Sosok Transgender Pertama Jadi Kandidat Perdana Menteri Thailand

Sabtu, 9 Maret 2019 13:01 Reporter : Merdeka
Sosok Transgender Pertama Jadi Kandidat Perdana Menteri Thailand Pauline Ngarmpring. ©AP Photo/Gemunu Amarasinghe

Merdeka.com - Pauline Ngarmpring memberi warna baru dalam dunia perpolitikan Thailand yang selama ini didominasi oleh narasi partai pro-militer dan klan Thaksin Shinawatra.

Ngarmpring adalah perempuan transgender pertama yang mengatakan siap menjadi perdana menteri Negeri Gajah, seperti dilansir laman Channel News Asia, Jumat (8/3).

Perempuan paruh baya itu saat ini tengah getol berkampanye dan melakukan lobi politik strategis, agar tujuannya dapat tercapai. Di sisi lain, ia kerap menjadi sorotan media karena keputusan beraninya dalam kancah politik.

Ia mengaku telah lama memiliki minat dalam perpolitikan, dan sempat mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan parpol tertentu.

"Politik adalah minat saya sejak lama, dan sebagai seorang pria, saya sering diundang untuk bergabung dengan partai politik. Tapi saya tidak berada dalam kerangka berpikir yang benar sampai setelah saya beralih," katanya.

Meskipun sangat berani untuk menjadi kandidat perdana menteri, ia masih khawatir dengan tanggapan publik.

"Sebagai seorang wanita, aku merasa nyaman dan tidak memiliki apa pun untuk disembunyikan. Aku siap, tetapi apakah orang siap untuk menerima kandidat transgender?" katanya saat ditanya terkait kesanggupannya menjadi kandidat perdana menteri.

Saat ini, Ngarmpring adalah salah satu dari tiga kandidat perdana menteri dari Partai Mahachon, dan tidak dianggap sebagai calon terdepan.

Meskipun bukan kandidat utama, Ngarmpring selalu mendapatkan dukungan dari komunitas LGBT dan aktivis kesetaraan gender. Ia dinilai akan mengukir sejarah di Thailand.

"Pencalonannya sangat penting karena dia menantang norma tradisional gender dan seksualitas," kata Anjana Suvarnanda dari Anjaree Group, sebuah organisasi hak asasi LGBT +.

"Meskipun kami memiliki orang-orang LGBT dalam politik Thailand sebelumnya, tidak ada yang menyatakan identitas LGBT mereka secara terbuka, dan belum ada diskusi publik dengan pendekatan positif seperti itu," katanya kepada Thomson Reuters Foundation, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia pada Jumat (8/3/2019).

Thailand telah membangun reputasi sebagai tempat dengan sikap "santai" terhadap gender dan keragaman seksual sejak homoseksualitas didekriminalisasi pada tahun 1956.Negeri Gajah itu adalah satu di antara negara-negara pertama di Asia yang secara hukum mengakui pasangan sesama jenis sebagai mitra sipil.

Meskipun demikian, komunitas LGBT menghadapi diskriminasi dan stigma di sekolah, tempat kerja dan fasilitas kesehatan, dan sering ditolak oleh keluarga mereka.

Ngarmpring memutuskan untuk memulai kehidupan baru sebagai perempuan tiga tahun lalu, saat usianya masih 49 tahun. Sejak saat itu, ia memperkenalkan nama depannya "Pauline".

Ia adalah perempuan cerdas yang pernah menjadi reporter berita, promotor olahraga, dan menjadi advokat hak-hak kaum LGBT dan kesetaraan gender di negaranya.

Terlepas dari ambisi Ngarmpring menjadi perdana menteri, peta perpolitikan di Thailand saat ini seolah tidak terlalu berubah. Bagaimanapun, banyak pihak mengatakan bahwa pemilu akan tetap dihegemoni oleh partai pengusung Prayut Chan-o-cha dan partai-partai yang dekat dengan Thaksin Shinawatra, meskipun Raksa Chart Party telah dinyatakan bubar oleh Mahkamah Konstitusi.

Reporter: Siti Khotimah

Sumber: Liputan6.com [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini