Rusa di Thailand Mati, Perutnya Berisi 7 kg Sampah Plastik dan Celana Dalam

Rabu, 27 November 2019 20:17 Reporter : Merdeka
Rusa di Thailand Mati, Perutnya Berisi 7 kg Sampah Plastik dan Celana Dalam rusa mati di thailand. ©AFP via Getty Images

Merdeka.com - Seekor rusa liar ditemukan mati di taman nasional di Provinsi Nan, Thailand bagian utara, sekitar 630 kilometer sebelah utara Ibu Kota Bangkok. Setelah diteliti, ditemukan 7 kilogram sampah dalam perutnya.

Celana dalam pria, tas plastik, bungkus kopi instan dan bagian-bagian dari tali plastik adalah beberapa benda yang ditemukan di dalam perut rusa itu.

Seorang pejabat Taman Nasional Khun Sathan mengatakan, rusa itu telah memakan plastik sejak lama sebelum mati, demikian seperti dilansir BBC, Rabu (27/11).

Pada 25 November, seorang petugas yang sedang berpatroli menemukan bangkai rusa jantan berusia 10 tahun di Taman Nasional Khun Sathan di distrik utara Na Noi.

Di perutnya juga ditemukan sarung tangan karet, mie instan, dan handuk kecil.

"Kami percaya binatang itu telah memakan plastik itu sejak lama sebelum mati," kata Kriangsak Thanompun, Direktur Departemen Taman Nasional, Satwa Liar dan Konservasi Tumbuhan Thailand kepada BBC News Thai.

"Pejabat meyakini plastik telah menyumbat saluran pencernaannya, tetapi penyelidikan lebih lanjut akan dilakukan."

1 dari 1 halaman

Thailand Pengguna Utama Kantong Plastik

Di media sosial, banyak warganet mengecam kasus kematian rusa tersebut dengan mengkritik para pengunjung taman yang kerap membuang sampah sembarangan.

"Ketika Anda pergi ke taman nasional, ambil kembali sampah Anda. Tanggung jawab," kata satu komentar di Facebook.

Warganet Thailand lain mengatakan, akan sulit menyadarkan orang-orang untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.

"Ini adalah sesuatu yang harus diajarkan dan diimplementasikan sejak usia muda. Pada saat mereka dewasa, sulit (untuk berubah)," kata yang lain.

Awal tahun ini, seorang bayi duyung di Thailand mati setelah makan plastik.

Mariam si duyung mencuri hati warganet Thailand setelah foto-foto penyelamatannya menjadi viral. Tetapi dia meninggal hanya beberapa bulan setelahnya, hasil otopsi menunjukkan bahwa konsumsi plastik telah menyebabkan gangguan laten pada perutnya.

Soal isu tidak terkendalinya limbah plastik di ekosistem taman nasional, Departemen Taman Nasional, Satwa Liar dan Konservasi Tumbuhan Thailand Kriangsak Thanompun mengumumkan "rencana tiga fase" yang akan diberlakukan. Tujuannya, membuat masyarakat setempat mengumpulkan plastik dan sampah lainnya di kawasan taman nasional.

Rencana tersebut juga akan melihat pembentukan sebuah komite untuk menangani pengelolaan limbah dan pada akhirnya, bertujuan untuk mendidik masyarakat tentang pencegahan sampah.

Thailand adalah pengguna utama kantong plastik.

Kelompok lingkungan hidup Greenpeace mengatakan, sekitar 75 miliar keping kantong plastik dibuang setiap tahun di Thailand.

Menteri lingkungan Thailand September lalu menuturkan, pengecer besar di Thailand akan berhenti menyediakan kantong plastik sekali pakai mulai Januari 2020 mendatang.

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com [pan]

Baca juga:
Tragis, Rusa di Thailand Mati dengan Perut Berisi Plastik dan Pakaian Dalam
Di Kroasia, Cak Imin Minta Eropa Setop Ekspor Sampah Plastik ke RI
Menikmati Kesejahteraan dari Sampah Plastik
Khofifah Cari Solusi Agar Pabrik Tahu Tidak Gunakan Sampah Plastik Impor
Mengunjungi Resor Terapung dari 700 Ribu Botol Plastik

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini