Pemilu bangkitkan harapan baru warga Myanmar

Masyarakat miskin dan Muslim berharap yang terbaik pada pemerintah yang baru.

Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Pemilu bangkitkan harapan baru warga Myanmar
Pemilu Myanmar. ©2015 Merdeka.com

Setelah 25 tahun bergulat dalam ketidakadilan, hari ini, Minggu (8/11) merupakan salah satu hari bersejarah bagi masyarakat Myanmar. Pemilihan umum yang bebas dan adil digelar pertama kali setelah sekian lama ditindas mereka yang haus akan kekuasaan.

Lebih dari 30 juta pemilih pagi ini memadati tempat pemungutan suara di Myanmar. Masing-masing pemilih mencoblos satu dari 6.000 kandidat yang berasal dari 93 partai politik.

Warga baik tua maupun muda, berbondong-bondong menyerahkan hak suara mereka demi Myanmar yang lebih baik. Hal ini seperti diungkapkan seorang petani Kyin Inn (57), yang menderita lantaran sawahnya habis dilalap banjir.

Akibat pemerintahan yang diktator dan rakus, rakyat miskin seperti Kyin Inn harus ikut merasakan pedihnya berutang demi sesuap nasi. Baginya, bantuan pemerintah di daerah terpencil cenderung tak terjangkau.

"Sebagai petani kecil, saya tidak bisa banyak membantu, namun saya menyarankan (mereka yang terdampak banjir) untuk menghubungi organisasi atau donatur lokal. Bantuan pemerintah tidak selalu dapat sampai ke semua tempat, terutama daerah pedesaan yang jauh dan sulit diakses," tutur Ohm Thwin, petani beruntung yang panennya tak sampai rusak dihajar banjir.

Para petani ini berharap suara yang mereka berikan dalam pemilihan umum hari ini di Myanmar dapat mengubah nasib mereka. Pemenang pemilu nanti, siapa pun mereka, diharapkan bisa mendengarkan keluhan para petani, termasuk meningkatkan infrastruktur penunjang kerja mereka, seperti jalanan, transportasi, kendaraan dan listrik.

Tak cuma petani, warga Muslim Myanmar pun mengharapkan hal serupa. Pemerintahan yang lebih baik tanpa

membeda-bedakan agama.

Tak semua Muslim Myanmar dapat memberikan hak pilih mereka. Muslim Myanmar di Rakhine contohnya, sama sekali tak mendapat hak pilih lantaran mereka tak dianggap sebagai warga Myanmar.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Walaupun begitu, Channel News Asia melaporkan mereka turut berharap pemerintah baru Myanmar dapat membawa negeri Burma itu lebih baik lagi. Mereka juga berharap status mereka bisa lebih jelas dalam pemerintahan kali ini.

Menurut catatan Reuters, tidak satu pun warga Muslim yang menjadi kandidat dari NLD untuk wilayah manapun.

"Kami memiliki sejumlah kandidat Muslim yang berkualitas, tapi kami tidak dapat mengajukan mereka karena berbagai alasan politik. Jika kami mengajukan kandidat Muslim, Ma Ba Tha akan memberikan stereotip kepada kami, dan kami harus menghindari itu," kata Win Thein, pejabat parlemen senior Myanmar, dikutip dari Reuters (19/10).

Ada pun simbol demokrasi Myanmar yaitu Aung San Suu Kyi. Tokoh oposisi pemimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) ini dikenal sebagai penentang rezim pemerintahan junta militer dan tokoh yang selalu mengupayakan demokrasi di Myanmar.

Suu Kyi lahir dari pasangan Jenderal Aung San, tokoh yang dinilai luas

berjasa dalam mengupayakan kemerdekaan Myanmar dari Inggris, dan Khin Kyi, salah satu figur politisi terkenal di Myanmar pada 19 Juni 1945 di Rangoon (Yangon).

Atas upayanya menyerukan demokrasi di Myanmar, Suu Kyi dianugerahi penghargaan Nobel Kemanusiaan pada 1991, meski berada dalam tahanan rumah lantaran junta militer terancam akan kehadirannya.

Dari prediksi yang beredar luas di masyarakat, Partai pimpinan Aung San Suu Kyi yang akan menang. "Kepopuleran Suu Kyi akan menjadi faktor penentu dalam pemilu nanti," ujar Christian Lewis, pengamat Asia Tenggara dari Eurasia Group.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dengan pemilu kali ini, masyarakat dunia berharap Myanmar bebas dari pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Terutama yang terjadi pada masyarakat Rohingya.

Masyarakat Rohingya sendiri adalah orang-orang yang 'terbuang' dan tinggal di wilayah Rakhine. Mereka sudah tinggal berabad-abad di Myanmar.

Disebut-sebut nenek moyang masyarakat Rohingya merupakan keturunan Bangladesh yang kabur dari negaranya dan tinggal di wilayah Rakhine, Myanmar.

Rekomendasi