KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Sering lembur, Dinas Rahasia AS bilang kehabisan uang buat lindungi Trump & keluarga

Selasa, 22 Agustus 2017 12:34 Reporter : Ira Astiana
Donald Trump lihat gerhana matahari. ©REUTERS/Kevin Lamarque

Merdeka.com - Dinas rahasia Amerika Serikat (Secret Service) mengklaim pihaknya kini tengah menghadapi krisis keuangan karena harus mengeluarkan upah lembur besar bagi para agennya yang bertugas melebihi jam kerja.

Upah lembur tersebut harus diberikan lantaran para agen diminta melindungi Presiden AS Donald Trump beserta keluarga besar dan beberapa rumahnya selama satu bulan penuh.

"Upah 1.100 agen akan melebihi batas fiskal tahunan karena gaji dan upah lembur yang harus dibayarkan kepada mereka atas beban kerja yang diberikan dalam satu bulan," kata kepala Dinas Rahasia AS, Randolph "Tex" Ailes, seperti dilansir dari laman The Star, Selasa (22/8).

Seperti diketahui, Trump melakukan perjalanan hampir setiap pekan ke rumahnya di Florida, New Jersey, dan Virginia. Dalam setiap perjalanan dilakukan Trump, Dinas Rahasia harus mengerahkan para agen untuk mengawalnya.

Tak hanya itu, Dinas Rahasia juga harus mengawal anak-anak Trump yang sudah dewasa tiap melakukan perjalanan bisnis atau liburan.

"Presiden memiliki keluarga besar dan tanggung jawab kami diwajibkan oleh hukum. Saya tidak bisa mengubahnya dan saya tidak memiliki wewenang untuk bersikap fleksibel," aku Ailes.

Secara keseluruhan, sebanyak 42 orang di pemerintahan Trump dikawal oleh Dinas Rahasia, yang mana 18 orang di antaranya merupakan anggota keluarga Trump. Namun permintaan ini menjadi masalah tersendiri mengingat dana yang dikeluarkan gila-gilaan.

"Masalah ini bukan masalah persyaratan perlindungan pemerintah saat ini saja, namun telah menjadi isu yang terus berlanjut selama hampir satu dekade karena peningkatan tempo operasional secara keseluruhan," kata Ailes.

Kini, Alies tengah mencari dana lebih banyak dari Kongres dan sedang melakukan negosiasi dengan anggota parlemen untuk menaikkan gaji dan upah lembur dari USD 160.000 per tahun menjadi USD 187.000 setidaknya selama masa pemerintahan Trump. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Donald Trump
  2. Amerika Serikat
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.