Pria dengan nama samaran Orlando berhasil selamat dalam insiden berdarah di kelab malam Pulse di Orlando, Amerika Serikat pada Minggu dini hari. Pria 52 tahun itu mengaku berpura-pura mati saat si pelaku menembakkan pistol ke arah orang-orang yang ada di toilet.
"Orang-orang berteriak, memohon untuk dibiarkan hidup," seru Orlando melalui telepon yang dilaporkan koran New York Times, Rabu (15/6).
Setelah melihat korban berjatuhan di toilet, Omar Mateen, si pelaku, kemudian meninggalkan ruang kecil tersebut dan kembali menembaki pengunjung di bar.
"Dia keluar dan kembali menembak lagi di luar," ujarnya.
Selama tiga jam Orlando dan teman perempuannya pura-pura tewas hingga akhirnya sang pelaku dilumpuhkan kepolisian Orlando. Setidaknya 50 orang tewas dan 53 lainnya mengalami luka-luka akibat hal tersebut.
Orlando sendiri mengaku dirinya mendengar si pelaku mengancam para korban untuk tidak mengetik pesan kepada siapapun. Tetapi Mateen mengambil ponsel mereka, menelepon 911 dan mengatakan dia setia kepada kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), serta mengatakan Amerika untuk berhenti melakukan serangan ke Suriah.
"Dia juga mengancam akan membuat lebih banyak orang yang mati jika polisi bergerak," lanjut Orlando.
Pria ini juga menceritakan momen menegangkan ketika Mateen di kamar mandi dan mengisi kembali amunisinya serta menggunakan pengering tangan. Di saat itu lah Orlando melakukan permainan pura-pura mati.
"Dia mengecek tubuh yang sudah tak bernyawa di sekitar dia, dan saya berusaha untuk pura-pura mati. Saya merasakan ada yang menendang saya, dan saya yakin itu si pelaku, dia mengecek apakah saya sudah tewas atau belum," tuturnya.
Orlando juga mengucapkan turut berduka kepada keluarga dan kerabat korban penembakan tersebut.
Penembakan di kelab gay Pulse yang terjadi pada Minggu dini hari tersebut menewaskan setidaknya 50 orang. Korban tewas kebanyakan dari Puerto Rico karena memang kebetulan sedang ada acara khusus.