Survei: Orang Eropa dan Amerika Percaya Paham Barat Bertentangan dengan Islam

Selasa, 5 Februari 2019 15:48 Reporter : Hari Ariyanti
Survei: Orang Eropa dan Amerika Percaya Paham Barat Bertentangan dengan Islam Sekolah Islam di AS. ©Reuters/Brittany Greeson

Merdeka.com - Survei terbaru menunjukkan bahwa orang Eropa dan Amerika meyakini bahwa Islam tak sesuai dengan nilai-nilai atau paham Barat. Survei ini muncul di hari yang sama saat Paus Fransiskus berkunjung ke Uni Emirat Arab yang membawa pesan perdamaian Kristen dan Muslim. Kunjungan Paus ini merupakan kunjungan pertama pimpinan umat Katolik ke Semenanjung Arab.

Menurut survei yang diselenggarakan bulan lalu oleh perusahaan analisis data berbasis internet Inggris YouGov, hampir setengah responden di Prancis (46 persen) dan Jerman (47 persen), merasa ada pertentangan mendasar antara Islam dan nilai-nilai dalam masyarakat Barat. Demikian dilansir dari Sputnik News, Selasa (5/2).

Di Inggris, 38 persen responden menunjukkan sikap tidak senang terhadap Islam dan di Amerika Serikat, 36 persen merasa ada pertentangan nilai. Hanya 24 persen masyarakat Inggris yang menunjukkan kesan yang baik terhadap Islam. Sedangkan di Prancis, masyarakat yang menerima Islam dengan ramah hanya 22 persen, dan AS sebanyak 17 persen.

Survei daring komparatif mengungkapkan bahwa jumlah responden Barat yang cenderung memiliki sikap kurang senang terhadap Islam jauh lebih tinggi dibandingkan dengan agama lain seperti Yahudi, Buddha, dan Kristen.

"Mayoritas responden Barat yang jelas dalam penelitian ini juga menggambarkan diri mereka sebagai yang sangat atau cukup peduli tentang kemungkinan munculnya ekstremisme dalam Islam, termasuk 72 persen di Prancis dan Jerman, 66 persen di Inggris dan 56 persen di Amerika Serikat," tulis YouGov.

Berbeda dengan di negara Barat, jumlah responden yang lebih kecil di Timur Tengah dan Afrika Utara memiliki penilaian sama terhadap Kristen, sedikitnya 25 persen di Arab Saudi, 22 persen di Aljazair, 13 persen di UEA, dan 7 persen di Mesir memiliki persepsi pertentangan dengan Kristen.

Setengah dari responden di Mesir dan sepertiga di UEA mengatakan Kristen secara umum bertentangan dengan nilai-nilai atau paham masyarakat mereka. Sementara responden di Arab Saudi dan Aljazair menunjukkan sikap yang kurang menyenangkan terhadap Kristen (masing-masing 13 persen dan 9 persen).

Hampir dua per tiga responden di negara berpenduduk mayoritas Muslim di Arab Saudi, Aljazair, dan Mesir mengatakan ajaran Islam tak sesuai dengan agama lainnya seperti Hindu, Sikh, dan Buddha. Sikap terhadap Yahudi lebih ramah di Aljazair (55 persen), Arab Saudi (54 persen), dan Mesir (49 persen).

Responden di negara-negara ini nampak tak terlalu khawatir dengan kemungkinan munculnya ekstremisme Islam dibandingkan kekhawatiran responden di negara-negara Barat; Aljazair (39 persen), Arab Saudi (38 persen), dan Mesir (37 persen). Sedangkan 52 persen responden di UEA mengatakan mereka sangat sangat khawatir dengan kemunculan ekstremisme Islam.

Survei ini bertepatan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Abu Dhabi. Paus tiba di UEA pada Minggu (3/2) dan bertemu Putra Mahkota UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan dan anggota Dewan Tokoh Sesepuh Muslim, organisasi internasional yang mempromosikan perdamaian di tengah masyarakat Muslim. Kedatangan Paus Fransiskus juga disambut Imam Besar Al Azhar Kairo, Mesir, Sheikh Ahmad Al Tayeb.

Paus diharapkan menyampaikan pesan damai untuk mendorong dialog antara Muslim dan Kristen dan menggalakkan saling pengertian dan perdamaian di Timur Tengah. Kunjugan Paus ini juga bertepatan dengan kebangkitan politisi sayap kanan dan sentimen anti-imigran di Eropa, yang dipicu arus besar pengungsi dan pencari suaka dari negara-negara Muslim di Afrika Utara dan Timur Tengah. Di Mesir, Libya, Irak dan Suriah, orang-orang Kristen menghadapi kekerasan yang meluas di tangan para ekstremis Islam sejak Arab Spring 2011. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini