlah politikus senior Demokrat mengatakan bahwa laporan media memunculkan berbagai pertanyaan serius terkait hubungan Trump dengan Putin.

Kecaman Trump terkait pemberitaan hubungannya dengan Putin setelah The New York Times melaporkan bahwa FBI memulai investigasi kontra intelijen pada 2017 terkait apakah Trump secara aktif bekerja untuk kepentingan Moskow. Investigasi ini dimulai setelah Trump memecat Direktur FBI, James Comey. Karena dikhawatirkan tindakan Trump ini kemungkinan menghadirkan ancaman bagi keamanan nasional.

James Comey memimpin investigasi terkait dugaan keterlibatan Rusia pada Pilpres AS 2016 lalu. Badan Intelijen AS menyebut Moskow terlibat dalam kemenangan Trump, namun disangkal Rusia. The New York Times melaporkan penyelidikan kontra-intelijen sebagian dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terkait perilaku Trump, termasuk komentarnya terkait pemecatan Comey karena penyelidikan Rusia, yang sekarang dipimpin oleh penasihat khusus Robert Mueller.

"Jika Anda bertanya pada rakyat Rusia, saya lebih keras terhadap Rusia daripada yang lain," kata Trump. "Dan kemungkinan ada presiden lain (lebih keras kepada Rusia), tapi tentu saja (saya lebih keras) dari tiga atau empat presiden terakhir," sambungnya.

Klaim Trump ini dipatahkan Senator dari Virginia, Mark Warner. Mark merupakan petinggi Demokrat di Dewan Komite Intelijen. Warner menyampaikan kepada CNN, hampir semua sanksi kepada Rusia bukan dari Gedung Putih, melainkan Kongres. Ini karena kekhawatiran anggota Kongres baik dari Demokrat dan Republik terkait dugaan campur tangan Rusia dalam Pilpres tiga tahun lalu dan aksi Rusia lainnya. Warner menuding Gedung Putih sangat lamban dalam menjatuhkan sanksi.

Pejabat AS yang tak disebutkan namanya mengungkapkan kepada The Washington Post, bahwa tidak ada catatan terperinci dari lima pertemuan langsung Trump dengan Vladimir Putin selama dua tahun terakhir. Trump bersikeras membantah hal tersebut. Dia pun menyebut laporan The Washington Post sangat konyol dan dibuat-buat. Dia pun menuding koran tersebut merupakan pelobi dari perusahaan Amazon milik Jeff Bezos.

"Saya menghadapi semua omong kosong ini, semuanya omong kosong. Tapi saya harus berhati-hati karena ada para pemain kotor. Anda mengangkat investigasi Mueller, Anda mengangkat semua omong kosong ini, tak ada kolusi, tak ada apa-apa (dengan Rusia)," bantahnya.

Politikus senior Demokrat mengatakan laporan tersebut menekankan perlunya undang-undang untuk melindungi penyelidikan Mueller.

"Saat dia mengambil catatan penerjemah dan merusaknya, tak ada yang akan melihat apa yang dibicarakan. Ini memunculkan berbagai pertanyaan serius tentang hubungan presiden dengan Putin," kata Senator Dick Durbin dalam acara ABC's This Week.

"Saya pikir ini mengherankan, sepanjang musim panas ketika investigasi dimulai, kebijakan-kebijakan Vladimir Putin hampir diikuti oleh Donald Trump," kata Mark Warner kepada CNN.

"Saya perlu komitmen yang kuat bahwa dia tidak akan mengizinkan campur tangan apapun dalam investigasi Mueller," kata Senator dari Demokrat, yang juga Anggota Pengadilan, Chris Coons, kepada Fox News Sunday.

"Saya akan bertanya kepada Direktur FBI - apakah investigasi kontra intelijen yang dibuka mengenai presiden sebagai agen potensial Rusia? Saya melihat itu mencengangkan," kata Senator Lindsey Graham kepada Fox News.

Sementara itu Sekretaris Gedung Putih Bidang Media, Sarah Sanders menyampaikan, "Media liberal telah menghabiskan dua tahun berupaya menciptakan skandal kolusi palsu alih-alih melaporkan fakta bahwa Presiden Trump benar-benar keras terhadap Rusia."

Anehnya, Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dia tidak pernah meninggalkan Gedung Putih dalam waktu berbulan-bulan, meskipun dia mengaku berangkat ke Texas terkait urusan tembok perbatasan dan terbang ke Irak pada Desember lalu. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini