Ratusan Orang Ditangkap Buntut Demo Berujung Ricuh di Italia

Ribuan orang turun ke jalan di Italia pada Sabtu (24/10/2026). Polisi menahan ratusan orang di delapan kota. Begini kondisi di Milan dan Roma.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Ratusan Orang Ditangkap Buntut Demo Berujung Ricuh di Italia
Polisi bentrok dengan para pengunjuk rasa di Turin Italia pada hari demonstrasi nasional © Marco BERTORELLO / AFP

Ribuan orang kembali turun ke jalan di berbagai kota di Italia pada Sabtu (24/10). Di tengah pengamanan ketat yang digelar usai kerusuhan pekan lalu, bentrokan tetap pecah di sejumlah lokasi.

Menurut Channel News Asia, kepolisian menangkap sembilan orang dan menahan sementara 371 orang lainnya, termasuk 110 anak di bawah umur. Mereka dibawa ke kantor polisi di delapan kota ketika bentrokan terjadi dalam rangkaian aksi tersebut.

Pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni yang berhaluan kanan ekstrem pekan ini telah menyetujui paket langkah keamanan yang lebih ketat. Polisi juga melakukan puluhan penggeledahan dan penangkapan pendahuluan sebelum demonstrasi dimulai.

Di Milan, beberapa ribu orang berbaris melalui pusat kota hingga membuat arus lalu lintas tersendat. Aksi dengan skala serupa juga tampak di Roma, di mana sebagian demonstran sempat menerobos masuk ke area Colosseum.

Menteri Dalam Negeri Matteo Piantedosi menyatakan aparat berhasil menguasai situasi dan memisahkan kelompok yang bertindak anarkis. Ia menegaskan, "(Polisi) berhasil mengisolasi dan mengendalikan kelompok-kelompok kecil yang melakukan kekerasan dengan keseimbangan dan profesionalisme," kata Matteo Piantedosi, dikutip dari kantor berita Italia ANSA.

Ia menambahkan, "Di Italia, tidak boleh ada tempat bagi mereka yang mengira bisa bertindak tanpa mendapat konsekuensi," ujarnya.

Dari sisi peserta, sebagian demonstran menekankan pentingnya kebebasan menyampaikan pendapat. "Berunjuk rasa adalah hak. Kita perlu menyuarakan pendapat kita," kata Alessio Scimone, pekerja toko taruhan berusia 24 tahun yang ikut dalam demonstrasi di Milan, kepada AFP.

Situasi di Milan turut memengaruhi aktivitas usaha. Sejumlah toko memilih tutup lebih awal dan memasang papan pelindung pada jendela, merespons aksi penjarahan pada akhir pekan sebelumnya. Di sisi lain, ada pula yang tetap membuka gerai mengikuti seruan Wali Kota Milan Giuseppe Sala agar warga tidak panik.

"Kami ingin menunjukkan bahwa kami tidak takut kepada anak-anak muda ini," kata Alessandro Buhne, 30 tahun, yang bekerja di toko pakaian pria Philipp Plein.

Buhne menyebut sebagian wisatawan terlihat khawatir, sehingga pihaknya ingin memastikan pengunjung merasa aman saat memasuki toko.

Relawan kemanusiaan juga tetap beraktivitas di tengah pengamanan ketat. Stefania Segalina, 55 tahun, relawan penggalang dana untuk MSF, mengatakan tempatnya berada tidak terjadi bentrokan. "Kami sedikit khawatir, tetapi kami tetap keluar untuk menggalang dana sesuai rencana," katanya.

"Kami melihat kehadiran polisi dalam jumlah besar. Itu membuat Anda tidak merasa sendirian jika sesuatu terjadi," ujarnya.

Pasca kerusuhan di Milan pekan lalu, pemerintah mengerahkan 500 tentara ke kota tersebut. Selain itu, disetujui pula dekret yang melonggarkan aturan penahanan anak di bawah umur dan mengatur denda bagi orang tua atas kerusakan yang dilakukan anak selama demonstrasi. Pada Sabtu, polisi juga mengumumkan penangkapan seorang pria berusia 30 tahun yang diduga menjadi tokoh di balik kelompok "October 17 Movement" yang menyerukan aksi protes.

Mahasiswa di Italia Soroti Kebijakan Keamanan Pemerintah

Kelompok mahasiswa mengkritik keras respons pemerintah dalam menjaga ketertiban umum. Mereka mendesak agar tuntutan demonstran direspons, termasuk mengalihkan sebagian belanja militer untuk sektor pendidikan.

Aksi akhir pekan ini merupakan bagian dari gelombang protes yang melibatkan mahasiswa, sopir truk, dan petani. Pemicu utamanya adalah tekanan biaya hidup, terutama harga rumah dan bahan bakar.

Pemerintah Italia pada pekan ini menyetujui langkah finansial untuk meringankan beban pelaku usaha yang terdampak lonjakan harga bahan bakar setelah perang di Timur Tengah.

Adapun blokade jalan oleh sopir truk yang sempat melumpuhkan wilayah Italia selatan kini telah dihentikan. Aksi tersebut sebelumnya menimbulkan kelangkaan bahan bakar dan pangan selama sepekan.

Rekomendasi