Partai sayap kanan yang memiliki akar neo-fasisme bernama Brothers of Italy bersama dengan koalisinya memenangkan pemilu Italia. Pemimpin koalisi sayap kanan, Giorgia Meloni akan menjadi perdana menteri (PM) baru dan perempuan pertama Italia.
Kemenangan Meloni tidak disambut baik pemimpin Uni Eropa (UE). Mereka menilai partai Meloni memiliki pandangan skeptis terhadap UE hingga geopolitik Eropa dapat berubah karena kemenangannya.
Dikutip dari laman TIME, Selasa (27/9), hasil perhitungan suara menunjukkan jika koalisi sayap kanan meraih 44 persen suara. Partai Meloni, Brothers of Italy sendiri meraih 26 persen suara. Sedangkan koalisi sayap kiri Italia hanya meraih sekitar 26 persen suara.
Nantikan update berita Pemilu di Liputan6.com
Perhitungan terakhir itu menunjukkan jalan mulus kemenangan Meloni. Meloni pun sudah menyampaikan pidato kemenangan di depan pendukungnya kemarin.
“Jika kami dipanggil untuk memerintah negara ini, kami akan melakukannya untuk semua orang, kami akan melakukannya untuk semua orang Italia dan kami akan melakukannya dengan tujuan menyatukan rakyat (negara ini),” kata Meloni.
“Italia memilih kami. Kami tidak akan mengkhianati (negara) seperti yang tidak pernah kami lakukan,” lanjutnya.
Perubahan besar dimungkinkan terjadi di bawah pemerintahan Meloni, terutama mengenai migran.
Sebelumnya Meloni menyuarakan agar dilakukannya blokade laut guna mencegah kapal migran meninggalkan pantai Afrika Utara. Dia juga mengusulkan agar migran yang ingin masuk ke Italia harus melewati penyaringan.
Bagi Meloni dan pemimpin sayap kanan lainnya di Eropa, adanya pembatasan migran ditujukan untuk menindak kejahatan dan membatasi imigrasi.
Selain itu, pertumbuhan sayap kanan di Eropa juga dimungkinkan terjadi, sebab sebelumnya Meloni mengkritik keputusan UE yang membatalkan bantuan sebesar USD7,2 miliar atau Rp 109 triliun kepada Hungaria.
Kritikan ini menunjukkan dukungan Meloni kepada PM Hungaria, Viktor Orban meski Orban dicerca UE sebagai pemimpin non demokrasi yang memundurkan demokrasi Eropa.
Kemenangannya kemarin disambut baik oleh Hungaria, bersama politisi sayap kanan Prancis, Marine Le Pen, dan pemimpin partai sayap kanan Spanyol Vox, Santiago Abascal di tengah berbagai kritikan.
“Advokasi elektoralnya ke Eropa tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa dia mewakili bahaya bagi koeksistensi konstruktif di Eropa,” jelas wakil presiden Parlemen Eropa, Katharina Barley.
Mereka yang tidak menyukai kemenangan Meloni selalu merujuk hubungan partainya kepada fasisme di Eropa.
“Sayap kanan Italia telah menyumbang fasisme ke sejarah selama beberapa dekade sekarang, dengan jelas mengutuk penindasan demokrasi dan undang-undang anti-Yahudi yang memalukan,” ungkap koalisi Demokrat Italia.
Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan