Fakta-fakta Proposal Damai Ala Trump, Rugikan Palestina dan Untungkan Israel

Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan merilis proposal damai di Timur Tengah, salah satunya Palestina dan Israel. Namun pihak Palestina tak setuju dengan proposal damai itu

Fellyanda Suci Agiesta
Oleh Fellyanda Suci Agiesta - Reporter
Fakta-fakta Proposal Damai Ala Trump, Rugikan Palestina dan Untungkan Israel
Pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump. theguardian.com ©2020 Merdeka.com

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bakal merilis proposal damai di Timur Tengah, salah satunya Palestina. Trump mengklaim proposal ini akan menguntungkan Palestina. Namun Palestina tidak setuju dengan isi dari proposal damai ala Trump itu.

"Saya katakan kepada Trump dan PM Israel Netanyahu: Yerusalem tidak untuk dijual, semua hak kami tidak untuk dijual dan tidak untuk ditawar-tawar dan proposal yang Anda buat: konspirasi," kata Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Sejumlah poin dari proposal damai ala Trump merugikan Palestina dan untungkan Israel. Berikut penjelasannya:

Peta Palestina Ala Trump

Presiden AS Donald Trump membuat peta buatan. Trump memetakan sejumlah wilayah Israel dan Palestina. Hasilnya peta buatan ini diunggah di akun Twitternya. Ada tiga unggahan, yakni berbahasa Arab, berbahasa Inggris dan Ibrani. Unggahan peta buatan itu diberi keterangan "Seperti inilah bentuk negara Palestina di masa depan, dengan ibu kota di beberapa bagian Yerusalem Timur".

Dalam bahasa Ibrani, Trump menulis "Saya akan selalu berdiri dengan Negara Israel dan orang-orang Yahudi. Saya sangat mendukung keselamatan dan keamanan mereka dan hak mereka untuk hidup di tanah air bersejarah mereka. Saatnya damai!".

Perbatasan Dikuasai Israel

Dalam peta buatan Presiden Trump, Israel akan mempertahankan 20 persen wilayah dari Tepi Barat dan akan kehilangan sejumlah kecil lahan di Negev dekat perbatasan Gaza-Mesir.

Sedangkan Palestina akan memiliki jalur menuju negaranya di sebagian besar wilayah di Tepi Barat. Meski begitu, Israel tetap mempertahankan kendali atas semua perbatasan.

Yerusalem jadi Ibu Kota Israel

Pada Desember 2017, Presiden Trump meresmikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sejumlah negara Timur Tengah protes dengan keputusan Trump. "Hari ini kita akhirnya mengakui: Yerusalem adalah ibu kota Israel," kata Trump, seperti dilansir harian the New York Times, Kamis (7/12).

Palestina dan Israel sudah konflik sejak 1948. Kini Trump mencoba 'mendamaikan' kedua negara tersebut. Dalam proposal damai, Trump menyebut Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina.

"Ibu kota kedaulatan Negara Palestina berada di bagian Yerusalem Timur yang terletak di semua wilayah timur dan utara, termasuk Kafr Aqab, bagian timur Shuafat dan Abu Dis, dan dapat dinamai Al Quds atau nama lain yang ditentukan oleh Negara Palestina".

Meski begitu, Yerusalem tetap menjadi ibukota Israel. "Yerusalem harus tetap menjadi ibukota berdaulat Negara Israel, dan tidak terbagi".

Pengungsi Palestina

Sejumlah pengungsi Palestina dan keturunan mereka akan diizinkan masuk ke negara Palestina. Namun para pengungsi tidak boleh memasuki wilayah Israel.

Kawasan Triangle

Dalam proposal damai itu, kemungkinan Israel bisa menukar kawasan yang dikenal sebagai "Triangle", yakni Kafr Kara, Arara, Baka al-Gharbiya, Umm el-Fahm ke negara Palestina. Menurut proposal itu, "Visi tersebut merenungkan kemungkinan, dengan persetujuan kedua pihak, bahwa perbatasan Israel bisa digambar ulang sedemikian rupa sehingga Kawasan Triangle menjadi bagian dari Negara Palestina".

Rekomendasi