Polisi di Kamerun Tewas Dikeroyok Massa Setelah Tembak Bocah Empat Tahun

Minggu, 17 Oktober 2021 15:46 Reporter : Merdeka
Polisi di Kamerun Tewas Dikeroyok Massa Setelah Tembak Bocah Empat Tahun Massa melakukan protes setelah seorang polisi Kamerun menembak bocah 4 tahun. ©Twitter/France 24

Merdeka.com - Seorang bocah perempuan berusia empat tahun tewas di Buea, barat daya Kamerun setelah terkena peluru seorang petugas polisi pada Kamis (14/10). Petugas polisi tersebut melepaskan tembakan ke kendaraan yang gagal berhenti di pos pemeriksaan polisi.

Pos pemeriksaan merupakan pemandangan umum di wilayah tersebut, yang menjadi titik panas ketegangan antara separatis anglophone dan pasukan pemerintah berbahasa Prancis. Protes meletus setelah insiden itu dan massa mengeroyok anggota polisi tersebut sampai tewas.

Video yang tersebar di media sosial menunjukkan kerumunan orang berbaris di jalan-jalan Buea, meneriakkan kemarahan. Di baris depan kerumunan, seorang pria menggendong jasad Caro Louise Ndialle, yang ditembak di kepala oleh seorang polisi militer, seorang perwira polisi, di sebuah pos pemeriksaan di sepanjang jalan itu.

Menurut paman bocah tersebut kepada France 24 Observers, Caro Louise Ndialle adalah salah satu dari tiga anak di dalam mobil dalam perjalanan ke sekolah, bersama ibu dan seorang sopir. Ketika diperintahkan untuk berhenti di pos pemeriksaan dan memberikan dokumen, pengemudi turun dari mobil dan mencoba bernegosiasi dengan petugas, mengatakan anak-anak terlambat ke sekolah. Ketika dia kembali ke mobil, salah satu petugas melepaskan tembakan.

Matthew (bukan nama sebenarnya) adalah seorang jurnalis yang tinggal di Buea yang bergegas ke TKP setelah mendengar tentang kematian anak itu. Dia berbicara dengan syarat anonim.
“Ketika saya sampai di tempat kejadian, saya melihat kendaraan di mana gadis kecil itu ditembak. Saya melihat polisi itu. Dia sudah tewas, jadi dia terbaring di selokan dengan batu di sekujur tubuhnya. Kerumunan segera datang untuk membunuhnya, karena tempat di mana (insiden) ini terjadi sangat sibuk – ada banyak konstruksi dan lapangan sepak bola, di pagi hari selalu ada banyak orang di sana. Ketika mereka mengetahui seorang anak telah terbunuh, mereka datang dari setiap sudut ke arah petugas. Mereka memukulinya dengan batu dan mengambil senjatanya,” jelasnya, dikutip dari laman France 24, Minggu (17/10).

Massa yang mengeroyok polisi itu mengambil jasad bocah tersebut dan berparade di jalan-jalan membawa tubuh mungil tersebut. Massa menjadi sangat geram setelah membunuh petugas dan mereka ingin membawa mayat itu ke kantor gubernur. Mereka mulai memblokir jalan dan mengganggu lalu lintas di sepanjang jalan. Setiap orang memegang ranting hijau, atau sesuatu yang hijau, karena hijau menandakan kedamaian.“

Massa membawa jenazah anak itu ke kantor gubernur, yang berusaha menenangkan mereka dengan menjanjikan hukuman atas kematiannya.

Paman bocah malang itu, Witty Mistrel, melakukan perjalanan ke Buea mengetahui kabar kematian keponakannya. Dia bertemu dengan orang banyak di jalan mencoba untuk membawa pulang jenazahnya.

“Saya pergi untuk berbicara dengan (massa) tetapi tidak ada yang mendengarkan. Semua orang hanya berteriak dan protes. Saya mengikuti mereka sampai mereka berhenti dan kemudian saya pergi untuk berbicara dengan orang yang membawa anak itu. Saya meminta untuk mengambil anak itu. Kami ingin mengambil jasadnya sebelum mereka melanjutkan kerusuhan mereka. Tapi semua orang berkata 'Tidak, kita tidak bisa membiarkan anak itu pergi'. Kami mengikuti mereka sepanjang hari, memohon untuk mengambil anak itu, tetapi gagal. Akhirnya, kami memberi tahu mereka kami perlu membawa anak itu ke gereja dan mereka bersedia.”

“Orang-orang marah dan mereka merasa ini adalah kesempatan bagi mereka untuk menunjukkan kemarahan mereka kepada dunia. Itu sebabnya semua orang berada di jalanan. Kami beruntung tidak ada pertempuran, tidak ada kehancuran. Semua orang hanya keluar untuk berdemonstrasi dan menangis untuk anak kami.”

2 dari 2 halaman

Kemarahan yang terpendam

Buea adalah pusat ketegangan dalam “krisis Anglophone” Kamerun. Selama hampir lima tahun, separatis berbahasa Inggris, mengklaim terpinggirkan oleh mayoritas berbahasa Prancis di negara itu, telah berjuang untuk menciptakan negara yang memisahkan diri yang disebut Ambazonia.

Penutur bahasa Inggris membentuk sekitar seperlima dari populasi Kamerun yang berjumlah 22 juta orang. Lebih dari 3.000 orang tewas dalam konflik dan 1 juta orang mengungsi, dan separatis dan negara Kamerun dituduh melakukan kekejaman.

Menurut Matthew, insiden ini meningkat karena krisis yang sedang berlangsung di Kamerun.

“Dalam segala hal, terkait dengan krisis Anglophone, karena itulah mengapa petugas gendarmerie, polisi, dan tentara ada di mana-mana di wilayah ini. Pos-pos pemeriksaan ini ada di sini karena krisis. Sejak krisis dimulai, jumlah pos pemeriksaan meningkat, mereka dapat memutuskan di mana pun mereka ingin menghentikan mobil dan memeriksa dokumen. Anda dapat keluar dan kurang dari satu kilometer dari rumah, mereka memeriksa dokumen Anda. Mereka memeriksa dokumen Anda dan mencoba mendapatkan uang sebagai suap, lima ratus atau seribu franc (sekitar Rp 12.000 – Rp 14.000), korupsi adalah tantangan besar. Kemudian beberapa langkah di jalan, mereka menghentikan Anda lagi untuk memeriksa dokumen yang sama. Ini membuat frustrasi. Dan jika Anda tidak mematuhinya, mereka dapat menyita mobil Anda, atau mereka akan mengikuti Anda dengan sepeda atau van mereka. Tapi mereka biasanya tidak melepaskan tembakan,” paparnya.

Matthew mengatakan, kemarahan dan frustrasi masyarakat dipicu krisis. Menurutnya aparat kerap memiliki catatan buruk dan melecehkan masyarakat. Dengan kematian bocah tersebut, masyarakat memanfaatkannya untuk melampiaskan rasa frustrai dan kemarahan mereka yang telah menumpuk sejak lama.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Pertahanan menyebut tindakan petugas itu sebagai "reaksi yang tidak pantas, tidak sesuai dengan keadaan dan jelas tidak proporsional dengan perilaku pengemudi yang tidak sopan". Investigasi telah dibuka atas kematian gadis dan petugas tersebut.

Reporter Magang: Ramel Maulynda Rachma

[pan]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini