Delapan Demonstran di Myanmar Tewas Saat Polisi Menembak ke Arah Massa Anti-Kudeta

Korban tewas kembali berjatuhan dalam aksi unjuk rasa massal di berbagai kota dan daerah di Myanmar, menentang kudeta militer.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Delapan Demonstran di Myanmar Tewas Saat Polisi Menembak ke Arah Massa Anti-Kudeta
Polisi Myanmar pukuli pengunjuk rasa antikudeta. ©STR/AFP

Korban tewas kembali berjatuhan di Myanmar, saat aparat menembak ke arah demonstran. Pada Kamis (11/3), delapan orang dilaporkan tewas ketika pasukan keamanan mengeluarkan tembakan ke arah para pengunjuk rasa penentang kudeta. Demikian disampaikan sejumlah saksi mata.

Amnesty International menuding militer mengadopsi taktik perang terhadap para demonstran.

Enam orang tewas di pusat kota Myaing ketika aparat menembak para demonstran. Seorang pria yang ikut berunjuk rasa dan membantu membawa korban ke rumah sakit mengatakan kepada Reuters melalui telepon.

Seorang tenaga kesehatan di sana membenarkan enam kematian ini.

“Kami beraksi secara damai,” kata pria 31 tahun itu, dikutip dari The Straits Times, Jumat (12/3).

“Saya tak bisa percaya mereka melakukannya,” sesalnya.

Satu orang tewas di distrik Dagon Utara di Yangon, kata para saksi mata. Foto yang diunggah di Facebook menunjukkan seorang pria tengkurap di jalan, kepalanya berdarah.

Sementara itu satu kematian dilaporkan di Mandalay.

Amnesty International menuduh tentara menggunakan kekuatan mematikan dalam menghadapi massa pengunjuk rasa dan mengatakan berbagai pembunuhan yang telah didokumentasikan sama dengan eksekusi di luar hukum.

“Ini adalah komandan tanpa penyesalan yang telah terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, mengerahkan pasukan dan metode pembunuhan di tempat terbuka,” jelas Direktur Tanggap Krisis Amnesty International, Joanne Mariner.

Juru bicara junta, Brigjen Zaw Min Tun mengatakan pada konferensi pers, kerusuhan bukanlah situasi yang harus menjadi perhatian komunitas internasional. Dia juga mengatakan Barat membuat asumsi yang tidak benar.

Militer sebelumnya mengatakan mereka bertindak dengan sangat menahan diri dalam menangani apa yang digambarkannya sebagai demonstrasi oleh “pengunjuk rasa huru hara” yang mereka tuduh menyerang polisi dan merusak keamanan dan stabilitas nasional.

Rekomendasi