Sedang Mencari Obat untuk Anaknya, Seorang Pemain Basket Palestina Tewas Ditembak Tentara Israel

Shaalan bukanlah yang pertama, melainkan salah satu dari ratusan atlet Palestina yang kehilangan nyawa akibat kebiadaban Israel.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Sedang Mencari Obat untuk Anaknya, Seorang Pemain Basket Palestina Tewas Ditembak Tentara Israel
Seiring memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza, operasi penerjunan bantuan yang sudah dikoordinasikan sejumlah negara sejak akhir Juli lalu terus dilakukan. (AP Photo/Abdel Kareem Hana) (© 2025 Liputan6.com)

Pasukan Israel telah mengambil nyawa mantan pemain tim nasional bola basket Palestina, Mohammed Shaalan, pada hari Selasa, 19 Agustus 2025.

Shaalan yang berusia 40 tahun tewas di area distribusi bantuan dekat Khan Younis saat ia berusaha mendapatkan makanan dan obat-obatan untuk putrinya yang sedang sakit, Maryam, serta anggota keluarganya.

Menurut laporan dari media lokal yang dikutip oleh Middle East Eye, Maryam diketahui menderita gagal ginjal dan mengalami infeksi darah yang parah.

Sebelum peristiwa tragis ini, Shaalan telah berulang kali meminta bantuan agar putrinya bisa mendapatkan perawatan medis yang dibutuhkan. Shaalan adalah sosok yang sangat dihormati di dunia olahraga Palestina.

Ia pernah bermain untuk beberapa tim lokal, seperti Khadamat Al-Bureij, Khadamat Al-Maghazi, dan Khadamat Khan Younis, serta menjadi bagian dari tim nasional.

Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan kerumunan pelayat yang berkumpul mengelilingi jenazah Shaalan, yang dibalut dengan bendera Palestina dan dihiasi dengan bunga di atas kafannya.

Kematian Atlet Palestina Meningkat

Israel Tembak Mati Bintang Bola Basket Palestina saat Cari Obat untuk Putrinya
Seiring memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza, operasi penerjunan bantuan yang sudah dikoordinasikan sejumlah negara sejak akhir Juli lalu terus dilakukan. (AP Photo/Abdel Kareem Hana) © 2025 Liputan6.com

Shaalan adalah salah satu dari tiga anggota komunitas olahraga Palestina yang kehilangan nyawa dalam waktu 24 jam terakhir hingga Selasa (19/8).

Selain Shaalan, dua korban lainnya adalah Salem al-Shaer (26), yang menjabat sebagai kepala departemen perlengkapan di Klub Pemuda Rafah, dan Ahmed al-Jawrani (40), seorang mantan bintang dari Klub Olahraga Al-Salah.

Menurut pernyataan pejabat olahraga Palestina, sejak dimulainya genosida di Gaza hampir dua tahun lalu, setidaknya 670 atlet Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel.

Pada awal bulan Agustus, pasukan Israel juga menghilangkan nyawa mantan bintang sepak bola Suleiman al-Obeid, yang dikenal dengan julukan "Pele Palestina".

Ia tewas saat menunggu di lokasi distribusi bantuan yang dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), yang mendapat dukungan dari Amerika Serikat (AS).

Sejak akhir Mei, lebih dari 2.000 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel di lokasi-lokasi yang dikelola oleh GHF.

GHF meluncurkan mekanisme distribusi bantuan yang menuai kontroversi pada 27 Mei, setelah hampir tiga bulan Israel memberlakukan blokade yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Sejak peluncuran mekanisme tersebut, berbagai kelompok hak asasi manusia telah menuduh GHF terlibat dalam pelanggaran yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan internasional.

Tuduhan ini mencerminkan situasi yang semakin memburuk di wilayah tersebut, di mana bantuan kemanusiaan menjadi sangat diperlukan, namun aksesnya terus dibatasi.

Kejadian-kejadian tragis ini menunjukkan dampak serius dari konflik yang berkepanjangan dan perlunya perhatian dunia terhadap nasib rakyat Palestina.

Rekomendasi