Musik revolusi Bob Marley

Dia menjadi ancaman penguasa pada zamannya.

Ardini Maharani
Oleh Ardini Maharani - Reporter
Musik revolusi Bob Marley
Bob Marley. ©2012 Merdeka.com

Dia legenda musik jenis reggae tersohor sejagat dan hingga kini namanya masih bertabuh macam genderang yang tak ingin berhenti. Bahkan anak-anak remaja masa kini pun masih mendengarkan musiknya. Dia, Bob Marley.

Marley bernama asli Robert Nesta Marley. Dia lahir di Jamaika pada 6 Februari 1945 dan meninggal pada usia sangat muda yakni 35 tahun lantaran serangan jantung. Namun hingga kini penyebab tiadanya Bob Marley masih menjadi bahan perbincangan. Ada yang menudingnya tewas sebab over dosis ganja memang dicandui olehnya.

Marley bagi penggemarnya bukan hanya seorang yang santai dan hidup tanpa arah serta pecandu mariyuana, khususnya di Jamaika dia seorang pahlawan dan namanya terukir harum mewakili kepentingan masyarakat yang terombang-ambing oleh janji palsu pejabat dan politisi Jamaika. Dia menyampaikan keresahan-keresahan warga lewat pelbagai lagunya.

Masih terbayang dalam ingatan konser Senyum Jamaika digelarnya pada 1976. Saat itu Jamaika tengah dilanda konflik politik di mana dua partai besar yakni Partai Buruh Jamaika (JLP) dan Partai Rakyat Nasional (PNP) bersitegang, tragisnya konser Senyum Jamaika dituding sebagai panggung kampanye oleh dua partai itu. Selentingan mengatakan, Marley menjadi target pembunuhan dari simpatisan kedua kubu, seperti dilansir dari nrmarley.com (24/7/2007).

Sehari sebelum konser digelar rumah sekaligus markas Marley dan bandnya, The Wailers, dihujani peluru para anggota geng kedua partai itu. Istri Marley, Rita, terkena tembakan di kepala, sementara manajer Marley, Don taylor tertembak di bagian paha. 

Marley sendiri tak luput dari terjangan timah panas. Dua peluru bersarang di lengan kiri dan dadanya namun mengejutkan dia masih hidup. Meski Marley tak mengatakan apapun serta tak menuding siapa pun dalam perkara ini, namun peristiwa itu membuktikan Marley dan karyanya menjadi sebuah ancaman bagi penguasa.

Kisah penembakan ini dituangkan Marley dalam lagunya berjudul Ambush in The Night. Di setiap kalimat syairnya Marley menyindir mereka yang berperang demi kekuasaan hingga mengucilkan harga diri.  

Rekomendasi