Dampak Wabah Corona, Universitas John Hopkins PHK Pegawai dan Rugi Ratusan Juta Dolar

Universitas John Hopkins yang datanya menjadi rujukan penyebaran dan kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia, menghadapi kondisi kesulitan keuangan akibat dampak ekonomi pandemi. Pihak kampus berencana memotong gaji, meliburkan sementara, hingga memecat sejumlah karyawan demi mengurangi pengeluaran.

Iqbal Fadil
Oleh Iqbal Fadil - Reporter
Dampak Wabah Corona, Universitas John Hopkins PHK Pegawai dan Rugi Ratusan Juta Dolar
Universitas John Hopkins. ©hopkinsmedicine.org

Universitas John Hopkins yang datanya menjadi rujukan penyebaran dan kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia, menghadapi kondisi kesulitan keuangan akibat dampak ekonomi pandemi. Pihak kampus berencana memotong gaji, meliburkan sementara, hingga memecat sejumlah karyawan demi mengurangi pengeluaran.

Dalam sebuah pernyataan tertulis, presiden universitas Ronald Daniels mengatakan, institusi akan menghadapi kehilangan pendapatan lebih dari USD 100 juta pada bulan Juni dan total USD 375 juta kerugian pada Juni 2021 mendatang.

"Sangat disayangkan, pemberhentian sementara dan PHK diperkirakan diperlukan di beberapa unit universitas sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan dari kerugian yang kita alami," tulis Daniels seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (23/4).

Dia menambahkan, keputusan mengenai cuti dan PHK akan dibuat di tingkat divisi dan departemen, termasuk di dalam administrasi universitas. "Setiap upaya akan dilakukan untuk memberikan bantuan transisi bagi karyawan yang terkena dampak selama masa yang sangat sulit ini," ujarnya.

Meski begitu, pihak universitas menjamin, pengurangan ini ini tidak akan memengaruhi program riset dan pelacakan virus corona. "Tidak akan ada efek pada upaya (mengatasi) pandemi kami," kata Jill Rosen, seorang juru bicara universitas mengatakan kepada AP.

Universitas yang didirikan 1876 itu merupakan lembaga swasta terbesar di Maryland dan memiliki lebih dari 47.000 karyawan.

"Lebih dari 1.200 karyawan telah menganggur karena mereka tidak dapat melakukan tugas mereka. Banyak lagi yang bekerja di luar lokasi tetapi secara signifikan mengurangi tingkat produktivitas," tulis Daniels.

Sejak kampus ditutup, universitas mengalami kerugian dari pendapatan biaya kuliah mahasiswa.

"Sejak kami memutuskan untuk mengakhiri kegiatan di kampus kami untuk mahasiswa, sarjana, dan mahasiswa profesional; untuk menangguhkan bagian terbesar dari program penelitian berbasis laboratorium kami, dan untuk menghentikan prosedur medis elektif, universitas telah mengalami kontraksi yang dramatis dan belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Daniels.

Gaji Pimpinan dan Staf Dipotong

Dengan tidak adanya pemasukan dari uang kuliah mahasiswa, universitas terpaksa merogoh dana internal untuk membayar para pemimpin universitas, membekukan gaji untuk staf pengajar dan staf, dan menangguhkan kontribusi pensiun.

Universitas Johns Hopkins juga menghentikan perekrutan untuk posisi staf untuk tahun fiskal berikutnya. Demikian juga akan ada pembatasan perekrutan untuk posisi akademik.

Selain itu, tidak akan ada kenaikan gaji tahunan mulai Juli, dan Daniels dan wakil presiden bidang akademi Sunil Kumar dipotong gaji 20%, di antara upaya penghematan uang lainnya yang akan berdampak pada karyawan dan proyek.

Universitas mengantisipasi kehilangan pendapatan dari rumah sakitnya. "Kehilangan ini berasal dari pembatalan beragam layanan elektif yang dilakukan oleh dokter fakultas kami ketika Sistem Kesehatan Johns Hopkins bergeser sepenuhnya ke arah perawatan pasien Covid-19 yang sakit parah dan berupaya mengurangi risiko bagi tenaga kerja kami dan melindunginya dengan alat pelindung diri, "tulis Daniels.

Menurut WBAL-TV, ada USD 100 juta penurunan pendapatan dari tagihan dokter. Sementara AP melaporkan bahwa Universitas Johns Hopkins bukan satu-satunya universitas yang mengalami kerugian finansial setelah kampus ditutup karena pandemi.

