Pelaku penembakan Orlando Omar Mateen (29) rupanya menyimpan rahasia mencengangkan. Pria keturunan Afghanistan ini dari penelusuran polisi berulang kali menggunakan aplikasi kencan gay sekaligus mendatangi klub LGBT Pulse. Polisi belum tahu apakah kunjungan rutin sang pelaku ke klub gay dalam rangka memetakan rencana serangan atau ada alasan lain.
Salah satu saksi mata, Kevin West, memastikan pelaku menggunakan aplikasi kencan online untuk gay, bernama Jack'd.
"Pelaku pernah menulis pesan untuk saya melalui aplikasi kencan dan ngobrol online gay, Jack'd. Sudah hampir setahun kami berhubungan lewat aplikasi itu," kata West yang dilansir dari Los Angeles Times, Selasa (14/6).
Meski demikian, West yang merupakan pelanggan tetap klub malam Pulse mengaku belum pernah bertemu Mateen, hingga insiden Minggu dini hari terjadi.
Kala insiden terjadi, West tengah menurunkan seorang temannya ke klub itu. Dia kemudian melihat Mateen, yang kala itu hanya dia tahu dari wajahnya, mengenakan sebuah penutup kepala gelap dan membawa sebuah ponsel hitam pada pukul 1 dini hari, sejam sebelum penembakan terjadi.
"Dia berjalan langsung setelah saya. Saya menyapanya, 'Hey,' dan dia menjawab kata yang sama," ujar West.
Setidaknya empat pelanggan Pulse, mengaku pernah melihat Mateen sebelumnya.
"Terkadang dia datang dan duduk di pojok sembari minum, dan beberapa waktu dia pernah sangat mabuk dan berteriak seakan mengajak perang," kata seorang saksi mata lainnya, Ty Smith yang biasa disapa Aries.
Dia mengaku melihat si pelaku puluhan kali di klub malam itu.
"Kami tidak benar-benar berbincang dengan dia, tapi saya ingat dia sering bercerita mengenai ayahnya," lanjut Smith.
"Dia juga mengatakan kepada kami memiliki istri dan anak," sambungnya.
Begitu foto Mateen tersebar, West bergegas ke kantor polisi terdekat. Kepada anggota Biro Investigasi Federal (FBI) di sana, dia menunjukkan foto Mateen yang ada di layar komputer.
"Itu dia," ujar West sembari memperlihatkan teleponnya yang membuka aplikasi Jack'd.
Menurut FBI, pelaku sering mendatangi tempat itu untuk 'melihat suasana.'
Mateen tewas setelah nyaris tiga jam menyandera pengunjung Pulse, serta menembaki sebanyak mungkin orang. Dia dilumpuhkan oleh tim SWAT Kepolisian Orlando. Motifnya menyerang Pulse diduga terkait terorisme, namun masih ditelusuri oleh FBI.
Insiden berdarah di klub gay Orlando, Pulse, menewaskan setidaknya 50 orang dan melukai 53 lainnya. Tak semuanya yang tewas merupakan kaum LGBT. Separuh korban tewas adalah warga AS keturunan Puerto Rico, karena sedang ada acara khusus malam nahas itu.
Tidak ada warga Indonesia menjadi korban, seperti diungkapkan Kementerian Luar Negeri Indonesia.