Pejabat Israel Akui Tak Pedulikan Tawanan Mereka di Gaza, Ada yang Terbunuh Akibat Serangan Tentara Zionis

Pasukan penjajah Israel dalam serangannya di Gaza tak hanya membunuh warga Palestina, tapi juga tawanan Israel.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Pejabat Israel Akui Tak Pedulikan Tawanan Mereka di Gaza, Ada yang Terbunuh Akibat Serangan Tentara Zionis
Pejabat Israel Akui Tak Pedulikan Tawanan Mereka di Gaza, Ada yang Terbunuh Akibat Serangan Tentara Zionis (Merdeka.com)

Laporan investigasi media Israel, Ynet mengungkapkan, pemerintah Israel tidak memprioritaskan pemulangan tawanan dengan selamat di tengah perang yang sedang berlangsung terhadap warga Palestina di Gaza.

Menurut laporan yang diterbitkan pada Jumat tersebut, baik pemerintah maupun militer Israel sepenuhnya menyadari serangan tentara menimbulkan risiko serius bagi para tawanan dan mengakui adanya tawanan yang terbunuh akibat serangan tentara Israel.

"Manuver itu membunuh tawanan, bukan secara teoritis, itu benar-benar membunuh mereka," kata seorang sumber keamanan kepada Ynet, dikutip dari Middle East Eye, Selasa (13/5).

Sumber tersebut mengutip sebuah insiden khusus pada November 2023 sebagai contoh, di mana serangan udara Israel menewaskan tiga tawanan Israel bersama dengan seorang komandan militer senior Hamas, Ahmed Ghandour. Fakta ini membantah klaim awal militer Israel yang menyatakan bahwa sandera tewas oleh pasukan Hamas.

"Itulah yang terjadi ketika Anda mengejar dua tujuan yang saling bertentangan pada saat yang sama," kata sumber tersebut, yang memegang posisi pejabat senior dalam intelijen Israel.

Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengungkapkan adanya strategi yang disengaja. Sumber lain menyatakan militer Israel memanfaatkan keberadaan tawanan sebagai pembenaran atas tindakan perang mereka, termasuk mengebom permukiman warga sipil.

Selamatkan Tawanan Bukan Prioritas

Menurut laporan Ynet, pemulangan tawanan tidak termasuk dalam tujuan militer utama pemerintah Israel sejak perang dimulai, meskipun ada pernyataan publik bahwa mengalahkan Hamas dan menyelamatkan tawanan merupakan tujuan resmi. Kampanye ini dirancang untuk meyakinkan keluarga sandera bahwa upaya penyelamatan terus dilakukan, sekaligus menyalahkan Hamas jika negosiasi pembebasan tawanan gagal.

Pengakuan ini semakin memperkuat kecurigaan bahwa pemerintah Israel tidak memprioritaskan pemulangan tawanan dengan aman di tengah perang yang sedang berlangsung.

"Beberapa hari setelah serangan itu, (pemimpin Hamas) Yahya Sinwar menawarkan pembebasan anak-anak, wanita, dan orang tua," demikian pernyataan investigasi Ynet.

Namun, "Israel bergegas menyerbu Gaza dan tidak ada yang memikirkan para tawanan", kata seorang sumber keamanan kepada media tersebut, mengkritik pengambilan keputusan awal pemerintah.

"Klaim bahwa kedua tujuan itu dapat dicapai secara bersamaan tidak pernah diterjemahkan ke dalam rencana aktual di medan perang," tambah seorang sumber keamanan senior yang terlibat dalam pembentukan strategi perang.

Militer Israel Manfaatkan Tawanan

Sumber intelijen Israel mengatakan kepada Ynet, militer menggunakan tawanan tersebut sebagai dalih untuk membenarkan perang.

"Dengan bantuan alibi berupa para tawanan, mereka akan meratakan semua bangunan yang masih berdiri," kata sumber tersebut.

Sumber yang sama mengklaim tujuan yang lebih luas yaitu mengusir warga Palestina dari Gaza untuk memberi jalan bagi para pemukim ilegal Israel menduduki wilayah kantong tersebut.

Operasi yang diperluas tersebut telah dikutuk secara luas oleh pemerintah dan organisasi internasional di seluruh dunia, yang telah memperingatkan tentang konsekuensi bencana bagi penduduk sipil.

Mantan Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon juga mengakui bahwa rencana tersebut merupakan "kejahatan perang" - baik Anda menyebutnya "pembersihan etnis, pemindahan, pengusiran".

Menurut Yaalon, militer akan "mengarahkan para prajurit untuk menjadi penjahat perang" dengan melaksanakan rencana tersebut.

Rekomendasi