Beberapa perguruan tinggi di Amerika menghadapi kerugian lebih dari USD 100 juta, dan beberapa perguruan tinggi telah mulai merumahkan sementara karyawannya untuk mencegah PHK di kemudian hari. Beberapa sekolah kecil telah ditutup secara permanen.Dampak Pandemi Corona, Universitas John Hopkins PHK dan Rugi Ratusan Juta Dolar

Universitas John Hopkins yang datanya menjadi rujukan penyebaran dan kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia, menghadapi kondisi kesulitan keuangan akibat dampak ekonomi pandemi. Pihak kampus berencana memotong gaji, meliburkan sementara, hingga memecat sejumlah karyawan demi mengurangi pengeluaran.

Dalam sebuah pernyataan tertulis, presiden universitas Ronald Daniels mengatakan, institusi akan menghadapi kehilangan pendapatan lebih dari USD 100 juta pada bulan Juni dan total USD 375 juta kerugian pada Juni 2021 mendatang.

"Sangat disayangkan, pemberhentian sementara dan PHK diperkirakan diperlukan di beberapa unit universitas sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan dari kerugian yang kita alami," tulis Daniels seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (23/4).

Dia menambahkan, keputusan mengenai cuti dan PHK akan dibuat di tingkat divisi dan departemen, termasuk di dalam administrasi universitas. "Setiap upaya akan dilakukan untuk memberikan bantuan transisi bagi karyawan yang terkena dampak selama masa yang sangat sulit ini," ujarnya.

Meski begitu, pihak universitas menjamin, pengurangan ini ini tidak akan memengaruhi program riset dan pelacakan virus corona. "Tidak akan ada efek pada upaya (mengatasi) pandemi kami," kata Jill Rosen, seorang juru bicara universitas mengatakan kepada AP.

Universitas yang didirikan 1876 itu merupakan lembaga swasta terbesar di Maryland dan memiliki lebih dari 47.000 karyawan.

"Lebih dari 1.200 karyawan telah menganggur karena mereka tidak dapat melakukan tugas mereka. Banyak lagi yang bekerja di luar lokasi tetapi secara signifikan mengurangi tingkat produktivitas," tulis Daniels.

Sejak kampus ditutup, universitas mengalami kerugian dari pendapatan biaya kuliah mahasiswa.

"Sejak kami memutuskan untuk mengakhiri kegiatan di kampus kami untuk mahasiswa, sarjana, dan mahasiswa profesional; untuk menangguhkan bagian terbesar dari program penelitian berbasis laboratorium kami, dan untuk menghentikan prosedur medis elektif, universitas telah mengalami kontraksi yang dramatis dan belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Daniels.

Gaji Pimpinan dan Staf Dipotong

Dengan tidak adanya pemasukan dari uang kuliah mahasiswa, universitas terpaksa merogoh dana internal untuk membayar para pemimpin universitas, membekukan gaji untuk staf pengajar dan staf, dan menangguhkan kontribusi pensiun.

Universitas Johns Hopkins juga menghentikan perekrutan untuk posisi staf untuk tahun fiskal berikutnya. Demikian juga akan ada pembatasan perekrutan untuk posisi akademik.

Selain itu, tidak akan ada kenaikan gaji tahunan mulai Juli, dan Daniels dan wakil presiden bidang akademi Sunil Kumar dipotong gaji 20%, di antara upaya penghematan uang lainnya yang akan berdampak pada karyawan dan proyek.

Universitas mengantisipasi kehilangan pendapatan dari rumah sakitnya. "Kehilangan ini berasal dari pembatalan beragam layanan elektif yang dilakukan oleh dokter fakultas kami ketika Sistem Kesehatan Johns Hopkins bergeser sepenuhnya ke arah perawatan pasien Covid-19 yang sakit parah dan berupaya mengurangi risiko bagi tenaga kerja kami dan melindunginya dengan alat pelindung diri, "tulis Daniels.

Menurut WBAL-TV, ada USD 100 juta penurunan pendapatan dari tagihan dokter. Sementara AP melaporkan bahwa Universitas Johns Hopkins bukan satu-satunya universitas yang mengalami kerugian finansial setelah kampus ditutup karena pandemi.

Beberapa perguruan tinggi di Amerika menghadapi kerugian lebih dari USD 100 juta, dan beberapa perguruan tinggi telah mulai merumahkan sementara karyawannya untuk mencegah PHK di kemudian hari. Beberapa sekolah kecil telah ditutup secara permanen.

Rekomendasi