Sebuah video menampilkan model perempuan mengenakan rok mini dan atasan pendek di tempat umum memicu perdebatan publik Arab Saudi. Dalam video, model yang disebut sebagai Khulood itu tampak berjalan di sekitar benteng bersejarah di Ushayqir yang terletak 155 kilometer jauhnya dari ibu kota Saudi, Riyadh, Provinsi Najd.
Najd sendiri merupakan salah satu daerah paling konservatif di Saudi. Pasalnya, di tempat itulah pendiri Wahhabisme atau Islam Sunni lahir pada abad ke-18. Ajaran tersebut dipraktikkan keluarga kerajaan Saudi hingga sekarang.
Para netizen yang menyaksikan video itu lewat media sosial terbagi dalam dua kubu, satu mengecam dan yang satunya mendukung. Mereka yang mengecam meminta agar pemerintah menghukum gadis tersebut karena telah menyalahi aturan Saudi.
"Kita harus menghormati hukum berlaku di setiap negara. Di Prancis, niqab itu dilarang dan wanita yang mengenakannya dikenai denda. Di Saudi, mengenakan abaya atau pakaian tertutup itu merupakan bagian dari hukum kerajaan," komentar seorang netizen, seperti dilansir dari laman BBC, Selasa (18/7).
Sementara itu, mereka yang mendukung mengatakan bahwa gadis tersebut berhak mengenakan apapun yang dia inginkan. Mereka berdalih, banyak orang asing berkunjung ke Saudi seperti, istri presiden Amerika Serikat Melania Trump dan putrinya Ivanka Trump tidak mengenakan pakaian tertutup dan jilbab.
"Jika dia adalah orang asing, maka mereka akan memuji kecantikan dan keindahan tubuhnya. Tetapi karena dia orang Arab Saudi mereka menyerukan agar dia ditangkap," komentar lainnya.
Sementara itu, surat kabar lokal melaporkan bahwa pejabat Ushayqar telah meminta gubernur dan pihak kepolisian untuk mengambil tindakan terhadap gadis tersebut. Saat ini polisi sedang dalam tahap perencanaan investigasi.