Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth, menjadi sorotan publik setelah mengutip dialog fiksi dari film Pulp Fiction saat memimpin kebaktian doa di Pentagon pada Rabu, 15 April 2026. Dalam doa tersebut, Hegseth menyampaikan kutipan yang mirip dengan monolog karakter yang diperankan oleh Samuel L. Jackson, yang ditampilkan sebelum adegan kekerasan, namun digunakan oleh Hegseth untuk menggambarkan perang melawan Iran sebagai tindakan keadilan ilahi.
Hegseth menyebut doa yang dibacakan sebagai "CSAR 25:17", yang ia klaim terinspirasi oleh ayat dari Alkitab, Yehezkiel 25:17. Ia menjelaskan bahwa doa tersebut dipelajari dari tim pencarian dan penyelamatan tempur Angkatan Udara, termasuk unit "Sandy 1" yang terlibat dalam misi penyelamatan awak pesawat di Iran. Namun, kutipan yang digunakannya bukanlah berasal langsung dari kitab suci. Sebagian besar monolog dalam film tersebut adalah karya fiksi yang terinspirasi secara longgar dari teks Alkitab dan diadaptasi dari film Jepang tahun 1976, The Bodyguard, seperti yang dilaporkan oleh Los Angeles Times pada Jumat, 17 April.
Kontroversi muncul karena beberapa pihak menilai penggunaan kutipan tersebut tidak tepat, terutama karena dikaitkan dengan justifikasi kekerasan dalam konflik. Dalam versi yang dibacakan, Hegseth bahkan mengubah bagian akhir ayat dengan menyertakan kode panggilan militer. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menanggapi tuduhan tersebut dengan membantah bahwa Hegseth keliru mengutip kitab suci, menyatakan bahwa doa itu memang dikenal di kalangan militer dan terinspirasi dari ayat Alkitab.
"Siapa pun yang mengatakan Menteri salah mengutip Yehezkiel 25:17 sedang menyebarkan berita palsu," ungkap Parnell dalam pernyataannya.
Di sisi lain, penulis skenario film tersebut, Roger Avary, memberikan dukungannya dan berpendapat bahwa penggunaan dialog itu dapat dibenarkan jika bertujuan untuk melindungi pasukan AS. Namun, di dalam Pentagon, praktik kebaktian doa yang dipimpin oleh Hegseth dilaporkan menimbulkan ketidaknyamanan. Meskipun tidak diwajibkan, beberapa pejabat merasa ada tekanan tidak langsung untuk hadir. Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa kegiatan itu bahkan mengganggu fokus terhadap operasi militer.
"Beberapa pemimpin meninggalkan tugas penting untuk menghadiri sesi tersebut, yang berdampak pada pengambilan keputusan operasional," kata sumber tersebut.
Advertisement
Picu Perdebatan
Ketegangan antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan Paus Leo XIV semakin meningkat, memicu kontroversi yang cukup signifikan. Dalam beberapa minggu terakhir, Vatikan telah secara terbuka mengecam perang yang dilakukan AS-Israel di Iran. Dalam pernyataan terbaru, Paus dengan tegas mengkritik penggunaan agama sebagai pembenaran untuk konflik bersenjata.
Ia mengingatkan akan bahaya dari manipulasi nilai-nilai keagamaan demi kepentingan politik dan militer. Kontroversi ini menambah daftar panjang isu yang muncul di tengah konflik yang masih berlangsung, sekaligus memicu diskusi mengenai batasan antara keyakinan pribadi, simbol keagamaan, dan kebijakan militer suatu negara.