AS Klaim Israel Setuju Gencatan Senjata Usulan Trump, Hamas Menolak karena Tidak Memenuhi Tuntutan

Menurut sumber Hamas, proposal terbaru hanya akan meneruskan pembunuhan dan krisis kelaparan kepada rakyat Gaza, Palestina.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
AS Klaim Israel Setuju Gencatan Senjata Usulan Trump, Hamas Menolak karena Tidak Memenuhi Tuntutan
Ribuan warga Palestina menyerbu sebuah pusat distribusi bantuan baru yang dikelola sebuah kelompok yang didukung oleh Amerika Serikat (AS) di Gaza selatan pada tanggal 27 Mei 2025. (Foto oleh AFP) (© 2025 Liputan6.com)

Gedung Putih kemarin mengatakan Israel telah “menandatangani” proposal gencatan senjata baru yang diajukan kepada Hamas, tetapi kelompok perlawanan tersebut menyatakan kesepakatan itu gagal memenuhi tuntutannya.

Sumber Hamas pekan lalu mengatakan mereka telah menerima kesepakatan yang didukung Amerika Serikat (AS). Namun kemarin, anggota biro politik Hamas, Bassem Naim, mengatakan versi terbaru proposal itu justru berarti “keberlanjutan pembunuhan dan kelaparan… dan tidak memenuhi tuntutan rakyat kami, yang utama di antaranya adalah menghentikan perang.”

“Meskipun demikian, pimpinan Hamas sedang mempelajari tanggapan terhadap proposal itu dengan penuh rasa tanggung jawab nasional,” kata dia, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (30/5).

Ditandatangani sebelum dikirim ke Hamas

Negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lebih dari 19 bulan ini belum membuahkan hasil, dengan Israel yang melanjutkan serangan brutal di Gaza pada Maret setelah gencatan senjata singkat.

Gedung Putih menyatakan Presiden AS Donald Trump dan utusan Steve Witkoff telah mengajukan proposal gencatan senjata kepada Hamas yang didukung Israel.

“Israel menandatangani proposal ini sebelum dikirim ke Hamas,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, seraya menambahkan bahwa diskusi masih terus berlanjut dengan kedua pihak tersebut.

Hamas Setuju Gencatan Senjata Tapi Israel Menolak, Utusan Trump Malah Bilang Sebaliknya
Steve Witkoff Quds News Network

Tuai kritik dari PBB dan Uni Eropa

Israel terus mengintensifkan serangannya di Gaza. Pertahanan sipil Gaza mengatakan terdapat 54 orang yang syahid dalam serangan Israel kemarin. Korban tersebut termasuk 23 orang dalam serangan pada sebuah rumah di al-Bureij dan dua orang yang ditembak Israel di dekat pusat bantuan yang didukung AS di poros Morag, Gaza selatan.

Pusat bantuan tersebut dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang merupakan bagian dari sistem distribusi bantuan baru yang dirancang Israel dan AS untuk mencegah pasokan jatuh ke tangan Hamas. Sistem ini menuai kritik dari PBB dan Uni Eropa.

“Apa yang terjadi pada kami sungguh memalukan. Kepadatan ini mempermalukan kami,” kata warga Gaza Sobhi Areef, yang mengunjungi pusat GHF kemarin.

“Kami pergi ke sana dan mempertaruhkan nyawa kami hanya untuk mendapatkan sekantong tepung untuk memberi makan anak-anak kami," lanjut Areef.

Gunakan ‘Kelaparan’ Sebagai Taktik

Militer Israel mengatakan tidak mengetahui penembakan yang terjadi di pusat bantuan tersebut. Di al-Bureij, mereka mengatakan telah menyerang “sel Hamas” dan sedang meninjau laporan adanya korban sipil.

Mereka juga mengatakan pasukannya telah menyerang “puluhan target teror di seluruh Jalur Gaza” selama sehari terakhir.

Dalam panggilan telepon dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas, dan Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi, menyatakan bahwa Israel melakukan “taktik kelaparan sistematis” yang telah melewati semua batas moral dan hukum.

Isu bantuan kemanusiaan kini menjadi sorotan tajam di tengah kekhawatiran kelaparan dan kritik tajam terhadap GHF. Hal ini terjadi karena organisasi tersebut telah melampaui sistem distribusi bantuan PBB yang telah lama ada di Gaza.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi