Gadis kecil ini dulu bangga dengan rambut panjangnya yang halus bak sutra. Namun kini Rahaf Ayyad (12) justru takut menyisirnya.
"Setiap kali saya menyisir, semakin banyak rambut saya yang rontok," kata gadis Palestina itu, dikutip dari Middle East Eye, Kamis (15/5).
Kerontokan rambut hanyalah salah satu dari beberapa perubahan pada tubuhnya dalam beberapa bulan terakhir yang menurut dugaan ibunya merupakan akibat dari blokade dan penghancuran Jalur Gaza oleh Israel yang sedang berlangsung.
Tubuh Rahaf berubah menjadi sangat kurus, dan pertumbuhannya tampak terhambat sejak ia terpaksa tinggal di tenda darurat di Zawaida, di Jalur Gaza bagian tengah.
"Rahaf adalah gadis yang benar-benar normal. Saya bahkan tidak ingat pernah perlu membawanya ke rumah sakit karena sakit apa pun sejak ia lahir," kata ibu Rahaf, Shorouq Ayyad, kepada Middle East Eye.
“Kondisinya mulai terasa delapan bulan lalu setelah kami mengungsi ke daerah al-Zawaida.”
Bahkan saat ini Rahaf tidak bisa lagi berjalan. Dia hanya bisa berbaring di atas matras sepanjang hari. Pertumbuhan dan perkembangannya benar-benar terhenti. Bahkan menurut ibunya, banyak orang tidak percaya gadis kecil itu berusia 12 tahun.
Duduk di atas matras, Rahaf tampak lebih fokus pada rambutnya daripada hal lainnya.
“Saya ingin rambut saya tumbuh kembali sehingga saya bisa menyisirnya lagi,” katanya kepada MEE.
“Saya dulu suka bercermin dan berfoto, tetapi sekarang saya benci melihat diri saya sendiri. Ini bukan saya.”
Advertisement
Dokter Tak Bisa Mendiagnosis
Awalnya, ibunya menganggap rasa sakit yang mulai dirasakan putrinya di kaki dan tulangnya sebagai kelelahan biasa, dan berpikir bakal sembuh dengan sendirinya. Namun lebih dari seminggu, rasa sakit itu tak kunjung hilang. Lalu keluarga membawanya ke Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah.
"Dia dirawat selama seminggu dan mendapatkan pengobatan dan perawatan," kata Shorouq.
Mereka kembali ke tenda pengungsian, namun kesehatan Rafah malah memburuk dan tubuhnya membengkak. Bintik-bintik berwarna merah muda muncul di tangan dan kakinya.
"Mereka (dokter) mengatakan ini mungkin ada kaitannya dengan ginjal, tapi pengobatan yang mereka berikan enggak mempan," ujar Shorouq.
“Ketika kami kembali ke Gaza utara, pembengkakannya makin parah. Wajah dan matanya membengkak drastis, kulitnya mulai mengelupas, dan bintik-bintik mulai muncul di kulit kepalanya. Rambutnya mulai rontok dalam jumlah banyak. Saya menjalankan lebih banyak pemeriksaan, tetapi tidak ada yang menunjukkan sesuatu yang salah.”
Shorouq membawa putrinya dari salah satu dari beberapa rumah sakit di Gaza yang berfungsi sebagian ke rumah sakit lain.
Namun, karena persediaan medis habis dan staf kewalahan atau tidak ada, para dokter tidak dapat berbuat apa-apa selain berspekulasi dan mereka tidak dapat mendiagnosis kondisinya.
“Saya terus mengatakan kepada mereka, ‘Tidak mungkin putri saya baik-baik saja,’” kata Shorouq.
“Namun, mereka menjawab, ‘Kami tidak tahu apa diagnosisnya.’
“Tidak seorang pun dapat mengetahuinya. Dalam keadaan normal, dia akan dirujuk untuk berobat ke luar negeri, tetapi sekarang, mereka bahkan tidak dapat mengidentifikasi apa yang salah untuk membuat rujukan itu.”
Advertisement
Blokade Israel
Meskipun dokter gagal menentukan penyebab kondisi putrinya, Shorouq yakin kondisi pengungsian yang keras menjadi penyebabnya.
“Saya mengandalkan makanan kaleng untuk memberi makan anak-anak saya selama 18 bulan terakhir. Mereka minum air yang terkontaminasi karena tidak ada alternatif lain. Mungkin juga karena sampah tercemar yang menumpuk di samping tenda pengungsian kami, atau limbah di jalan-jalan, mungkin semua itu yang menyebabkan kondisinya,” ungkapnya kepada MEE.
Sejak Oktober 2023, perang dan blokade Israel telah membuat Gaza bergulat dengan krisis lingkungan yang parah. Ratusan ribu ton sampah menumpuk di seluruh Jalur Gaza, termasuk sampah medis dan rumah tangga, akibat rusaknya infrastruktur pengelolaan sampah dan penghentian layanan pengumpulan.
Sampah ini telah menjadi tempat berkembang biaknya serangga dan hewan pengerat pembawa penyakit, yang menyebabkan lonjakan penyakit kulit seperti kudis, cacar air, dan kurap.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga pertengahan tahun 2024, lebih dari 150.000 orang di Gaza telah terserang penyakit kulit sejak dimulainya perang Israel.
Penghancuran sekitar 85 persen fasilitas pengolahan limbah Gaza oleh militer Israel juga telah menyebabkan limbah yang tidak diolah membanjiri jalan-jalan dan area permukiman. Hal ini menyebabkan peningkatan signifikan penyakit yang ditularkan melalui air, termasuk hepatitis A dan diare.
Sejak 2 Maret, Israel telah menutup sepenuhnya perbatasan Gaza, menghalangi masuknya makanan, obat-obatan dan bahan bakar ke wilayah yang hancur dibom Israel tersebut.
“Seperti yang Anda lihat, kami hanya punya makanan kaleng. Makanan itu tidak mengandung vitamin yang dibutuhkan untuk kondisinya dan bahkan bisa membahayakannya,” katanya.
“Di samping semua pembatasan makanan yang kami hadapi karena blokade, saya mencoba memberi Rahaf makanan khusus. Saya memasak untuknya tanpa garam atau minyak goreng agar tubuhnya tidak membengkak lagi. Kadang-kadang dia menangis, memohon saya untuk menambahkan sedikit garam ke makanannya, hati saya hancur untuknya tetapi saya tidak bisa.”