Rwanda Rayakan 31 Tahun Pembebasan di Jakarta: Dari Luka Genosida Menuju Bangkitnya Negeri Tangguh

Peringatan yang dikenal dengan nama Kwibohora ini mengenang berakhirnya Genosida terhadap suku Tutsi di Rwanda pada 4 Juli 1994.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Rwanda Rayakan 31 Tahun Pembebasan di Jakarta: Dari Luka Genosida Menuju Bangkitnya Negeri Tangguh
Resepsi Kwibohora31-Liberation Day atau Hari Pembebasan Kwibohora ke-31 yang diadakan di Jakarta (Liputan6)

Kedutaan Besar Rwanda di Jakarta bersama anggota korps diplomatik dan sahabat-sahabat Rwanda memperingati 31 tahun Hari Pembebasan (Liberation Day) pada Jumat, 4 Juni 2025. Acara ini dihadiri lebih dari 250 tamu undangan.

Peringatan yang dikenal dengan nama Kwibohora (dalam bahasa Kinyarwanda berarti membebaskan) ini mengenang berakhirnya Genosida terhadap suku Tutsi di Rwanda pada 4 Juli 1994.

Saat itu, pada 4 Juli 1994, Tentara Patriotik Rwanda (Rwanda Patriotic Army) berhasil mengakhiri salah satu peristiwa tergelap dalam sejarah modern, Genosida terhadap suku Tutsi, yang dalam waktu hanya 100 hari merenggut lebih dari satu juta jiwa.

Kemenangan tersebut bukan hanya militer, tetapi juga kemenangan moral, kemenangan harapan atas keputusasaan, persatuan atas perpecahan, serta martabat atas kebiadaban.

Acara di Jakarta ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, termasuk para duta besar, perwakilan organisasi internasional, tokoh masyarakat sipil Indonesia, komunitas Rwanda di Indonesia, serta Duta Besar Dindin Wahyudin, Penasehat Senior Menteri Luar Negeri untuk Diplomasi Ekonomi, sebagai tamu kehormatan mewakili pemerintah Indonesia.

Makna Kwibohora

Dalam sambutannya, Duta Besar Rwanda untuk Indonesia, Sheikh Abdul Karim Harelimana menjelaskan makna penting Kwibohora. Dengan tema Kwibohora31: Perjalanan Rwanda Terus Berlanjut, acara ini menyoroti transformasi pembangunan Rwanda yang luar biasa.

Dia juga menekankan peran penting Rwanda di kancah internasional, khususnya dalam misi perdamaian dan kerja sama regional.

"Selama tiga dekade terakhir, Rwanda telah mencatat kemajuan luar biasa dalam tata kelola pemerintahan, rekonsiliasi, layanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan kesetaraan gender," kata Dubes Harelimana.

Saat ini, 63,75% anggota parlemen Rwanda adalah perempuan. Akses terhadap layanan kesehatan meningkat pesat. Ekonomi Rwanda yang dulu hancur kini menjadi salah satu yang paling tangguh dan berkembang pesat di Afrika.

Hubungan Rwanda dan RI

Dubes Harelimana juga memuji hubungan bilateral antara Rwanda dan Indonesia yang terus berkembang sejak pembukaan resmi kantor Kedutaan Besar Rwanda di Jakarta pada Juni 2024, bersamaan dengan kunjungan resmi Presiden Rwanda, H.E. Paul Kagame, ke Indonesia dalam rangka Forum Indonesia-Afrika yang digelar di Bali, September 2024.

Sementara Dubes Dindin Wahyudin menyampaikan kekaguman Indonesia atas kemajuan Rwanda dan memuji hubungan bilateral yang kuat antara kedua negara.

Dia menegaskan komitmen Indonesia untuk mempererat kerja sama di bidang perdagangan, pendidikan, inovasi, dan pertukaran antarwarga, serta memberdayakan generasi muda demi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Rekomendasi