Hot Issue

"Saya Tak Pernah Membayangkan Penembakan Ini Terjadi Di Komunitas yang Damai Ini"

Jumat, 27 Mei 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti
"Saya Tak Pernah Membayangkan Penembakan Ini Terjadi Di Komunitas yang Damai Ini" penembakan di sekolah texas. ©REUTERS/Marco Bello

Merdeka.com - Auraleigha Santos berusaha tetap diam dan tenang saat dia bersembunyi di auditorium SD Robb, Uvalde, Texas pada Selasa (24/5). Sementara di bangunan sebelah auditorium, pemuda 10 tahun menenteng senapan AR-15 mengeluarkan tembakan tanpa henti.

Sebanyak 19 murid teman sekelas Auraleigha dan dua gurunya tewas dalam serangan brutal itu. Sementara 17 lainnya terluka.

Uvalde, daerah sekitar 135 kilometer di barat San Antonio, yang didominasi komunitas Latin terguncang dengan serangan tersebut.

Di luar Uvalde Civic Center, Auraleigha memeluk erat sebuah boneka beruang Teddy sembari dia mengingat kembali pengalaman mengerikan itu.

"Saya bersyukur saya tidak terbunuh, tapi saya sedih teman saya terbunuh," ujar bocah perempuan 10 tahun ini, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (26/5).

Ayahnya, Juan Santos, membelai rambut putrinya saat putrinya bicara.

"Saya tidak pernah membayangkan ini terjadi di komunitas kecil yang damai ini," kata Juan Santos (29).

Ibu tiri Auraleigha, Alyssa Santos (32) mengingat saat dia ragu pindah ke San Antonio karena masalah keamanan.

"Saya bersikeras, tidak aman, tidak aman, kekerasan geng, angka kejahatan," ujarnya.

"Dan sekarang ini terjadi di sini, saya tidak bisa mempercayainya," lanjutnya.

Alyssa Santos yang bekerja di panti jompo menyalahkan insiden penembakan ini salah satunya karena kurangnya kepedulian terhadap kesehatan mental.

"Kita tidak melakukan hal yang cukup untuk orang yang mengalami skizofenia, bipolar, atau yang memiliki masalah kesehatan mental lainnya," ujarnya, menambahkan pembatasan senjata juga penting.

2 dari 3 halaman

Warga trauma

Pada Rabu sore, beberapa warga termasuk Diego Esquivel (21) berjalan di sekitar alun-alun membawa tanda bertuliskan slogan seperti "Prayers for Uvalde" dan "Uvalde Strong".

"Saya harus melakukan sesuatu. Saya tidak bisa tidur. Ini begitu mengerikan," ujarnya.

Robert Dennis (56) juga datang ke alun-alun kota untuk menjernihkan pikirannya.

"Saya pria bersenjata sepanjang hidup saya, saya pria amandemen kedua," ujarnya.

"Tapi hal ini telah membuat saya melakukan evaluasi kembali. (Pelaku) berusia 18 tahun dan langsung membeli senapan serbu, itu harusnya jadi peringatan."

"Ini adalah komunitas di mana orang-orang memiliki riwayat membiar pintu mereka tidak terkunci. Saya membayangkan itu akan berubah," lanjut Dennis.

Pendukung kepemilikan senjata menegaskan hak untuk memiliki senjata dijamin Amandemen Kedua Konstitusi AS.

Direktur The Ecumenical Center di San Antonio, Mary Beth Fisk memberikan bantuan konseling kepada warga setelah penembakan massal tersebut. Fisk berada di Uvalde bersama 15 penyuluh dari organisasinya. Mereka memberikan konseling gratis dan sejumlah mobil makanan memberikan makanan gratis di parkiran dan beberapa orang berkumpul, ngobrol dan saling berpelukan.

"Saya punya banyak teman dan keluarga di komunitas ini, dan ini sangat menyakitkan," ujar Fisk.

"Komunitas ini sangat erat dan seluruh komunitas sangat trauma oleh kejadian ini."

Pada Rabu malam, ribuan penduduk, banyak yang mengenakan kemeja merah marun – warna distrik sekolah Uvalde – menghadiri acara doa di Uvalde County Fairplex, tempat acara yang biasanya untuk menggelar rodeo, pertunjukan banteng dan truk raksasa.

Seorang perempuan, air mata mengucur di pipinya, membawa foto cucunya yang tersenyum dan bertuliskan "Istirahat dalam damai, Nevaeh Bravo".

Beberapa warga membentuk lingkaran dan berdoa bersama. Di tengah lapangan, seorang pria berjanggut berpidato.

"Tuhan, biarkan kejadian tragis ini mempersatukan kami dan bukan semakin menjauhkan kami."

3 dari 3 halaman

Unggah status di Facebook

di facebook

Pelaku penembakan diidentidikasi sebagai Salvador Ramos (18). Ramos sempat mengunggah status di Facebook 15 menit sebelum melakukan aksinya. 

Gubernur Texas, Greg Abbott menyampaikan Ramos menulis di Facebooknya bahwa dia akan menembak di sekolah dasar. Pelaku juga menulis status mengatakan dia akan menembak neneknya dan status lainnya yang mengonfirmasi dia telah melakukan aksinya.

Neneknya yang ditembak Ramos di wajahnya sesaat sebelum dia beraksi di sekolah, selamat dan menelepon polisi.

Ramos berangkat dari rumah yang dia tinggali bersama kakek neneknya dan menabrakkan mobilnya di dekat SD Robb, Uvalde. Dia lalu memasuki sekolah melalui pintu belakang membawa senapan serbu dan memakai rompi anti peluru.

Ramos membeli dua senapan dan ratusan amunisi beberapa hari sebelum serangan, menurut laporan sejumlah media mengutip senator negara bagian yang diinformasikan aparat penegak hukum. [pan]

Baca juga:
Ini Sosok Salvador Ramos, Pelaku Penembakan Sekolah di Texas
Pelaku Penembakan Texas Sempat Unggah Status di Facebook Soal Serangan di Sekolah
Mengenal AR-15, Senjata Paling Favorit dalam Penembakan Massal di AS
Deretan Kasus Penembakan Massal Terbaru di AS, Angkanya Naik Setiap Tahun
Marak Penembakan Massal, Betapa Mudahnya Beli Senjata di AS

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini