Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio mengungkapkan akhir dari peperangan dengan Iran. Operasi militer AS dikatakan Rubio diperkirakan berakhir dalam hitungan minggu bukan bulan.
Demikian ia sampaikan kepada wartawan sebelum ia meninggalkan Prancis, di mana ia menghadiri pertemuan para menteri luar negeri negara-negara G7, Jumat (27/3).
Rubio menyebutkan bahwa pelaksanaan operasi militer berlangsung lebih cepat dari yang direncanakan. "Kami lebih cepat dari jadwal dalam operasi tersebut dan berharap dapat menyelesaikannya pada waktu yang tepat, dalam hitungan minggu, bukan bulan. Kemajuannya berjalan sangat baik," ujarnya seperti yang dilaporkan oleh kantor berita Anadolu.
Rubio juga menambahkan bahwa Washington hampir mencapai tujuan militer yang ditetapkan dan akan segera menyelesaikan misi tersebut. "Ini tidak akan menjadi konflik yang berkepanjangan," kata Rubio saat menjawab pertanyaan dari wartawan. Ia mengklaim bahwa AS telah melampaui target pada sebagian besar sasaran, termasuk melemahkan kemampuan rudal, drone, dan kekuatan militer Iran.
"Kami mencapai semua tujuan tersebut. Untuk sebagian besar target, kami lebih cepat dari yang direncanakan dan kami dapat mencapainya tanpa pasukan darat," lanjutnya.
Rubio memperingatkan bahwa tantangan langsung setelah operasi berakhir adalah kemungkinan Iran mencoba menerapkan sistem "toll" atau pungutan di Selat Hormuz. Ia menilai langkah tersebut sebagai "ilegal, tidak dapat diterima, dan berbahaya bagi dunia". "Itu berbahaya bagi dunia dan penting bagi dunia untuk memiliki rencana untuk menghadapinya," ungkap Rubio.
Sejak 28 Februari, AS dan Israel telah melancarkan serangan udara terhadap Iran, yang mengakibatkan lebih dari 1.340 orang tewas.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan. Dilaporkan, sedikitnya 13 personel militer AS tewas sejak konflik ini dimulai. Konflik ini juga memicu kenaikan harga energi dan mengganggu jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital untuk pengiriman minyak dunia.
Advertisement
AS Ajukan Proposal Berisi 15 Poin
Dalam usaha untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan, Amerika Serikat telah mengajukan sebuah proposal yang terdiri dari 15 poin kepada Iran. Proposal ini mencakup berbagai langkah yang berhubungan dengan program nuklir dan rudal balistik yang dimiliki oleh Teheran, serta isu keamanan maritim di Selat Hormuz. Namun, Iran menolak proposal tersebut dan mengajukan lima syarat untuk menyelesaikan konflik, di antaranya adalah penghentian serangan, jaminan tidak adanya konflik di masa depan, pengakuan atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz, dan kompensasi untuk kerusakan yang ditimbulkan akibat perang.
Sehubungan dengan pertemuan G7, Rubio mengungkapkan bahwa ia menerima tanggapan positif dari negara-negara yang hadir, terutama terkait dengan isu Selat Hormuz. Mengenai kemungkinan penutupan selat tersebut, Rubio menegaskan bahwa negara-negara yang paling terpengaruh diharapkan bersedia untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
"Kami akan membantu mereka. Dan itu yang saya sampaikan hari ini," ujarnya. "Dan saya mendapat respons yang baik terhadap pesan tersebut." Ketika ditanya tentang apakah Iran telah memberikan tanggapan terhadap proposal AS, Rubio menjelaskan bahwa belum ada jawaban resmi yang diterima.
"Kami telah menerima pesan. Kami telah melakukan pertukaran pesan dan terdapat indikasi dari pihak Iran---apa pun yang masih tersisa dari sistemnya---mengenai kesediaan untuk membahas beberapa hal," klaim Rubio. Washington, menurut Rubio, masih menunggu kejelasan lebih lanjut dari Iran, termasuk mengenai siapa yang akan menjadi pihak perunding dan kapan kemungkinan pembicaraan dapat dilaksanakan.