Temuan Baru, Acara Kerumunan di Luar Ruangan Berpotensi Tularkan Cacar Monyet

Selasa, 23 Agustus 2022 17:20 Reporter : Hari Ariyanti
Temuan Baru, Acara Kerumunan di Luar Ruangan Berpotensi Tularkan Cacar Monyet Cacar Monyet. ©CDC Public Health Image Library

Merdeka.com - Sebagian besar kasus cacar monyet dalam wabah terbaru saat ini dikaitkan dengan aktivitas seksual. Namun berdasarkan penelitian baru yang diterbitkan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) pada Rabu, ada hal baru terkait penularan penyakit ini.

Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford mengatakan, seorang pria mengalami ruam kulit dua pekan setelah mendatangi acara yang dihadiri banyak orang di mana dia melakukan kontak dekat dengan sejumlah orang. Pria itu positif cacar monyet setelah dirawat di sebuah fasilitas kesehatan sekitar sepekan kemudian.

Menurut para peneliti, faktor risiko utama pasien tersebut adalah kontak dekat, nonseksual dengan banyak orang tak dikenal di acara luar ruangan yang ramai. Peneliti juga mengatakan kasus tersebut menyoroti potensi penyebaran pada kerumunan yang mungkin berimplikasi pada pengendalian epidemi, dikutip dari CNN, Selasa (23/8).

Para peneliti menyampaikan, acara yang dihadiri pria tersebut di Inggris bukan acara khusus kelompok gay atau biseksual. Walaupun para tamu yang hadir memakai tank top dan celana pendek, pria tersebut memakai celana panjang dan kaos lengan pendek. Dia tidak memperhatikan adanya tamu yang mengalami ruam kulit atau tampak sakit. Dia juga menghadiri acara yang sama selama empat hari setelah acara tersebut.

"Cacar monyet bisa menyebar ke siapapun melalui kontak dekat, kerapkali kulit ke kulit, juga kontak intim termasuk seks, berpelukan, pijat, dan ciuman," jelas petunjuk yang dikeluarkan CDC.

Pria yang berusia 20-an tahun itu baru-baru ini kembali ke AS setelah bepergian ke Inggris dan dia dilaporkan tidak melakukan kontak seksual dan tidak memiliki bukti adanya ruam atau luka di bagian kelamin. Sampel ludah dan tes usap nasal menyatakan dia positif cacar monyet, walapun pasien trersebut tidak melaporkan adanya gejala seperti demam, menggigil, atau batuk.

Analisis awal kasus cacar monyet yang dilakukan CDC menemukan, tanda-tanda atau gejala awal cacar monyet dalam wabah saat ini agar berbeda dengan cacar monyet biasanya. Dua dari lima kasus cacar monyet dimulai dengan ruam kulit, tapi tidak ada laporan gejala lain seperti sakit kepala, menggigil, atau lainnya.

Temuan ini mengindikasikan penularan bisa jadi "berkaitan dengan gejala klinis" dan benda-benda seperti seprai hotel dan benda yang sering disentuh di tempat umum bisa menjadi sumber penularan.

Namun, meskipun tidak ada kontak seksual yang dilaporkan, tes usap rektal atau dubur dari pasien positif terkena virus, yang menunjukkan "potensi penularan seksual berkelanjutan." [pan]

Baca juga:
Ruam dan Demam usai Pulang dari Jakarta, Seorang Warga Sulsel Diisolasi di RS Unhas
Menkes Soal Cacar Monyet: Jangan Dekati Orang Berbintik-bintik Mirip Cacar
Menkes: Fatalitas Cacar Monyet Sangat Rendah, Hanya 0,03 Persen
Pasien Pertama Cacar Monyet di Indonesia Baru Pulang dari Eropa Barat
Penelitian: Virus Cacar Monyet Bisa Bertahan Lama di Berbagai Peralatan Rumah
Satu Warga Negara Indonesia Positif Monkeypox
Jerman Laporkan Kasus Pertama Cacar Monyet Pada Anak

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini