Peretas angkatan darat Korea Utara mencuri ratusan juta dolar selama 2020 untuk mendanai program nuklir dan misil balistik negaranya. Hal ini tertuang dalam sebuah dokumen laporan rahasia PBB.
Dokumen tersebut menuding rezim Kim Jong-un melakukan "operasi terhadap lembaga keuangan dan lembaga pertukaran mata uang virtual" untuk mendanai persenjataan dan menjaga perekonomian Korea Utara yang merosot agar tetap bertahan.
Dikutip dari CNN, Selasa (16/2), satu negara tak disebutkan namanya yang merupakan anggota PBB mengklaim peretas mencuri aset virtual senilai USD 316,4 juta antara 2019 dan November 2020.
Laporan itu juga menuding Korea Utara "memproduksi bahan fisil, memelihara fasilitas nuklir dan meningkatkan infrastruktur rudal balistiknya" sambil terus "mencari bahan dan teknologi untuk program-program ini dari luar negeri."
Penyelidik PBB mengatakan negara yang tidak disebutkan namanya itu menilai "sangat mungkin" Korea Utara dapat memasang perangkat nuklir ke rudal balistik dari jarak berapa pun, tetapi masih belum jelas apakah rudal itu berhasil masuk kembali ke atmosfer bumi.
Laporan tersebut disusun Panel Ahli PBB untuk Korea Utara, badan yang bertugas memantau penegakan dan efektivitas sanksi yang dikenakan terhadap rezim Kim Jong Un sebagai hukuman atas pengembangan senjata nuklir dan rudal balistiknya.
Rincian laporan tersebut, yang saat ini masih bersifat rahasia, dilihat CNN melalui sumber diplomatik di Dewan Keamanan PBB, yang membagikan bagian dari dokumen tersebut dengan syarat dirahasiakan. Laporan Panel terdiri dari informasi yang diterima dari negara-negara anggota PBB, badan intelijen, media dan mereka yang melarikan diri dari negara itu - bukan Korea Utara sendiri. Laporan ini biasanya dirilis setiap enam bulan, satu di awal musim gugur dan satu lagi di awal musim semi.
Tidak jelas kapan laporan ini akan dirilis. Kebocoran sebelumnya memicu kemarahan China dan Rusia, keduanya anggota Dewan Keamanan PBB, yang menyebabkan kebuntuan dan diplomatik.
Advertisement
Utusan Korea Utara di PBB tidak menanggapi permintaan komentar CNN, tetapi klaim dalam laporan tersebut sejalan dengan rencana yang ditetapkan Kim Jong Un baru-baru ini. Bulan lalu, Kim mengatakan Korea Utara akan bekerja untuk mengembangkan senjata canggih baru dalam program nuklir dan misilnya, seperti senjata nuklir taktis dan hulu ledak canggih yang dirancang untuk menembus sistem pertahanan rudal untuk menghalangi Amerika Serikat.
Sumber pendapatan baru
Panel PBB menemukan, kontrol ketat perbatasan Covid-19 Korea Utara mempengaruhi kemampuan rezim untuk membawa mata uang yang sangat dibutuhkan dari luar negeri. Pyongyang menggunakan skema penghindaran sanksi yang kompleks untuk menjaga ekonominya tetap bertahan dan menghindari sanksi keras PBB.
Batubara secara historis menjadi salah satu ekspor paling penting Korea Utara - laporan Panel 2019 menemukan, Pyongyang mengumpulkan USD 370 juta dengan mengekspor batu bara, tetapi pengiriman sejak Juli 2020 ditangguhkan.
Penyebabnya kemungkinan karena Korea Utara memutuskan hampir semua hubungannya dengan dunia luar pada 2020 untuk mencegah penyebaran virus corona, termasuk memutuskan hampir semua perdagangan dengan Beijing. Hal itu membuat perekonomian Korea Utara berada di ambang kehancuran.
Kerja sama dengan Iran
Laporan itu mengutip beberapa negara yang tidak disebutkan namanya yang mengklaim Korea Utara dan Iran kembali menjalin kerja sama dalam proyek pengembangan rudal jarak jauh, termasuk memperdagangkan bagian penting yang diperlukan untuk mengembangkan senjata ini. Korea Utara berhasil melakukan uji tembak tiga rudal balistik jarak antarbenua (ICBM) pada 2017 dan memamerkan ICBM baru raksasa di acara publik pada Oktober lalu.
Teheran menyangkal bekerja sama dengan Korea Utara dalam teknologi rudal. Laporan tersebut termasuk komentar dari Utusan PBB Iran, yang mengklaim pada Desember bahwa Panel Ahli PBB diberi "informasi palsu dan data palsu yang mungkin telah digunakan dalam penyelidikan dan analisis Panel."