Terpidana Pemerkosa di India Minta Tak Dihukum Gantung Karena Polusi Bisa Membunuhnya

Jumat, 13 Desember 2019 16:04 Reporter : Hari Ariyanti
Terpidana Pemerkosa di India Minta Tak Dihukum Gantung Karena Polusi Bisa Membunuhnya Terorisme pemerkosaan, protes kasus pemerkosaan di India. ©A. Fadnavis/Reuters

Merdeka.com - Salah satu dari enam terpidana kasus pemerkosaan massal keji seorang mahasiswa dalam sebuah bus di New Delhi tahun 2012 lalu meminta pengadilan membebaskannya dari hukuman mati. Alasannya? Polusi udara bisa membunuhnya.

Akshay Thakur salah satu dari empat pria dijatuhi hukuman mati atau hukum gantung karena memperkosa dan menganiaya Nirbhaya, perempuan 23 tahun, yang meninggal dua pekan kemudian karena luka yang dideritanya. Demikian dilansir dari CNN, Jumat (13/12).

Terpidana kelima telah dibebaskan dari penjara karena memiliki peran kecil dalam kejahatan tersebut, dan polisi mengatakan terpidana keenam bunuh diri di penjara.

Polisi mengatakan para pria tersebut secara bergiliran memperkosa korban ketika bus melaju di dalam kota selama hampir satu ham. Ketika mereka selesai melakukan aksi bejatnya, mereka melempar Nirbhaya dan temannya ke pinggir jalan.

Pengacara Thakur, AP Singh mengajukan petisi peninjauan kembali di Mahkamah Agung India pada Senin, hanya beberapa hari sebelum peringatan ketujuh kejahatan keji tersebut pada 16 Desember mendatang. Media lokal berspekulasi para pria itu akan dieksekusi bertetapan dengan hari peringatan tersebut, apalagi saat ini India tengah dikejutkan dengan sejumlah kasus pemerkosaan massal dan mengerikan. Kasus pemerkosaan menjadi berita internasional dalam beberapa hari terakhir.

India adalah negara dengan kualitas udara paling buruk dan berbahaya. Awal tahun ini, tujuh kota di India masuk dalam daftar 10 kota dengan polusi udara terburuk.

Namun, tidak mungkin permohonan Thakur untuk keringanan hukuman akan berhasil, menurut pengacara pembela pidana dan pakar hukum Satish Maneshinde.

"Dia tidak bisa mencegah hukuman mati dalam kasus ini," kata Maneshinde.

1 dari 2 halaman

Ibu Nirbhaya, Asha Devi, menyampaikan kepada CNN dalam sebuah wawancara dia tak sabar kapan pemerkosa dan pembunuh anaknya digantung.

"Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana sakitnya, dalam waktu tujuh tahun ini kami telah banyak berjuang, pada tingkat mental mengatasi rasa sakit yang saya alami," jelasnya.

"Kami duduk di sini dengan harapan bahwa mereka akan digantung, tetapi bahkan setelah semua terjadi mereka belum juga dihukum. Sampai mereka dihukum karena kejahatan mereka, sampai para pemerkosa digantung, ini tidak akan berhenti," lanjutnya.

Aksi biadab pemerkosaan massal tahun 2012 menimbulkan kemarahan dunia internasional dan muncul penelitian bagaimana perempuan diperlakukan di negara berpenduduk terbesar kedua di dunia itu. India mengesahkan undang-undang baru setelah kasus ini, memperberat hukuman untuk kejahatan seksual.

Devi mengatakan dirinya tetap kuat karena melihat perjuangan putrinya.

"Saya melihatnya sekarat, dan saya melihatnya tak bisa menelan setetes air pun," katanya.

"Rasa sakit itulah yang memberiku kekuatan," lanjutnya.

2 dari 2 halaman

Seperti Kamar Gas

gas rev1

AP Singh dalam pengajuan peninjauan kembali mengatakan kualitas udara di New Delhi seperti rumah gas, dan kualitas airnya penuh racun.

"Hidup yang singkat akan makin singkat, lalu kenapa harus ada hukuman mati?" bunyi petisi peninjauan kembali tersebut.

Penjara dimana Thakur dihukum berlokasi di Mayapurim, wilayah penuh polusi di barat New Delhi, dimana terdapat banyak pabrik hanya beberapa kilometer dari penjara.

New Delhi pada masa lalu menduduki peringkat kota paling tercemar di dunia. Bulan lalu warga terganggu dengan tingkat kabut asap yang memecahkan rekor lebih dari tiga kali level "berbahaya" pada indeks kualitas udara global (AQI) dan lebih dari 20 kali dari kategori "aman" menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Maneshinde mengatakan sebagian besar terpidana mati berusaha menggagalkan putusan pengadilan dengan taktik agar hukuman tersebut ditunda.

"Permohonan semacam ini belum pernah diajukan oleh terdakwa (penjahat) sebelumnya," katanya.

AP Singh membantah kliennya menggunakan taktik penundaan.

"Dia orang miskin. Orang tuanya tua dan tak berdaya. Polusi bagaimanapun juga membahayakan nyawa dan membunuh orang secara perlahan," kata Singh.

"Beri dia hukuman seumur hidup, bukan hukuman mati."

[pan]

Baca juga:
Negara dengan Kasus Pemerkosaan Tertinggi di Dunia, India Tak Masuk 10 Besar
Pemerkosaan Makin Marak di India,
Polisi Tembak Mati Empat Pelaku Pemerkosaan Dokter Hewan di India
Korban Pemerkosaan yang Dibakar di India Utara Meninggal
Perempuan di India Dibakar Saat akan Hadiri Sidang Kasus Pemerkosaannya
Lagi, Gadis India Diperkosa Massal Lalu Ditembak dan Dibakar Hingga Tewas

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini